Selasa, 08 September 2026

Covered by Grace: A Testimony of Forgiveness

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Halo, teman-teman.

Aku berharap artikel ini menemukanmu dalam keadaan yang baik.
 

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” — Mazmur 32:1

Apakah teman-teman pernah merasa begitu malu terhadap masa lalu sampai berharap tidak seorang pun mengetahuinya?

Aku pernah.

Dan kalau kamu juga pernah merasakannya, mungkin tulisan ini untukmu.

Ketika SMA, aku pernah berelasi dengan seseorang. Sebut saja namanya M. Awalnya, M ingin menjadikanku sebagai kekasihnya. Kebetulan, aku juga menyukainya.

Namun, kisah kami justru mengantarkanku kepada kehidupan yang terasa seperti neraka.

Ketika kami berelasi, M mengancam akan meninggalkanku kalau aku tidak memberikan foto bugilku. Bodohnya, aku mengirimkannya.

Setelah itu, dia mengancam akan menyebarkan foto tersebut kalau aku tidak mengirimkan foto lagi. Karena ketakutan, aku kembali mengirimkannya.

Begitu terus berulang kali sampai akhirnya kami berpisah.

Belakangan aku menyadari bahwa selama ini aku mengira diriku adalah kekasihnya. Ternyata, aku hanya selingkuhannya.

Aku merasa sangat bodoh.

Aku menyesal atas keputusan-keputusan yang pernah kubuat. Aku merasa jijik terhadap perbuatanku sendiri. Namun, di balik semuanya, sebenarnya aku hanya ingin dicintai.

Aku ingin dicintai dan diterima.

Aku juga sangat takut.

Aku takut suatu hari orangtuaku mengetahuinya. Aku takut orang-orang mengetahuinya. Aku bahkan takut suatu hari nanti suamiku mengetahui masa laluku.

Setiap kali ada berita tentang foto atau video intim seseorang yang tersebar dan menjadi viral, hatiku langsung berdebar. Aku takut kalau-kalau itu adalah fotoku.

Tetapi, Puji Tuhan.

Tuhan baik kepadaku.

Sampai hari ini, setiap kali ada foto atau video intim yang viral, itu bukan fotoku. Aku bersyukur kepada Tuhan.

Dulu, aku berpikir bahwa “dosaku ditutupi” berarti tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang pernah kulakukan.

Namun, semakin aku merenungkan Mazmur 32:1, aku belajar bahwa maknanya jauh lebih dalam.

Tuhan tidak menutupi dosaku karena Dia tidak tahu apa yang telah kulakukan.

Tuhan tahu.

Dia mengetahui semuanya.

Dia mengetahui keputusan-keputusan buruk yang pernah kubuat. Dia mengetahui rasa takutku. Dia mengetahui rasa maluku. Dia mengetahui bagian-bagian dari masa laluku yang bahkan sulit untuk kuakui kepada diriku sendiri.

Namun, Dia tetap mengampuniku.

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi.”

Betapa besar kasih karunia Tuhan.

Sampai sekarang pun, aku masih belajar mempercayakan hidupku sepenuhnya kepada-Nya.

Kadang-kadang aku masih berharap HP mantanku rusak supaya foto-fotoku benar-benar musnah. Aku masih takut sesuatu dari masa lalu itu muncul kembali.

Tetapi aku mulai belajar bahwa mempercayakan hidup kepada Tuhan bukan berarti aku tidak pernah merasa takut.

Mempercayakan hidup kepada Tuhan berarti aku tetap datang kepada-Nya bahkan ketika aku takut.

Aku tidak bisa mengendalikan HP orang lain.

Aku tidak bisa mengendalikan masa lalu.

Aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi di masa depan.

Tetapi aku bisa menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

Puji Tuhan, aku sudah bertobat.

Perjalananku juga tidak selalu mulus. Beberapa kali aku gagal. Beberapa kali aku kembali jatuh.

Namun, Tuhan tidak meninggalkanku.

