Minggu, 06 September 2026

Ilahi (the Divine)

Tatkala Ilahi mengenalkanku pada semesta

Tingginya pohon dalam hutan 

Amukan petir menyambar relung

Deburan ombak memecah karang

Kencangnya angin merobek sukma

Tergantung bintang dan bulan menemani sepinya malam

Terselip dalam rendah 

Aku sangatlah kecil 


Bandung, 26 April 2018


When the Divine Introduced Me to the Universe

The towering trees within the forest,

The thunder striking the depths,

The crashing waves breaking against the rocks,

The fierce wind tearing through the soul,

The stars and moon hanging above,
keeping company with the solitude of the night.

Amidst it all, in my smallness,

I realize how very small I am.

Bandung, April 26, 2018

Aku Masih Takut, Aku Masih Berdoa, Tetapi Aku Memilih Percaya (I’m Still Afraid, I’m Still Praying, But I Choose to Trust)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Halo, teman-teman.

Semoga artikel ini menemukan kalian dalam keadaan baik.

Apakah teman-teman pernah merasa sedih karena doa yang kita panjatkan seolah-olah tidak didengarkan?

Aku juga pernah merasakan hal itu.

Setiap hari, aku selalu berdoa agar mama, bapak, abang sayang, dan adikku dilindungi dari sakit penyakit.

Puji Tuhan, mama dan adikku sehat. Bapak juga masih dalam kondisi yang terkontrol, meskipun beliau memiliki pembengkakan jantung dan kadar kreatinin yang tinggi.

Namun, beberapa waktu lalu, Abang Sayang terkena Bell's palsy. Sudah sekitar seminggu Abang harus beristirahat di rumah. Mendengar kabar itu, aku lemas. Aku khawatir. Aku takut. Aku sedih dan bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak mengabulkan doaku?

Awalnya, aku merasa sedih karena aku percaya Tuhan telah berjanji memberikan rancangan damai sejahtera. Lalu aku berpikir, kalau Abang sakit seperti ini, di mana damai sejahtera itu?

Aku tidak tahu kapan Abang akan sembuh. Katanya, Bell's palsy dapat membutuhkan waktu beberapa minggu, bahkan dalam beberapa kasus bisa sampai berbulan-bulan. Aku mulai memikirkan banyak hal. Kalau sampai dua bulan Abang tidak bisa bekerja, bagaimana kalau dia kehilangan pekerjaannya?

Aku juga merasa tidak berdaya. Aku belum bekerja dan tidak punya banyak uang, sehingga aku tidak bisa banyak membantu biaya pengobatannya dan fisioterapinya. Kami juga menjalani hubungan jarak jauh, Rangkasbitung–Cikarang. Aku tidak bisa mendampinginya secara langsung. Aku takut Abang merasa sendirian dalam menghadapi penyakitnya.

Namun, setelah Abang pergi ke dokter, aku bersyukur karena ternyata kondisinya tidak terlalu parah. Dokter meminta Abang untuk tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat dan beristirahat.

Aku juga bersyukur karena Tuhan masih memelihara kami. Abang mengalami Bell's palsy, bukan stroke, kanker, gagal ginjal, atau penyakit berat lainnya yang selama ini sempat menjadi ketakutanku. Tuhan juga menyediakan biaya untuk pengobatannya.

Sebelumnya, aku berpikir bahwa kalau aku sudah berdoa setiap hari supaya keluargaku dilindungi dari sakit penyakit, maka seharusnya mereka tidak sakit.

Tetapi melalui sakitnya Abang, aku belajar bahwa perlindungan Tuhan tidak selalu berarti kita tidak akan mengalami penderitaan.

Aku mulai menyadari bahwa Tuhan yang baik bukan berarti Tuhan selalu memberikan apa yang aku minta. Terkadang, kebaikan Tuhan tetap ada bahkan ketika jawaban-Nya tidak seperti yang kuharapkan.

Aku belajar menyerahkan Abang ke dalam tangan Tuhan.

Aku juga mulai belajar bahwa damai sejahtera tidak selalu berarti tidak adanya masalah. Damai sejahtera juga bisa berarti memiliki Tuhan ketika masalah itu datang.

Aku masih berdoa supaya Abang sembuh. Aku masih berdoa supaya pekerjaannya tetap ada. Aku masih berharap Tuhan memberikan kesembuhan secepatnya.

Tetapi sekarang aku belajar bahwa imanku tidak boleh bergantung pada apakah Tuhan menjawab doaku sesuai dengan keinginanku atau tidak.

