Senin, 05 Januari 2026

Tuhan Menyembuhkan, Bahkan Saat Aku Merasa Jauh (God’s Healing, Even When I Feel Far From Him)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Kadang pemulihan tidak datang lewat mukjizat besar, tapi lewat satu kalimat sederhana dari orang lain:
“Kamu sekarang sudah kelihatan ceria.”

Beberapa bulan lalu, teman-teman kantorku berkata bahwa wajahku murung, kosong, seperti orang linglung. Pada saat itu, aku masih mengonsumsi antidepresan dan antipsikotik atas penyakit skizoafektif tipe depresi dd/ depresi berat dengan ciri psikotik. Yang kurasakan saat itu hanyalah sedih dan bingung. Aku tidak mengerti mengapa ekspresiku dinilai demikian, karena dalam keseharianku aku merasa tidak selelah itu. Aku tidak sadar bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

Dua hari yang lalu, temanku mengatakan bahwa ekspresiku sudah jauh lebih baik—tidak murung dan tidak linglung lagi. Hari ini, salah satu OB di kantorku juga bilang kalau aku sudah terlihat ceria. Puji Tuhan. Aku percaya Tuhan menyembuhkanku. Mungkin juga ini berkaitan dengan proses setelah aku putus obat. Mungkin obat memengaruhi ekspresiku saat itu. Hal ini terlihat sepele, tetapi bagiku menjadi salah satu tanda awal pemulihan.

Dalam proses ini, Abang Sayang dan keluargaku menjadi orang-orang yang Tuhan kirimkan sebagai support system. Perubahan ini terasa datang tiba-tiba, karena teman-teman kantor dan OB baru menyadarinya di waktu-waktu terakhir ini.

Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku sudah kembali pulih—lebih ceria dan tidak murung lagi. Tuhan tetap ada dan hadir menyembuhkanku, bahkan di masa ketika aku merasa jauh dari-Nya.

Jika kamu yang membaca tulisan ini sedang berada di fase murung, kosong, atau bahkan tidak sadar bahwa dirimu sedang lelah, aku ingin bilang: pemulihan itu nyata dan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Jangan menyerah. Tuhan tetap bekerja, bahkan saat kita merasa tidak merasakan apa-apa.

🤍


Greetings in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Sometimes healing does not come through great miracles, but through a simple sentence spoken by someone else:
“You look cheerful again.”

A few months ago, my coworkers told me that my face looked gloomy, empty, and dazed. At that time, I was still taking antidepressants and antipsychotics for schizoaffective disorder, depressive type / major depressive disorder with psychotic features. What I felt back then was sadness and confusion. I did not understand why my expression was seen that way, because in my daily life I did not feel that exhausted. I did not realize that I was not doing well.

Two days ago, a coworker told me that my expression had improved significantly—not gloomy and not dazed anymore. Today, one of the office cleaning staff also told me that I looked cheerful. Praise be to God. I believe God has healed me. Perhaps this is also related to the process after I stopped taking medication. Perhaps the medication affected my expression at that time. It may seem trivial, but for me, it became one of the early signs of recovery.

In this process, my beloved partner and my family became the people God sent to be my support system. This change felt sudden, because my coworkers and the office staff only noticed it recently.

I am grateful to God that I have returned to a place of recovery—more cheerful and no longer gloomy. God remained present and faithful in healing me, even in times when I felt far from Him.

If you who are reading this are in a phase of gloom, emptiness, or perhaps not even aware that you are exhausted, I want to say this: recovery is real and it can begin with small things. Do not give up. God is still at work, even when we feel nothing at all.

🤍


Kamis, 11 Desember 2025

Belajar Setia di Tengah Takut (Learning to Stay Faithful in the Midst of Fear)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Setelah kupikirkan dan kurenungkan dengan sungguh-sungguh, aku akhirnya menyadari bahwa aku tidak bisa bersama Orang Baru. Ada ketidaknyamanan yang halus tetapi terus-menerus mengetuk hatiku. Tidak ada damai di dalamnya, dan aku merasa bersalah terhadap Abang Sayang. Karena itu, aku memilih untuk tetap setia.

Namun, setelah memilih jalan ini, rasa khawatirku justru semakin terasa. Sampai hari ini aku masih bergumul dengan ketakutan tentang kecukupan finansial. Aku hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran: takut tidak cukup, takut kehilangan, bahkan takut Abang pergi terlebih dahulu mengingat perbedaan usia kami yang cukup jauh.

