Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Setelah kupikirkan dan kurenungkan dengan sungguh-sungguh, aku akhirnya menyadari bahwa aku tidak bisa bersama Orang Baru. Ada ketidaknyamanan yang halus tetapi terus-menerus mengetuk hatiku. Tidak ada damai di dalamnya, dan aku merasa bersalah terhadap Abang Sayang. Karena itu, aku memilih untuk tetap setia.
Namun, setelah memilih jalan ini, rasa khawatirku justru semakin terasa. Sampai hari ini aku masih bergumul dengan ketakutan tentang kecukupan finansial. Aku hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran: takut tidak cukup, takut kehilangan, bahkan takut Abang pergi terlebih dahulu mengingat perbedaan usia kami yang cukup jauh.
Dalam pergumulan itu, ayat dari 1 Yohanes 4:18 kembali terngiang:
“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”
Aku merenungkan kembali apa itu kasih yang sempurna. Dalam doaku, aku teringat bahwa kasih yang sempurna itu bukan berasal dari diriku—melainkan dari Allah sendiri. Kasih yang sempurna adalah kasih yang memperkenankan kita menyapa Dia sebagai Bapa. Kasih yang sempurna adalah ketika Kristus mati untuk menebus dosa manusia. Perenungan ini datang saat aku mendengarkan lagu Bapa Yang Kekal, yang mengingatkanku bahwa kasih-Nya tidak berubah sekalipun hatiku goyah.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri:
“Apakah aku sudah menerima kasih yang sempurna itu?”
Aku percaya, ketika aku berani berseru memanggil Allah sebagai Bapa, di situlah kasih-Nya sudah lebih dulu bekerja. Penebusan itu nyata. Penerimaan itu penuh. Namun, jujur kuakui: saat ini aku seperti mati rasa. Aku tahu kebenarannya, tetapi jiwaku masih berjuang mengecapnya.
Meski begitu, aku percaya kasih Tuhan tidak pernah ditentukan oleh apa yang kurasakan hari ini. Ia tetap bekerja dalam diam. Dan mungkin, justru dalam masa mati rasa inilah, Tuhan sedang membentukku—perlahan, lembut, dan pasti.
Pada akhirnya, aku ingin belajar berjalan perlahan bersama Tuhan. Menerima rasa takutku apa adanya, sambil percaya bahwa kasih-Nya jauh lebih besar daripada seluruh ketidakpastianku. Aku tidak tahu masa depan, tetapi aku tahu siapa yang menggandengku di dalamnya. Dan untuk hari ini, itu sudah cukup.
Amin.
In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.
After much thought and sincere reflection, I finally realized that I could not be with the New Person. There was a subtle, persistent uneasiness in my heart. There was no peace in it, and I felt guilty toward Abang Sayang. Because of that, I chose to remain faithful.
However, after making that decision, my worries only grew stronger. Until today, I am still struggling with fears about financial security. I live in the shadow of anxiety: afraid of not having enough, afraid of losing him, even afraid that Abang might leave this world before me because of our 14-year age difference.
In the midst of these struggles, the verse from 1 John 4:18 echoes in my mind:
“There is no fear in love; but perfect love casts out fear, for fear has to do with punishment, and whoever fears has not been perfected in love.”
I began to reflect again on what perfect love truly is. In my prayers, I remembered that perfect love does not come from within me—it comes from God Himself. Perfect love is what allows us to call Him Father. Perfect love is Christ who died to redeem the sins of humanity. This reflection came while I was listening to the song Bapa Yang Kekal, which reminded me that His love does not change, even when my heart wavers.
Then I asked myself:
“Have I truly received that perfect love?”
I believe that when I dare to cry out and call God “Father,” His love is already at work within me. Redemption is real. His acceptance is full. Yet I must honestly admit: right now, I feel numb. I know the truth, but my soul is still struggling to feel it.
Even so, I trust that God’s love is never determined by what I feel today. His love continues to work in the quiet. And perhaps, in this season of numbness, God is shaping me—slowly, gently, and surely.
In the end, I want to learn to walk slowly with God. To accept my fears as they are, while trusting that His love is far greater than all my uncertainties. I do not know what the future holds, but I know who is holding my hand in it. And for today, that is enough.
Amen.