Aku mau belajar percaya bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika aku belum mengerti jalan-Nya.

Aku tidak tahu kapan Abang akan sembuh. Aku tidak tahu bagaimana keadaan pekerjaannya nanti. Tetapi aku tahu satu hal: aku tidak berjalan sendirian, dan Abang juga tidak berjalan sendirian.

Aku mau menyerahkan Abang ke dalam tangan Tuhan dan terus mendampinginya, bahkan dari jauh.

Aku masih takut. Aku masih berdoa. Aku belum tahu jawabannya.

Tetapi aku memilih percaya.


In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Hello, friends.

I hope this article finds you well.

Have you ever felt sad because it seemed like your prayers were not being heard?

I have felt that way too.

Every day, I pray that my mother, father, my beloved Abang, and my younger sibling will be protected from sickness and disease.

Praise God, my mother and my younger sibling are healthy. My father is also in a stable condition, although he has an enlarged heart and high creatinine levels.

However, a little while ago, my beloved Abang was diagnosed with Bell's palsy. He has been resting at home for about a week now. When I heard the news, I felt weak. I was worried. I was afraid. I was sad, and I wondered, why didn't God answer my prayer?

At first, I felt sad because I believe that God has promised to give us plans for peace and hope. Then I wondered, if Abang is sick like this, where is that peace?

I don't know when Abang will recover. I heard that Bell's palsy can take several weeks to recover from, and in some cases, it can take several months. I started thinking about many things. If Abang cannot work for two months, what if he loses his job?

I also felt powerless. I am currently unemployed and don't have much money, so I cannot do much to help with his medical and physiotherapy expenses. We are also in a long-distance relationship, living in Rangkasbitung and Cikarang. I cannot be there physically to accompany him. I was afraid that Abang would feel alone while facing his illness.

However, after Abang went to the doctor, I was grateful to learn that his condition was not too severe. The doctor advised him to avoid strenuous activities and get plenty of rest.

I was also grateful because God was still taking care of us. Abang had Bell's palsy—not a stroke, cancer, kidney failure, or another serious illness that I had feared. God also provided for his medical expenses.

Before this happened, I thought that if I prayed every day for my family to be protected from sickness, then they should not get sick.

But through Abang's illness, I am learning that God's protection does not always mean that we will never experience suffering.

I am beginning to understand that a good God does not necessarily mean that God will always give me what I ask for. Sometimes, God's goodness remains present even when His answer is not what I hoped for.

I am learning to place Abang in God's hands.

I am also learning that peace does not always mean the absence of problems. Sometimes, peace means having God with us when the problems come.

I am still praying for Abang to recover. I am still praying that he will keep his job. I am still hoping that God will heal him as soon as possible.

But now I am learning that my faith cannot depend on whether God answers my prayers according to what I want.

I want to learn to trust that God is still good, even when I do not understand His ways.

I don't know when Abang will recover. I don't know what will happen to his job. But I know one thing: I am not walking through this alone, and neither is Abang.

I want to place Abang in God's hands and continue to accompany him, even from afar.

I am still afraid. I am still praying. I still don't know the answer.

But I choose to trust.



Minggu, 16 Agustus 2026

Ketika Tuhan Menjawab Doaku dan Menjaga Orang yang Kukasihi (When God Answered My Prayer and Kept My Loved One Safe)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Dua minggu yang lalu, Abang Sayang mengabariku bahwa dia akan touring ke Bogor bersama klub motornya dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia pada tanggal 16–17 Agustus 2026.

Abang mengatakan bahwa mereka akan berangkat pada pukul 11 malam tanggal 16 Agustus 2026. Kemudian, pada tanggal 17 Agustus 2026, mereka akan mengikuti upacara di Bogor.

Aku tidak melarang Abang untuk pergi. Aku hanya berkata kepadanya, “Jangan ngebut-ngebut.”

Namun, Abang menjawab, “Ya, Abang lihat teman-teman Abang. Kalau mereka pada ngebut, ya Abang ngebut. Nanti kalau lama, Abang ketinggalan.”

Mendengar jawaban itu, aku langsung merasa takut.

Selama dua minggu berikutnya, aku merasa cemas. Aku takut Abang mengalami kecelakaan karena ngebut di perjalanan. Karena itu, aku membawa kekhawatiranku dalam doa kepada Tuhan.

