Minggu, 13 September 2026

Perfect Love and the Agony of Gethsemane

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Hari ini, saya sedang scroll Threads dan menemukan sebuah diskusi yang menarik.

Ada sebuah postingan yang menyatakan bahwa bahkan Yesus berdoa di Taman Getsemani, “Kalau bisa, lalukanlah cawan ini dari pada-Ku.” Kemudian, seseorang bertanya, “Jadi, apakah Yesus takut? Saya kan orang awam. Bisa bantu menjelaskan ayat 1 Yohanes 4:16 dan 1 Yohanes 4:18?”

1 Yohanes 4:16 mengatakan:

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”

Kemudian 1 Yohanes 4:18 mengatakan:

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”

Lalu muncul pertanyaan: Kalau Yesus mengalami ketakutan di Getsemani, apakah itu berarti Ia berada di luar kasih? Dan kalau Ia berada di luar kasih, apakah itu berarti Ia bukan Allah?

Menurut saya, pertanyaan ini menarik. Saya pun mencoba merenungkannya dan mencari penjelasan melalui tafsiran Alkitab.

Menurut Matthew Henry’s Commentary (MHC), Yesus mengalami penderitaan dan ketakutan yang sangat besar di Getsemani. Namun, MHC menjelaskan bahwa penderitaan tersebut bukan disebabkan oleh luka-luka atau siksaan fisik karena pada saat itu belum ada seorang pun yang melukai-Nya. Sebaliknya, penderitaan yang Ia alami berasal dari pergumulan yang begitu dalam di dalam diri-Nya ketika Ia menghadapi apa yang akan segera terjadi.

MHC menjelaskannya demikian:

“. . Yang dialamiNya itu disebut ketakutan yang sangat besar, sebuah pertentangan Apa yang dialamiNya bukanlah rasa sakit atau siksaan badan karena sesungguhnya tidak ada yang melukai Dia saat itu. Akan tetapi, apapun yang membuatnya tersiksa berasal dari dalam diriNya sendiri. . .”

Lalu, bagaimana hal ini berkaitan dengan 1 Yohanes 4:16 dan 1 Yohanes 4:18?

MHC menjelaskan bahwa kasih yang sempurna dalam 1 Yohanes 4:18 melenyapkan ketakutan terhadap penghukuman dan penghakiman Allah. Orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah dan percaya kepada kasih-Nya tidak perlu hidup dalam ketakutan terhadap hukuman yang akan datang. Sebaliknya, kasih Allah memberi mereka keberanian untuk menghadapinya.

". . . Orang-orang yang benar-benar mengasihi Allah karena sifat, nasihat, dan kovenanNya, juga benar-benar yakin akan kasihNya, dan sebagai  akibatnya, mereka juga bebas dari dugaan menakutkan apapun mengenai kuasa dan keadilan penghukumanNya, sebab mereka dipersenjatai untuk menghadapinya.. . ."

Hal ini membuat saya memahami bahwa perkataan “kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” bukan berarti seseorang yang mengasihi Allah tidak akan pernah mengalami rasa takut, kegelisahan, atau penderitaan batin.

Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan akan penghukuman dan keterpisahan dari Allah.

Ada juga perbedaan antara takut terhadap penghukuman Allah dan takut akan Allah dalam arti hormat, gentar, dan takjub kepada-Nya. Rasa takut yang kudus kepada Allah tidak bertentangan dengan kasih. Justru kita dipanggil untuk menghormati dan memuliakan-Nya.

Karena itu, penderitaan Yesus di Getsemani tidak seharusnya langsung dipahami sebagai tanda bahwa Ia tidak memiliki kasih atau bahwa Ia berada di luar kasih Allah.


Ia mengalami penderitaan yang begitu dalam karena Ia dengan rela menghadapi penderitaan yang ada di hadapan-Nya.

Doa-Nya, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi,” bukanlah penolakan terhadap Bapa. Sebaliknya, doa tersebut menunjukkan ketaatan dan kasih-Nya yang sempurna kepada Bapa.

Dan mungkin, ada sesuatu yang juga penting bagi kita sebagai manusia biasa.

Mengalami ketakutan tidak otomatis berarti iman kita lemah. Merasa cemas tidak berarti kita berhenti mengasihi Allah. Merasa begitu tertekan oleh penderitaan tidak berarti Allah telah meninggalkan kita.