Dalam pergumulan itu, ayat dari 1 Yohanes 4:18 kembali terngiang:
“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”

Aku merenungkan kembali apa itu kasih yang sempurna. Dalam doaku, aku teringat bahwa kasih yang sempurna itu bukan berasal dari diriku—melainkan dari Allah sendiri. Kasih yang sempurna adalah kasih yang memperkenankan kita menyapa Dia sebagai Bapa. Kasih yang sempurna adalah ketika Kristus mati untuk menebus dosa manusia. Perenungan ini datang saat aku mendengarkan lagu Bapa Yang Kekal, yang mengingatkanku bahwa kasih-Nya tidak berubah sekalipun hatiku goyah.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri:
“Apakah aku sudah menerima kasih yang sempurna itu?”

Aku percaya, ketika aku berani berseru memanggil Allah sebagai Bapa, di situlah kasih-Nya sudah lebih dulu bekerja. Penebusan itu nyata. Penerimaan itu penuh. Namun, jujur kuakui: saat ini aku seperti mati rasa. Aku tahu kebenarannya, tetapi jiwaku masih berjuang mengecapnya.

Meski begitu, aku percaya kasih Tuhan tidak pernah ditentukan oleh apa yang kurasakan hari ini. Ia tetap bekerja dalam diam. Dan mungkin, justru dalam masa mati rasa inilah, Tuhan sedang membentukku—perlahan, lembut, dan pasti.

Pada akhirnya, aku ingin belajar berjalan perlahan bersama Tuhan. Menerima rasa takutku apa adanya, sambil percaya bahwa kasih-Nya jauh lebih besar daripada seluruh ketidakpastianku. Aku tidak tahu masa depan, tetapi aku tahu siapa yang menggandengku di dalamnya. Dan untuk hari ini, itu sudah cukup.

Amin.



In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

After much thought and sincere reflection, I finally realized that I could not be with the New Person. There was a subtle, persistent uneasiness in my heart. There was no peace in it, and I felt guilty toward Abang Sayang. Because of that, I chose to remain faithful.

However, after making that decision, my worries only grew stronger. Until today, I am still struggling with fears about financial security. I live in the shadow of anxiety: afraid of not having enough, afraid of losing him, even afraid that Abang might leave this world before me because of our 14-year age difference.

In the midst of these struggles, the verse from 1 John 4:18 echoes in my mind:
“There is no fear in love; but perfect love casts out fear, for fear has to do with punishment, and whoever fears has not been perfected in love.”

I began to reflect again on what perfect love truly is. In my prayers, I remembered that perfect love does not come from within me—it comes from God Himself. Perfect love is what allows us to call Him Father. Perfect love is Christ who died to redeem the sins of humanity. This reflection came while I was listening to the song Bapa Yang Kekal, which reminded me that His love does not change, even when my heart wavers.

Then I asked myself:
“Have I truly received that perfect love?”

I believe that when I dare to cry out and call God “Father,” His love is already at work within me. Redemption is real. His acceptance is full. Yet I must honestly admit: right now, I feel numb. I know the truth, but my soul is still struggling to feel it.

Even so, I trust that God’s love is never determined by what I feel today. His love continues to work in the quiet. And perhaps, in this season of numbness, God is shaping me—slowly, gently, and surely.

In the end, I want to learn to walk slowly with God. To accept my fears as they are, while trusting that His love is far greater than all my uncertainties. I do not know what the future holds, but I know who is holding my hand in it. And for today, that is enough.

Amen.


Selasa, 04 November 2025

Dilema Antara Cinta dan Masa Depan (Dilemma Between Love and the Future)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Apakah teman-teman pernah merasa dilema?
Bukan karena tidak tahu mana yang baik, tapi karena dua-duanya terasa benar — hanya saja, dalam arah yang berbeda.