Aku berdoa,

“ Tuhan, gagalkanlah rencana Abang ke Bogor. Kalau doa sederhana ini saja tidak dikabulkan, bagaimana aku dapat percaya bahwa doa-doa besarku akan Engkau kabulkan?”

Aku terus mendoakan hal tersebut selama dua minggu.

Kemudian, pada sore hari tanggal 16 Agustus, aku bertanya kepada Abang, “Bagaimana persiapannya menuju Bogor?”

Abang menjawab, “Abang nggak jadi berangkat. Abang kecapean.”

Aku langsung bersyukur dan bersukacita. Aku merasa Tuhan telah menjawab doaku. Aku bisa bernapas lega karena Abang tidak jadi berangkat touring ke Bogor.

Mungkin bagi orang lain, batalnya sebuah perjalanan karena kelelahan adalah hal yang biasa. Namun, bagiku, perkataan sederhana Abang, “Abang nggak jadi berangkat. Abang kecapean,” menjadi jawaban atas doa yang selama dua minggu kubawa kepada Tuhan.

Aku kembali diingatkan bahwa terkadang jawaban Tuhan datang melalui hal-hal yang sangat sederhana dan biasa.

Aku tidak tahu bagaimana Tuhan bekerja di balik semua kejadian ini. Namun, pada hari itu, aku hanya bisa mengucap syukur karena Tuhan memberikan ketenangan atas kekhawatiran yang selama dua minggu memenuhi hatiku.

Puji Tuhan. Tuhan mendengar doaku. ❤️



In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Two weeks ago, my boyfriend, whom I lovingly call “Abang Sayang,” told me that he was going on a motorcycle tour to Bogor with his motorcycle club to celebrate the 81st anniversary of the Independence of the Republic of Indonesia on August 16–17, 2026.

He told me that they would leave at 11 p.m. on August 16, 2026. Then, on August 17, they would attend a flag-raising ceremony in Bogor.

I did not forbid Abang from going. I only told him, “Please don’t speed.”

However, he replied, “I’ll see what my friends are doing. If they’re speeding, then I’ll speed too. Otherwise, I’ll be left behind.”

I immediately became afraid.

For the next two weeks, I felt anxious. I was afraid that Abang might get into an accident because of speeding on the way to Bogor. So I brought my worries to God in prayer.

I prayed,

“God, please prevent Abang from going to Bogor. If You cannot even answer this simple prayer, how can I trust You with the bigger prayers in my life?”

I continued praying about this for two weeks.

Then, on the afternoon of August 16, I asked Abang, “How are your preparations for going to Bogor?”

He replied, “I’m not going anymore. I’m too tired.”

I immediately felt grateful and joyful. I felt that God had answered my prayer. I could finally breathe a sigh of relief because Abang was not going on the motorcycle tour to Bogor.

Perhaps for other people, canceling a trip because of exhaustion might seem like an ordinary thing. But to me, Abang’s simple words, “I’m not going anymore. I’m too tired,” became an answer to the prayer I had been bringing to God for two weeks.

Once again, I was reminded that sometimes God’s answers come through very simple and ordinary things.

I do not know how God was working behind all of these circumstances. But that day, all I could do was give thanks because God brought peace to my heart after two weeks of worry.

Praise God. God heard my prayer. ❤️


Ketika Tuhan Menjawab Doaku, Bahkan Lewat Teri Medan (When God Answered My Prayer, Even Through Medan Anchovies)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Selama beberapa bulan terakhir ini, aku sangat ingin makan teri Medan dengan sambal buatan Mama. Namun, aku tidak pernah mengatakan keinginanku itu kepada Mama. Selain itu, aku juga tidak tahu harus membeli teri Medan yang enak di mana.

Suatu hari, aku melihat namboruku mengirimkan sebuah paket dari Medan. Aku penasaran dengan isinya. Ternyata, isinya adalah ikan teri Medan.

Aku bersyukur dan bahagia sekali karena namboruku mengirimiku teri Medan. Aku berterima kasih kepada Tuhan karena Tuhan mengabulkan keinginanku yang sederhana ini.

Aku pun langsung membantu Mama memasak ikan teri Medan tersebut dengan sambal. Rasanya mungkin sederhana, tetapi momen itu terasa begitu istimewa bagiku. Aku mendapatkan sesuatu yang selama berbulan-bulan kuinginkan, bahkan tanpa pernah meminta atau menceritakannya kepada Mama.