Sedikit demi sedikit, Tuhan membawaku keluar dari kehidupan seksual yang dahulu mengikatku. Hari ini, aku bisa berkata bahwa aku sudah dibebaskan dari kehidupan itu.

Bukan karena aku kuat.

Bukan karena aku lebih baik daripada orang lain.

Tetapi karena kasih karunia Tuhan.

Karena itu, kalau kamu sedang membaca tulisan ini dan kamu juga memiliki masa lalu yang membuatmu malu, aku ingin mengatakan satu hal kepadamu:

Masa lalumu bukanlah seluruh identitasmu.

Apa yang pernah kamu lakukan bukan berarti kamu tidak dapat diampuni.

Dan kalau kamu sudah datang kepada Tuhan dengan hati yang bertobat, jangan terus menghukum dirimu sendiri atas dosa yang sudah kamu serahkan kepada-Nya.

Tuhan tahu semuanya.

Dan Dia tetap mengasihimu.

Hari ini aku masih belajar percaya.

Masih belajar menyerahkan ketakutanku.

Masih belajar menerima bahwa aku sudah diampuni.

Dan mungkin, itulah perjalanan iman: bukan menjadi manusia yang tidak pernah takut, tetapi terus belajar berkata,

“Tuhan, aku tidak mampu mengendalikan semuanya. Karena itu, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu.”

Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya.

Berbahagialah orang yang dosanya ditutupi.

Kiranya kita semua boleh mengalami kasih karunia Tuhan yang sama.

Puji Tuhan.




In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Hello, friends.

I hope this article finds you well.
 

“Blessed is the one whose transgression is forgiven, whose sin is covered.”
 — Psalm 32:1

Have you ever felt so ashamed of your past that you wished no one would ever find out?

I have.

And if you have ever felt the same way, perhaps this story is for you.

When I was in high school, I was in a relationship with someone. Let’s call him M. At first, M wanted me to be his girlfriend. As it happened, I liked him too.

But our relationship eventually led me into a life that felt like hell.

While we were together, M threatened to leave me if I did not send him nude photos of myself. Foolishly, I sent them.

After that, he threatened to share the photos if I did not send him more. Because I was afraid, I sent more.

This continued repeatedly until we eventually broke up.

Later, I realized that I had thought I was his girlfriend. In reality, I was only the other woman.

I felt so foolish.

I regretted the decisions I had made. I felt disgusted with myself because of what I had done. But beneath all of it, the truth was that I simply wanted to be loved.

I wanted to be loved and accepted.

I was also terrified.

I was afraid that one day my parents would find out. I was afraid that other people would find out. I was even afraid that someday my future husband would discover my past.

Whenever I heard about someone's intimate photos or videos being leaked and going viral, my heart would race. I was afraid that they might be mine.

But praise God.

God has been good to me.

To this day, whenever intimate photos or videos go viral, they have not been mine. I am grateful to God.

I used to think that having my “sins covered” meant that no one would ever find out what I had done.

But the more I reflect on Psalm 32:1, the more I realize that it means something much deeper.

God does not cover my sins because He does not know what I have done.

He knows.

He knows everything.

He knows the wrong decisions I have made. He knows my fear. He knows my shame. He knows the parts of my past that are even difficult for me to admit to myself.

And yet, He still forgives me.

“Blessed is the one whose transgression is forgiven, whose sin is covered.”

What an incredible grace.

Even now, I am still learning to trust Him with my whole life.

Sometimes I still find myself wishing that my ex-boyfriend's phone would break so that my photos would be completely destroyed. I am still afraid that something from my past might resurface.

But I am learning that trusting God does not mean that I will never be afraid.

Trusting God means that I continue to come to Him even when I am afraid.

I cannot control someone else's phone.

I cannot control the past.

I cannot guarantee what will happen in the future.

But I can surrender everything to God.

Praise God, I have repented.

My journey has not always been smooth. I have failed several times. There were times when I fell back into my old ways.

But God did not abandon me.