Saat ini, aku sedang berada di persimpangan seperti itu.
Aku punya pacar — sebut saja namanya Abang Sayang.
Ia bertanggung jawab, pekerja keras, baik, dan selalu berusaha melindungi keluarganya. Ia bekerja di distributor obat. Kedua orangtuanya sudah tiada. Beberapa hari lalu, ia bercerita: ada apotek yang order melalui dia senilai 24 juta, tapi ternyata gagal bayar. Akibatnya, gajinya dipotong untuk menanggung kerugian perusahaan.
Motornya terpaksa digadaikan 3 juta demi kebutuhan sehari-hari.
Ia tidak punya tabungan, dan baru bisa menabung awal tahun depan.

Lalu, di sisi lain, datang seseorang yang baru.
Sebut saja dia Orang Baru — lulusan Manajemen Logistik Trisakti, bekerja sebagai admin, tinggal dengan orangtua, dan sudah memiliki tabungan. Hidupnya stabil, tenang, dan masa depannya tampak lebih pasti.

Secara logika, tentu pilihan itu mudah. Tapi hati manusia tidak sesederhana hitungan tabungan atau slip gaji. Aku menyayangi Abang Sayang. Aku tidak ingin meninggalkannya saat dia sedang jatuh. Namun, aku juga takut bila aku bertahan hanya karena kasihan, bukan cinta.

Kini, aku bergulat dengan dua pertanyaan:

  1. Jika Abang Sayang bangkit secara finansial, apakah aku masih ingin bersamanya karena pribadinya, bukan karena rasa kasihan?

  2. Jika aku bersama Orang Baru yang lebih stabil, apakah hatiku akan benar-benar damai, atau justru masih menoleh ke masa lalu dengan rasa bersalah?

Kadang aku merasa, dilema seperti ini bukan sekadar soal cinta, tapi juga tentang siapa diriku dan apa yang sebenarnya aku cari dalam hidup ini — keamanan, cinta, atau keduanya?


Refleksi untukmu yang membaca ini:
Pernahkah kamu berada di titik di mana cinta dan logika saling tarik menarik?
Apakah kamu lebih memilih hati yang tenang, atau masa depan yang pasti?
Bagikan ceritamu atau refleksimu di kolom komentar — mungkin kita bisa saling menguatkan di tengah dilema yang tak selalu punya jawaban mudah.



In the Name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt torn in a dilemma?
Not because you don’t know which one is right, but because both choices feel right — just in different directions.

Right now, I’m standing at such a crossroads.
I have a boyfriend — let’s call him My Dear One.
He’s responsible, hardworking, kind, and always tries to protect his family. He works at a pharmaceutical distributor. Both of his parents have passed away. A few days ago, he told me that one of the pharmacies ordered through him for 24 million rupiahs, but the payment fell through. As a result, his salary is being deducted to cover the company’s loss.
He had to pawn his motorcycle for 3 million just to meet daily needs.
He has no savings and can only start saving again early next year.

Then, on the other side, someone new appeared.
Let’s call him The New One — a graduate in Logistics Management from Trisakti University, working as an admin, living with his parents, and already having some savings. His life seems stable, calm, and his future looks more certain.

Logically, the choice should be easy. But the human heart isn’t as simple as numbers on a payslip or the amount in a savings account. I care about My Dear One. I don’t want to leave him when he’s down. Yet, I’m also afraid that I might be staying only out of pity, not love.

Now, I wrestle with two questions:

If My Dear One rises again financially, would I still want to be with him because of who he is, not because I feel sorry for him?

If I choose The New One who’s more stable, would my heart truly be at peace — or would I still glance back at the past with guilt?

Sometimes I feel that this dilemma isn’t just about love,
but also about who I am, and what I truly seek in life —
security, love, or both?

A reflection for you who are reading this:
Have you ever stood at the point where love and logic pull you in opposite directions?
Would you rather choose a peaceful heart, or a certain future?
Share your story or reflection in the comments — perhaps we can strengthen one another amidst dilemmas that don’t always have easy answers.


Minggu, 26 Oktober 2025

Ketika Kekosongan Itu Sirna (When the Emptiness Faded Away)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Teman-teman, pernahkah kalian merasa kosong?
Bukan sekadar lelah, tapi benar-benar hampa — seolah hidup berjalan tanpa warna dan dada terasa berat setiap kali mencoba bernapas. Aku pun pernah ada di titik itu. Di masa itu, aku meragukan penyertaan dan kehadiran Tuhan dalam hidupku. Rasanya sepi sekali.