Dari kejadian sederhana ini, aku kembali diingatkan bahwa Tuhan mengetahui kerinduan-kerinduan kecil yang ada di dalam hati kita. Kadang-kadang, jawaban doa tidak datang dalam bentuk sesuatu yang besar atau spektakuler. Terkadang, Tuhan menjawabnya melalui sebuah paket yang tiba-tiba datang dari Medan, melalui orang yang bahkan tidak tahu bahwa kita sedang menginginkan sesuatu.

Hari itu aku hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, “Tuhan, ternyata Engkau tahu aku ingin makan teri Medan.”

Puji Tuhan untuk jawaban doa yang sederhana ini. ❤️

 

In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

For the past few months, I had been craving Medan anchovies with sambal made by my mother. However, I never told my mother about this craving. I also didn't know where to buy good-quality Medan anchovies.

One day, I saw my aunt sending me a package from Medan. I was curious about what was inside. It turned out to be Medan anchovies.

I was so grateful and happy that my aunt had sent me Medan anchovies. I thanked God because He had answered this simple desire of mine.

I immediately helped my mother cook the Medan anchovies with sambal.

It may seem like such a simple thing, but to me, it was a beautiful reminder that God knows even the little desires in our hearts.

Praise God for answering this simple prayer of mine. ❤️


Kamis, 13 Agustus 2026

Dari Kebencian kepada Pengampunan: Kesaksian tentang KDRT dan Kasih Karunia Tuhan (From Hatred to Forgiveness: A Testimony of Domestic Violence and God's Grace)



Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Aku tumbuh besar di lingkungan Batak yang sangat patriarkis. Meskipun Ibu juga bekerja, Ibu tetap mengurus urusan domestik dalam rumah tangga tanpa bantuan Bapak sama sekali.

Selain itu, Bapak memiliki temperamen yang buruk. Setiap kali marah, ia sering menggunakan kekerasan. Bapak memukul, menendang, dan menginjak Ibu, serta membanting barang-barang. Aku ingat suatu kali Bapak pernah mencekik Ibu hingga pingsan. Aku dan adikku menangis sambil memanggil Ibu. Puji Tuhan, Ibu selamat.

Ketika mereka bertengkar, aku sering menangis di bawah selimut karena ketakutan. Aku tumbuh menjadi seseorang yang membenci Bapak. Aku bahkan pernah berkata dalam hati bahwa aku akan membunuh Bapak.

Kebencian itu membuatku tidak pernah memandang Bapak sebagai pahlawanku. Aku tidak pernah curhat kepada Bapak, dan nasihatnya pun tidak pernah benar-benar kudengarkan.

KDRT yang terjadi di rumah sangat memengaruhiku ketika kecil. Aku tidak merasa aman berada di sekitar Bapak. Aku menjadi takut ketika mendengar suara orang yang keras atau sedang marah-marah.

Setelah aku kuliah, aku akhirnya bisa merasakan kebebasan dari KDRT di rumah. Namun, kemarahan dan luka akibat KDRT itu ternyata masih tersimpan jauh di dalam diriku. Aku pernah bermimpi bahwa Bapak menyiksa adikku. Aku terbangun dengan tubuh berkeringat sambil berteriak, "Anjing!"

Hingga akhirnya, aku menonton khotbah Rm. Eko Wahyu, OSC. Beliau mengajak kami untuk membayangkan bagaimana perasaan kita jika suatu hari bapak kita meninggal. Jika kita tidak menangis, mungkin ada sesuatu di dalam hati kita yang masih perlu diperbaiki.

Dan aku tidak menangis.

Lebih lanjut, Rm. Eko Wahyu, OSC mengajak kami untuk memeluk bapak kami ketika bertemu dengannya.

Saat itu, aku mulai mencoba untuk mengampuni Bapak.

Suatu hari, aku bermimpi Bapak menyiksaku, tetapi aku tidak bereaksi apa-apa. Aku kemudian bertanya kepada psikologku, "Apakah aku sudah mengampuni Bapak?"

Psikologku menjawab, "Itu mengampuni atau numb?"

Aku tidak tahu.

Namun, ada satu tekad dalam hatiku: aku ingin bertemu Bapak dan memeluknya.

Akhirnya, aku pulang ke rumah. Aku bertemu Bapak.

Aku masih ingat ketika akhirnya berhadapan dengan orang yang dahulu begitu kutakuti. Orang yang pernah membuatku bersembunyi di balik selimut sambil menangis.

Dan sekarang, aku justru berdiri di hadapannya dan memeluknya.