Little by little, God has been leading me out of the sexual lifestyle that once held me captive. Today, I can say that I have been set free from that life.

Not because I am strong.

Not because I am better than anyone else.

But because of God's grace.

So, if you are reading this and you also carry a past that fills you with shame, I want to tell you one thing:

Your past does not define your entire identity.

What you have done does not mean that you are beyond forgiveness.

And if you have already come before God with a repentant heart, do not keep punishing yourself for the sins you have already surrendered to Him.

God knows everything.

And He still loves you.

Today, I am still learning to trust.

Still learning to surrender my fears.

Still learning to accept that I have been forgiven.

And perhaps that is what the journey of faith looks like: not becoming a person who is never afraid, but continually learning to say,
 

“God, I cannot control everything. Therefore, I surrender my life to You.”

Blessed is the one whose transgression is forgiven.

Blessed is the one whose sin is covered.

May we all experience the same grace of God.

Praise God.

PS: Threatening to share someone's intimate photos is a form of coercion and exploitation. If you ever experience this, please tell your teacher or your parents and report it. Don't make the same mistake I did.


Minggu, 06 September 2026

Ilahi (the Divine)

Tatkala Ilahi mengenalkanku pada semesta

Tingginya pohon dalam hutan 

Amukan petir menyambar relung

Deburan ombak memecah karang

Kencangnya angin merobek sukma

Tergantung bintang dan bulan menemani sepinya malam

Terselip dalam rendah 

Aku sangatlah kecil 


Bandung, 26 April 2018


When the Divine Introduced Me to the Universe

The towering trees within the forest,

The thunder striking the depths,

The crashing waves breaking against the rocks,

The fierce wind tearing through the soul,

The stars and moon hanging above,
keeping company with the solitude of the night.

Amidst it all, in my smallness,

I realize how very small I am.

Bandung, April 26, 2018

Aku Masih Takut, Aku Masih Berdoa, Tetapi Aku Memilih Percaya (I’m Still Afraid, I’m Still Praying, But I Choose to Trust)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Halo, teman-teman.

Semoga artikel ini menemukan kalian dalam keadaan baik.

Apakah teman-teman pernah merasa sedih karena doa yang kita panjatkan seolah-olah tidak didengarkan?

Aku juga pernah merasakan hal itu.

Setiap hari, aku selalu berdoa agar mama, bapak, abang sayang, dan adikku dilindungi dari sakit penyakit.

Puji Tuhan, mama dan adikku sehat. Bapak juga masih dalam kondisi yang terkontrol, meskipun beliau memiliki pembengkakan jantung dan kadar kreatinin yang tinggi.

Namun, beberapa waktu lalu, Abang Sayang terkena Bell's palsy. Sudah sekitar seminggu Abang harus beristirahat di rumah. Mendengar kabar itu, aku lemas. Aku khawatir. Aku takut. Aku sedih dan bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak mengabulkan doaku?

Awalnya, aku merasa sedih karena aku percaya Tuhan telah berjanji memberikan rancangan damai sejahtera. Lalu aku berpikir, kalau Abang sakit seperti ini, di mana damai sejahtera itu?

Aku tidak tahu kapan Abang akan sembuh. Katanya, Bell's palsy dapat membutuhkan waktu beberapa minggu, bahkan dalam beberapa kasus bisa sampai berbulan-bulan. Aku mulai memikirkan banyak hal. Kalau sampai dua bulan Abang tidak bisa bekerja, bagaimana kalau dia kehilangan pekerjaannya?

Aku juga merasa tidak berdaya. Aku belum bekerja dan tidak punya banyak uang, sehingga aku tidak bisa banyak membantu biaya pengobatannya dan fisioterapinya. Kami juga menjalani hubungan jarak jauh, Rangkasbitung–Cikarang. Aku tidak bisa mendampinginya secara langsung. Aku takut Abang merasa sendirian dalam menghadapi penyakitnya.