Namun hari ini, aku ingin bersaksi: rasa kosong itu telah sirna.
Sekarang, aku merasa hidup. Dalam doa, aku mulai rutin mengucap syukur — untuk keluargaku yang masih sehat, untuk Abang Sayang yang masih ada, untuk pekerjaanku, dan untuk kesehatanku sendiri. Saat aku belajar bersyukur, aku sadar bahwa Tuhan tidak pernah pergi. Ia tetap hadir dan menyertaiku.

Relasiku dengan Tuhan mungkin belum pulih sepenuhnya. Aku masih jarang membaca renungan untuk mendengar suara-Nya. Mungkin karena luka setahun lalu — ketika ekspektasiku tentang perkawinan dengan Tuan tidak sesuai kenyataan. Dulu, aku begitu rajin membaca firman, tapi setelah kegagalan kesaksian di tahun 2023, semangat itu perlahan luntur.

Namun kini, aku memahami satu pelajaran rohani yang berharga:

Bahkan ketika kita tak menyadari kehadiran Tuhan, saat kita belajar mensyukuri berkat-Nya, di sanalah kita akan menemukan Dia.

Jika aku bisa berbicara pada diriku yang dulu, aku akan berkata:
“Tenang saja. Tuhan hadir dan menyertai langkah kakimu.”

Dan mungkin, untukmu yang membaca ini dan sedang merasa kosong —
berhentilah sejenak. Lihatlah sekelilingmu.
Ada napas, ada kasih, ada berkat kecil yang diam-diam sedang membisikkan:

“Aku di sini, anak-Ku.” 🌿



In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Friends, have you ever felt empty?
Not just tired — but truly hollow, as if life has lost its color and every breath feels heavy. I once found myself in that place. During that time, I doubted God’s presence and guidance in my life. It was a very lonely season.

But today, I want to testify that the emptiness has vanished.
Now, I feel alive again. In my prayers, I’ve begun to give thanks — for my family who are still healthy, for my beloved one who is still here, for my work, and for my own health. As I learned to give thanks, I realized that God had never left. He was always here, walking beside me.

My relationship with God is not yet perfect. I still rarely read devotionals or listen to His voice through Scripture. Perhaps it’s the lingering wound from a year ago — when my expectations about marriage with someone dear didn’t match reality. I used to love reading God’s Word, but after that disappointment in 2023, my devotion slowly faded.

Yet now, I understand a precious spiritual truth:

Even when we fail to sense God’s presence, when we begin to recognize His abundant blessings, we will find Him there.

If I could speak to the version of myself who once felt empty, I would say:
“Be still. God is here, and He is guiding your every step.”

And perhaps, to you who are reading this and still feel empty —
pause for a moment. Look around you.
There is breath, there is love, there are small blessings quietly whispering:

“I am here, My child.” 🌿


Minggu, 19 Oktober 2025

🌿 Ketika Aku Tidak Bisa Tertawa Selama Satu Tahun (🌿 When I Couldn’t Laugh for a Year)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu membayangkan hidup tanpa tawa?
Aku dulu tidak pernah terpikir bahwa kehilangan kemampuan untuk tertawa bisa menjadi bentuk penderitaan yang begitu sunyi. Namun, itulah yang kualami. Selama hampir satu tahun, aku tidak bisa tertawa.

Hal pertama yang membuatku sadar adalah ketika aku menonton video lucu — hal yang biasanya mudah memancing tawa. Kali itu, aku hanya menatap layar datar. Tidak ada reaksi. Tidak ada geli. Tidak ada tawa. Hanya hening yang terasa berat.

Awalnya aku menganggap itu hal sepele. Tapi lama-kelamaan aku sadar, ada sesuatu yang hilang dari hidupku. Aku mulai merindukan suara tawaku sendiri — yang dulu lepas, hangat, dan penuh hidup. Rasanya aneh sekali menyadari bahwa ketawa, sesuatu yang tampak sederhana, ternyata adalah karunia yang patut disyukuri.

Rasa tawaku hilang setelah aku dighosting oleh seseorang yang sangat berarti bagiku — Tuan. Sejak itu, seolah seluruh cahaya dari dalam diriku meredup. Aku masih mencoba berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain, tapi di dalam, aku merasa kosong. Tak ada seorang pun yang benar-benar menyadari bahwa aku bahkan sudah lupa rasanya tertawa.