Karena itu, 1 Yohanes 4:18 bukan berarti setiap orang yang pernah merasa takut pasti tidak sempurna dalam kasih. Ayat ini justru mengarahkan kita kepada kasih yang secara perlahan membebaskan kita dari ketakutan akan penghukuman, karena kita tahu bahwa kita dikasihi oleh Allah.

Kasih yang sempurna bukan berarti kita tidak akan pernah gemetar.

Kasih yang sempurna berarti bahwa bahkan ketika kita gemetar, kita tetap dapat mempercayai Dia yang mengasihi kita.

Dan mungkin, inilah salah satu hal indah yang dapat kita pelajari dari Getsemani: ketakutan dan kasih dapat hadir di dalam hati yang sama. Namun, kasih yang sempurna mengajarkan kepada kita kepada siapa kita harus percaya di tengah-tengah ketakutan kita.

Amin.


In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit. Amen.

Today, I was scrolling through Threads and came across an interesting discussion.

Someone posted that even Jesus prayed in the Garden of Gethsemane, saying, “If it is possible, let this cup pass from Me.” Then someone else asked:

“So, was Jesus afraid? I’m just an ordinary person. Could someone help explain 1 John 4:16 and 1 John 4:18?

‘We have come to know and to believe the love that God has for us. God is love, and whoever remains in love remains in God and God in him.’

And:

‘There is no fear in love, but perfect love drives out fear, because fear has to do with punishment. Whoever fears is not made perfect in love.’

How do we understand this? If Jesus was afraid, does that mean He was outside of love? And if He was outside of love, does that mean He was not God?”

I found this question very interesting, so I reflected on it and looked into biblical commentaries.

According to Matthew Henry’s Commentary (MHC), Jesus experienced an overwhelming sense of anguish and fear in Gethsemane. However, MHC explains that His agony was not caused by physical wounds or the pain of crucifixion at that moment. No one was physically hurting Him in the garden. Rather, His suffering came from the immense anguish He experienced within Himself as He faced what was before Him.

MHC describes it this way:

“. . . What He experienced is described as a great agony, a profound inner conflict. What He experienced was not physical pain or bodily suffering, for no one was physically hurting Him at that moment. Rather, whatever caused Him distress came from within Himself. . . .”

So, how does this relate to 1 John 4:16 and 1 John 4:18?

MHC explains that the perfect love spoken of in 1 John removes the fearful expectation of God’s judgment and punishment. Those who truly love God and trust in His love do not have to live in terror of the coming judgment. Instead, His love gives them confidence to face it.

MHC describes it this way:

". . . Those who truly love God for His character, His counsels, and His covenant also have a firm confidence in His love. As a result, they are free from any fearful apprehension concerning the power and justice of His judgment, because they are equipped to face it. . . ."


This helped me understand that “perfect love drives out fear” does not mean that a person who loves God will never experience fear, anguish, or emotional suffering.

Rather, it means that perfect love drives out the fear of condemnation and punishment.

There is also a distinction between being afraid of God’s judgment and having reverent fear of God. Holy fear, awe, and reverence toward God are not contrary to love. In fact, Scripture teaches us to honor and revere Him.

Perhaps this is why the agony of Jesus in Gethsemane should not immediately be understood as a sign that He lacked love or that He was somehow outside of God’s love.


He was in anguish precisely as He willingly faced the suffering that lay before Him.

His prayer, “Not My will, but Yours be done,” reveals not a rejection of the Father, but perfect obedience and perfect love.

And perhaps this is also something important for us as ordinary human beings.

Experiencing fear does not automatically mean that our faith is weak. Feeling anxious does not mean that we have stopped loving God. Being overwhelmed by suffering does not mean that God has left us.


Therefore, 1 John 4:18 is not telling us that a person who ever feels afraid is imperfect in every sense. Rather, it points us toward a love that gradually frees us from the fear of condemnation, because we know that we are loved by God.

Perfect love does not necessarily mean that we will never tremble.

It means that even when we tremble, we can still trust the One who loves us.

And perhaps that is one of the most beautiful things we can learn from Gethsemane: fear and love can exist in the same heart, but perfect love teaches us whom to trust in the midst of our fear.

Amen.

Selasa, 08 September 2026

Covered by Grace: A Testimony of Forgiveness

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Halo, teman-teman.

Aku berharap artikel ini menemukanmu dalam keadaan yang baik.
 

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” — Mazmur 32:1

Apakah teman-teman pernah merasa begitu malu terhadap masa lalu sampai berharap tidak seorang pun mengetahuinya?

Aku pernah.

Dan kalau kamu juga pernah merasakannya, mungkin tulisan ini untukmu.