Saat itu, aku tidak merasakan kebencian seperti dahulu. Yang kurasakan justru damai.

Aku belajar bahwa mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kekerasan yang dilakukan Bapak adalah benar. KDRT tetaplah sesuatu yang salah. Mengampuni juga bukan berarti aku harus melupakan apa yang terjadi atau membiarkan kekerasan terjadi kembali.

Bagiku, pengampunan berarti melepaskan kebencian dan keinginan untuk membalas, lalu menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.

Aku tidak tahu apakah luka itu akan pernah benar-benar hilang seluruhnya. Tetapi aku tahu bahwa Tuhan membawaku pada sebuah titik di mana aku tidak lagi ingin hidup dikuasai oleh kebencian kepada Bapak.

Aku yang dahulu bahkan pernah berharap Bapak mati, kini justru bisa memeluknya.

Bagiku, itulah salah satu bentuk kasih karunia Tuhan.

Bagi teman-teman yang pernah mengalami kekerasan dalam keluarga, aku ingin mengatakan:

Pengalaman itu bukan salahmu.

Mengampuni tidak berarti membenarkan kekerasan. Mencari pertolongan juga bukan berarti kurang beriman.

Tuhan dapat memulihkan hati yang terluka, meskipun prosesnya tidak selalu singkat.
 

Notes:

Puji Tuhan, kini bapak sudah bertobat dan tidak kasar lagi. Dan Ibu tetap mempertahankan rumah tangganya




In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

I grew up in a very patriarchal Batak environment. Although my mother also worked, she was still responsible for all the household chores without any help from my father.

My father also had a very bad temper. Whenever he became angry, he often resorted to violence. He would hit, kick, and stomp on my mother, and he would throw and smash things around the house. I remember one time when my father choked my mother until she lost consciousness. My younger sibling and I cried out for our mother. Praise God, she survived.

Whenever my parents fought, I would often hide under my blanket and cry because I was terrified. I grew up hating my father. I even once told myself that I would kill him.

Because of that hatred, I never saw my father as my hero. I never opened up to him, and I never really listened to his advice.

The domestic violence I witnessed had a profound impact on me as a child. I did not feel safe around my father. I became afraid whenever I heard someone speaking loudly or angrily.

After I went to college, I finally experienced freedom from the domestic violence at home. However, the anger and wounds caused by the violence remained buried deep within me.

One night, I dreamed that my father was hurting my younger sibling. I woke up sweating and screaming, "You bastard!"

Eventually, I watched a sermon by Fr. Eko Wahyu, OSC. He encouraged us to imagine how we would feel if our father died someday. If we would not cry, perhaps there was something in our hearts that still needed to be healed.

And I did not cry.

Fr. Eko Wahyu, OSC also encouraged us to embrace our fathers when we met them.

At that moment, I began trying to forgive my father.

One day, I dreamed that my father was hurting me, but I did not react at all. I then asked my psychologist, "Have I forgiven my father?"

My psychologist replied, "Is that forgiveness, or are you numb?"

I didn't know.

But I had one determination in my heart: I wanted to meet my father and embrace him.

Eventually, I went home. I met my father.

I still remember standing face to face with the man I had once been so afraid of. The man who had once made me hide under my blanket and cry.

And now, I was standing in front of him and embracing him.

At that moment, I no longer felt the hatred I had felt before. Instead, I felt peace.

I learned that forgiveness does not mean saying that the violence my father committed was right. Domestic violence is still wrong. Forgiveness also does not mean that I have to forget what happened or allow the violence to happen again.

For me, forgiveness means letting go of hatred and the desire for revenge, and entrusting judgment to God.

I do not know whether the wounds will ever completely disappear. But I know that God brought me to a place where I no longer wanted my life to be controlled by hatred toward my father.

I once even wished that my father would die. Now, I am able to embrace him.

To me, that is one of the ways God's grace has worked in my life.

To anyone who has experienced violence within their family, I want to say this:

What happened to you was not your fault.

Forgiving does not mean justifying violence. Seeking help does not mean that you lack faith.

God can heal a wounded heart, even though the process may not always be quick.


Notes:

Praise God, my father has now repented and is no longer abusive. My mother has also chosen to stay in the marriage.

Ilahi (the Divine)

Tatkala Ilahi mengenalkanku pada semesta Tingginya pohon dalam hutan  Amukan petir menyambar relung Deburan ombak memecah karang Kencangnya ...