Di masa itu, aku sering berdoa. Hampir setiap hari aku memohon kepada Roh Kudus,

“Tolong aku… mampukan aku untuk tertawa lagi.”

Awalnya doaku hanya berpantul di dinding kamar — sepi. Tapi perlahan, Ia menjawab. Bukan lewat mujizat besar, melainkan lewat hal-hal kecil: video lucu yang tiba-tiba terasa sedikit menggelitik, percakapan ringan yang membuatku tersenyum tipis, momen kecil yang membuat dadaku sedikit hangat.

Tawa itu memang tidak datang seketika. Tapi sedikit demi sedikit, aku mulai bisa tertawa lagi. Tidak sekeras dulu, tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa Tuhan masih bekerja dalam hidupku. Bahwa Roh Kudus benar-benar hadir — bahkan di dalam proses sekecil mengembalikan tawa yang hilang.

Pernah aku kecewa kepada Tuhan. Aku sempat marah karena merasa ditinggalkan. Tapi kini aku tahu, bahkan dalam diam-Nya, Ia sedang memulihkan sesuatu yang rusak dalam diriku.

Kalau aku bisa berbicara kepada diriku yang dulu — yang kehilangan tawa — aku akan berkata:

“Bertahan, ya. Sabar, sebentar lagi kau pasti akan ketawa. Mintalah bantuan Roh Kudus. Ia tidak akan menolak permintaan sekecil itu.”

Dan benar, Ia tidak pernah menolak.


Refleksi untukmu yang membaca ini:
Mungkin kamu juga sedang berada di masa di mana sukacita terasa jauh, di mana tawa tak lagi mudah muncul.
Jika iya, izinkan Roh Kudus menyentuh hatimu perlahan.
Mintalah Ia memulihkan apa pun yang hilang — bahkan hal sekecil tawa — sebab bagi Tuhan, tidak ada yang terlalu sepele untuk dipulihkan.

Karena di hadirat-Nya ada sukacita berlimpah-limpah.
(Mazmur 16:11)




In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Have you ever imagined living without laughter?
I never thought that losing the ability to laugh could become such a quiet kind of suffering.
But that’s what happened to me. For almost a year, I couldn’t laugh.

The first thing that made me realize it was when I watched a funny video — something that would usually make me laugh easily. But that time, I just stared at the screen blankly. No reaction. No amusement. No laughter. Only a heavy silence.

At first, I thought it was nothing. But over time, I realized something had gone missing from my life.
I started to miss the sound of my own laughter — the one that used to be free, warm, and full of life.
It felt strange to realize that laughter, something so simple, is actually a gift to be thankful for.

My laughter disappeared after I was ghosted by someone who once meant a lot to me — Tuan.
Since then, it felt as if all the light inside me dimmed.
I tried to act fine around others, but deep down, I felt empty.
No one really noticed that I had forgotten what it felt like to laugh.

During that time, I often prayed. Almost every day I asked the Holy Spirit,

“Please… help me laugh again.”

At first, my prayers only echoed against the walls of my room — silent.
But slowly, He answered.
Not through grand miracles, but through small things: a funny video that suddenly felt a little amusing, a light conversation that made me smile faintly, tiny moments that warmed my heart.

The laughter didn’t return all at once. But little by little, I began to laugh again.
Not as loudly as before, but enough to let me know that God was still working in my life.
That the Holy Spirit was truly present — even in something as small as restoring a lost laugh.

There was a time when I felt disappointed in God.
I was angry, thinking He had left me.
But now I know — even in His silence, He was healing something broken within me.

If I could speak to my past self — the one who had forgotten how to laugh — I would say:

“Hold on. Be patient. You’ll laugh again soon. Ask the Holy Spirit for help. He never rejects even the smallest prayer.”

And truly, He never does.


A reflection for you who are reading this:
Maybe you’re also in a season where joy feels distant, where laughter doesn’t come easily.
If so, let the Holy Spirit touch your heart gently.
Ask Him to restore whatever has been lost — even something as small as laughter — for to God, nothing is too small to be healed.

For in His presence there is fullness of joy.
(Psalm 16:11)


Tuhan Menyembuhkan, Bahkan Saat Aku Merasa Jauh (God’s Healing, Even When I Feel Far From Him)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kadang pemulihan tidak datang lewat mukjizat besar, tapi lewat satu kalimat sederhana dari oran...