Ketika SMA, aku pernah berelasi dengan seseorang. Sebut saja namanya M. Awalnya, M ingin menjadikanku sebagai kekasihnya. Kebetulan, aku juga menyukainya.

Namun, kisah kami justru mengantarkanku kepada kehidupan yang terasa seperti neraka.

Ketika kami berelasi, M mengancam akan meninggalkanku kalau aku tidak memberikan foto bugilku. Bodohnya, aku mengirimkannya.

Setelah itu, dia mengancam akan menyebarkan foto tersebut kalau aku tidak mengirimkan foto lagi. Karena ketakutan, aku kembali mengirimkannya.

Begitu terus berulang kali sampai akhirnya kami berpisah.

Belakangan aku menyadari bahwa selama ini aku mengira diriku adalah kekasihnya. Ternyata, aku hanya selingkuhannya.

Aku merasa sangat bodoh.

Aku menyesal atas keputusan-keputusan yang pernah kubuat. Aku merasa jijik terhadap perbuatanku sendiri. Namun, di balik semuanya, sebenarnya aku hanya ingin dicintai.

Aku ingin dicintai dan diterima.

Aku juga sangat takut.

Aku takut suatu hari orangtuaku mengetahuinya. Aku takut orang-orang mengetahuinya. Aku bahkan takut suatu hari nanti suamiku mengetahui masa laluku.

Setiap kali ada berita tentang foto atau video intim seseorang yang tersebar dan menjadi viral, hatiku langsung berdebar. Aku takut kalau-kalau itu adalah fotoku.

Tetapi, Puji Tuhan.

Tuhan baik kepadaku.

Sampai hari ini, setiap kali ada foto atau video intim yang viral, itu bukan fotoku. Aku bersyukur kepada Tuhan.

Dulu, aku berpikir bahwa “dosaku ditutupi” berarti tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang pernah kulakukan.

Namun, semakin aku merenungkan Mazmur 32:1, aku belajar bahwa maknanya jauh lebih dalam.

Tuhan tidak menutupi dosaku karena Dia tidak tahu apa yang telah kulakukan.

Tuhan tahu.

Dia mengetahui semuanya.

Dia mengetahui keputusan-keputusan buruk yang pernah kubuat. Dia mengetahui rasa takutku. Dia mengetahui rasa maluku. Dia mengetahui bagian-bagian dari masa laluku yang bahkan sulit untuk kuakui kepada diriku sendiri.

Namun, Dia tetap mengampuniku.

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi.”

Betapa besar kasih karunia Tuhan.

Sampai sekarang pun, aku masih belajar mempercayakan hidupku sepenuhnya kepada-Nya.

Kadang-kadang aku masih berharap HP mantanku rusak supaya foto-fotoku benar-benar musnah. Aku masih takut sesuatu dari masa lalu itu muncul kembali.

Tetapi aku mulai belajar bahwa mempercayakan hidup kepada Tuhan bukan berarti aku tidak pernah merasa takut.

Mempercayakan hidup kepada Tuhan berarti aku tetap datang kepada-Nya bahkan ketika aku takut.

Aku tidak bisa mengendalikan HP orang lain.

Aku tidak bisa mengendalikan masa lalu.

Aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi di masa depan.

Tetapi aku bisa menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

Puji Tuhan, aku sudah bertobat.

Perjalananku juga tidak selalu mulus. Beberapa kali aku gagal. Beberapa kali aku kembali jatuh.

Namun, Tuhan tidak meninggalkanku.

Sedikit demi sedikit, Tuhan membawaku keluar dari kehidupan seksual yang dahulu mengikatku. Hari ini, aku bisa berkata bahwa aku sudah dibebaskan dari kehidupan itu.

Bukan karena aku kuat.

Bukan karena aku lebih baik daripada orang lain.

Tetapi karena kasih karunia Tuhan.

Karena itu, kalau kamu sedang membaca tulisan ini dan kamu juga memiliki masa lalu yang membuatmu malu, aku ingin mengatakan satu hal kepadamu:

Masa lalumu bukanlah seluruh identitasmu.

Apa yang pernah kamu lakukan bukan berarti kamu tidak dapat diampuni.

Dan kalau kamu sudah datang kepada Tuhan dengan hati yang bertobat, jangan terus menghukum dirimu sendiri atas dosa yang sudah kamu serahkan kepada-Nya.

Tuhan tahu semuanya.

Dan Dia tetap mengasihimu.

Hari ini aku masih belajar percaya.

Masih belajar menyerahkan ketakutanku.