Namun, setelah Abang pergi ke dokter, aku bersyukur karena ternyata kondisinya tidak terlalu parah. Dokter meminta Abang untuk tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat dan beristirahat.

Aku juga bersyukur karena Tuhan masih memelihara kami. Abang mengalami Bell's palsy, bukan stroke, kanker, gagal ginjal, atau penyakit berat lainnya yang selama ini sempat menjadi ketakutanku. Tuhan juga menyediakan biaya untuk pengobatannya.

Sebelumnya, aku berpikir bahwa kalau aku sudah berdoa setiap hari supaya keluargaku dilindungi dari sakit penyakit, maka seharusnya mereka tidak sakit.

Tetapi melalui sakitnya Abang, aku belajar bahwa perlindungan Tuhan tidak selalu berarti kita tidak akan mengalami penderitaan.

Aku mulai menyadari bahwa Tuhan yang baik bukan berarti Tuhan selalu memberikan apa yang aku minta. Terkadang, kebaikan Tuhan tetap ada bahkan ketika jawaban-Nya tidak seperti yang kuharapkan.

Aku belajar menyerahkan Abang ke dalam tangan Tuhan.

Aku juga mulai belajar bahwa damai sejahtera tidak selalu berarti tidak adanya masalah. Damai sejahtera juga bisa berarti memiliki Tuhan ketika masalah itu datang.

Aku masih berdoa supaya Abang sembuh. Aku masih berdoa supaya pekerjaannya tetap ada. Aku masih berharap Tuhan memberikan kesembuhan secepatnya.

Tetapi sekarang aku belajar bahwa imanku tidak boleh bergantung pada apakah Tuhan menjawab doaku sesuai dengan keinginanku atau tidak.

Aku mau belajar percaya bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika aku belum mengerti jalan-Nya.

Aku tidak tahu kapan Abang akan sembuh. Aku tidak tahu bagaimana keadaan pekerjaannya nanti. Tetapi aku tahu satu hal: aku tidak berjalan sendirian, dan Abang juga tidak berjalan sendirian.

Aku mau menyerahkan Abang ke dalam tangan Tuhan dan terus mendampinginya, bahkan dari jauh.

Aku masih takut. Aku masih berdoa. Aku belum tahu jawabannya.

Tetapi aku memilih percaya.


In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Hello, friends.

I hope this article finds you well.

Have you ever felt sad because it seemed like your prayers were not being heard?

I have felt that way too.

Every day, I pray that my mother, father, my beloved Abang, and my younger sibling will be protected from sickness and disease.

Praise God, my mother and my younger sibling are healthy. My father is also in a stable condition, although he has an enlarged heart and high creatinine levels.

However, a little while ago, my beloved Abang was diagnosed with Bell's palsy. He has been resting at home for about a week now. When I heard the news, I felt weak. I was worried. I was afraid. I was sad, and I wondered, why didn't God answer my prayer?

At first, I felt sad because I believe that God has promised to give us plans for peace and hope. Then I wondered, if Abang is sick like this, where is that peace?

I don't know when Abang will recover. I heard that Bell's palsy can take several weeks to recover from, and in some cases, it can take several months. I started thinking about many things. If Abang cannot work for two months, what if he loses his job?

I also felt powerless. I am currently unemployed and don't have much money, so I cannot do much to help with his medical and physiotherapy expenses. We are also in a long-distance relationship, living in Rangkasbitung and Cikarang. I cannot be there physically to accompany him. I was afraid that Abang would feel alone while facing his illness.

However, after Abang went to the doctor, I was grateful to learn that his condition was not too severe. The doctor advised him to avoid strenuous activities and get plenty of rest.

I was also grateful because God was still taking care of us. Abang had Bell's palsy—not a stroke, cancer, kidney failure, or another serious illness that I had feared. God also provided for his medical expenses.

Before this happened, I thought that if I prayed every day for my family to be protected from sickness, then they should not get sick.

But through Abang's illness, I am learning that God's protection does not always mean that we will never experience suffering.

I am beginning to understand that a good God does not necessarily mean that God will always give me what I ask for. Sometimes, God's goodness remains present even when His answer is not what I hoped for.

I am learning to place Abang in God's hands.

I am also learning that peace does not always mean the absence of problems. Sometimes, peace means having God with us when the problems come.

I am still praying for Abang to recover. I am still praying that he will keep his job. I am still hoping that God will heal him as soon as possible.

But now I am learning that my faith cannot depend on whether God answers my prayers according to what I want.

I want to learn to trust that God is still good, even when I do not understand His ways.

I don't know when Abang will recover. I don't know what will happen to his job. But I know one thing: I am not walking through this alone, and neither is Abang.

I want to place Abang in God's hands and continue to accompany him, even from afar.

I am still afraid. I am still praying. I still don't know the answer.

But I choose to trust.



Minggu, 16 Agustus 2026

Ketika Tuhan Menjawab Doaku dan Menjaga Orang yang Kukasihi (When God Answered My Prayer and Kept My Loved One Safe)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Dua minggu yang lalu, Abang Sayang mengabariku bahwa dia akan touring ke Bogor bersama klub motornya dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia pada tanggal 16–17 Agustus 2026.

Abang mengatakan bahwa mereka akan berangkat pada pukul 11 malam tanggal 16 Agustus 2026. Kemudian, pada tanggal 17 Agustus 2026, mereka akan mengikuti upacara di Bogor.

Aku tidak melarang Abang untuk pergi. Aku hanya berkata kepadanya, “Jangan ngebut-ngebut.”

Namun, Abang menjawab, “Ya, Abang lihat teman-teman Abang. Kalau mereka pada ngebut, ya Abang ngebut. Nanti kalau lama, Abang ketinggalan.”

Mendengar jawaban itu, aku langsung merasa takut.

Selama dua minggu berikutnya, aku merasa cemas. Aku takut Abang mengalami kecelakaan karena ngebut di perjalanan. Karena itu, aku membawa kekhawatiranku dalam doa kepada Tuhan.

Aku berdoa,

“ Tuhan, gagalkanlah rencana Abang ke Bogor. Kalau doa sederhana ini saja tidak dikabulkan, bagaimana aku dapat percaya bahwa doa-doa besarku akan Engkau kabulkan?”

Aku terus mendoakan hal tersebut selama dua minggu.

Kemudian, pada sore hari tanggal 16 Agustus, aku bertanya kepada Abang, “Bagaimana persiapannya menuju Bogor?”

Abang menjawab, “Abang nggak jadi berangkat. Abang kecapean.”

Aku langsung bersyukur dan bersukacita. Aku merasa Tuhan telah menjawab doaku. Aku bisa bernapas lega karena Abang tidak jadi berangkat touring ke Bogor.

Mungkin bagi orang lain, batalnya sebuah perjalanan karena kelelahan adalah hal yang biasa. Namun, bagiku, perkataan sederhana Abang, “Abang nggak jadi berangkat. Abang kecapean,” menjadi jawaban atas doa yang selama dua minggu kubawa kepada Tuhan.

Aku kembali diingatkan bahwa terkadang jawaban Tuhan datang melalui hal-hal yang sangat sederhana dan biasa.

Aku tidak tahu bagaimana Tuhan bekerja di balik semua kejadian ini. Namun, pada hari itu, aku hanya bisa mengucap syukur karena Tuhan memberikan ketenangan atas kekhawatiran yang selama dua minggu memenuhi hatiku.

Puji Tuhan. Tuhan mendengar doaku. ❤️



In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Two weeks ago, my boyfriend, whom I lovingly call “Abang Sayang,” told me that he was going on a motorcycle tour to Bogor with his motorcycle club to celebrate the 81st anniversary of the Independence of the Republic of Indonesia on August 16–17, 2026.

He told me that they would leave at 11 p.m. on August 16, 2026. Then, on August 17, they would attend a flag-raising ceremony in Bogor.

I did not forbid Abang from going. I only told him, “Please don’t speed.”

However, he replied, “I’ll see what my friends are doing. If they’re speeding, then I’ll speed too. Otherwise, I’ll be left behind.”

I immediately became afraid.

For the next two weeks, I felt anxious. I was afraid that Abang might get into an accident because of speeding on the way to Bogor. So I brought my worries to God in prayer.

I prayed,

“God, please prevent Abang from going to Bogor. If You cannot even answer this simple prayer, how can I trust You with the bigger prayers in my life?”

I continued praying about this for two weeks.

Then, on the afternoon of August 16, I asked Abang, “How are your preparations for going to Bogor?”

He replied, “I’m not going anymore. I’m too tired.”

I immediately felt grateful and joyful. I felt that God had answered my prayer. I could finally breathe a sigh of relief because Abang was not going on the motorcycle tour to Bogor.

Perhaps for other people, canceling a trip because of exhaustion might seem like an ordinary thing. But to me, Abang’s simple words, “I’m not going anymore. I’m too tired,” became an answer to the prayer I had been bringing to God for two weeks.

Once again, I was reminded that sometimes God’s answers come through very simple and ordinary things.

I do not know how God was working behind all of these circumstances. But that day, all I could do was give thanks because God brought peace to my heart after two weeks of worry.

Praise God. God heard my prayer. ❤️


Ketika Tuhan Menjawab Doaku, Bahkan Lewat Teri Medan (When God Answered My Prayer, Even Through Medan Anchovies)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Selama beberapa bulan terakhir ini, aku sangat ingin makan teri Medan dengan sambal buatan Mama. Namun, aku tidak pernah mengatakan keinginanku itu kepada Mama. Selain itu, aku juga tidak tahu harus membeli teri Medan yang enak di mana.

Suatu hari, aku melihat namboruku mengirimkan sebuah paket dari Medan. Aku penasaran dengan isinya. Ternyata, isinya adalah ikan teri Medan.

Aku bersyukur dan bahagia sekali karena namboruku mengirimiku teri Medan. Aku berterima kasih kepada Tuhan karena Tuhan mengabulkan keinginanku yang sederhana ini.

Aku pun langsung membantu Mama memasak ikan teri Medan tersebut dengan sambal. Rasanya mungkin sederhana, tetapi momen itu terasa begitu istimewa bagiku. Aku mendapatkan sesuatu yang selama berbulan-bulan kuinginkan, bahkan tanpa pernah meminta atau menceritakannya kepada Mama.

Dari kejadian sederhana ini, aku kembali diingatkan bahwa Tuhan mengetahui kerinduan-kerinduan kecil yang ada di dalam hati kita. Kadang-kadang, jawaban doa tidak datang dalam bentuk sesuatu yang besar atau spektakuler. Terkadang, Tuhan menjawabnya melalui sebuah paket yang tiba-tiba datang dari Medan, melalui orang yang bahkan tidak tahu bahwa kita sedang menginginkan sesuatu.

Hari itu aku hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, “Tuhan, ternyata Engkau tahu aku ingin makan teri Medan.”

Puji Tuhan untuk jawaban doa yang sederhana ini. ❤️

 

In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

For the past few months, I had been craving Medan anchovies with sambal made by my mother. However, I never told my mother about this craving. I also didn't know where to buy good-quality Medan anchovies.

One day, I saw my aunt sending me a package from Medan. I was curious about what was inside. It turned out to be Medan anchovies.

I was so grateful and happy that my aunt had sent me Medan anchovies. I thanked God because He had answered this simple desire of mine.

I immediately helped my mother cook the Medan anchovies with sambal.

It may seem like such a simple thing, but to me, it was a beautiful reminder that God knows even the little desires in our hearts.

Praise God for answering this simple prayer of mine. ❤️


Covered by Grace: A Testimony of Forgiveness

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Halo, teman-teman. Aku berharap artikel ini menemukanmu dalam keadaan yang baik.   “Berbahagial...