Masih belajar menerima bahwa aku sudah diampuni.

Dan mungkin, itulah perjalanan iman: bukan menjadi manusia yang tidak pernah takut, tetapi terus belajar berkata,

“Tuhan, aku tidak mampu mengendalikan semuanya. Karena itu, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu.”

Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya.

Berbahagialah orang yang dosanya ditutupi.

Kiranya kita semua boleh mengalami kasih karunia Tuhan yang sama.

Puji Tuhan.




In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Hello, friends.

I hope this article finds you well.
 

“Blessed is the one whose transgression is forgiven, whose sin is covered.”
 — Psalm 32:1

Have you ever felt so ashamed of your past that you wished no one would ever find out?

I have.

And if you have ever felt the same way, perhaps this story is for you.

When I was in high school, I was in a relationship with someone. Let’s call him M. At first, M wanted me to be his girlfriend. As it happened, I liked him too.

But our relationship eventually led me into a life that felt like hell.

While we were together, M threatened to leave me if I did not send him nude photos of myself. Foolishly, I sent them.

After that, he threatened to share the photos if I did not send him more. Because I was afraid, I sent more.

This continued repeatedly until we eventually broke up.

Later, I realized that I had thought I was his girlfriend. In reality, I was only the other woman.

I felt so foolish.

I regretted the decisions I had made. I felt disgusted with myself because of what I had done. But beneath all of it, the truth was that I simply wanted to be loved.

I wanted to be loved and accepted.

I was also terrified.

I was afraid that one day my parents would find out. I was afraid that other people would find out. I was even afraid that someday my future husband would discover my past.

Whenever I heard about someone's intimate photos or videos being leaked and going viral, my heart would race. I was afraid that they might be mine.

But praise God.

God has been good to me.

To this day, whenever intimate photos or videos go viral, they have not been mine. I am grateful to God.

I used to think that having my “sins covered” meant that no one would ever find out what I had done.

But the more I reflect on Psalm 32:1, the more I realize that it means something much deeper.

God does not cover my sins because He does not know what I have done.

He knows.

He knows everything.

He knows the wrong decisions I have made. He knows my fear. He knows my shame. He knows the parts of my past that are even difficult for me to admit to myself.

And yet, He still forgives me.

“Blessed is the one whose transgression is forgiven, whose sin is covered.”

What an incredible grace.

Even now, I am still learning to trust Him with my whole life.

Sometimes I still find myself wishing that my ex-boyfriend's phone would break so that my photos would be completely destroyed. I am still afraid that something from my past might resurface.

But I am learning that trusting God does not mean that I will never be afraid.

Trusting God means that I continue to come to Him even when I am afraid.

I cannot control someone else's phone.

I cannot control the past.

I cannot guarantee what will happen in the future.

But I can surrender everything to God.

Praise God, I have repented.

My journey has not always been smooth. I have failed several times. There were times when I fell back into my old ways.

But God did not abandon me.

Little by little, God has been leading me out of the sexual lifestyle that once held me captive. Today, I can say that I have been set free from that life.

Not because I am strong.

Not because I am better than anyone else.

But because of God's grace.

So, if you are reading this and you also carry a past that fills you with shame, I want to tell you one thing:

Your past does not define your entire identity.

What you have done does not mean that you are beyond forgiveness.

And if you have already come before God with a repentant heart, do not keep punishing yourself for the sins you have already surrendered to Him.

God knows everything.

And He still loves you.

Today, I am still learning to trust.

Still learning to surrender my fears.

Still learning to accept that I have been forgiven.

And perhaps that is what the journey of faith looks like: not becoming a person who is never afraid, but continually learning to say,
 

“God, I cannot control everything. Therefore, I surrender my life to You.”

Blessed is the one whose transgression is forgiven.

Blessed is the one whose sin is covered.

May we all experience the same grace of God.

Praise God.

PS: Threatening to share someone's intimate photos is a form of coercion and exploitation. If you ever experience this, please tell your teacher or your parents and report it. Don't make the same mistake I did.


Minggu, 06 September 2026

Ilahi (the Divine)

Tatkala Ilahi mengenalkanku pada semesta

Tingginya pohon dalam hutan 

Amukan petir menyambar relung

Deburan ombak memecah karang

Kencangnya angin merobek sukma

Tergantung bintang dan bulan menemani sepinya malam

Terselip dalam rendah 

Aku sangatlah kecil 


Bandung, 26 April 2018


When the Divine Introduced Me to the Universe

The towering trees within the forest,

The thunder striking the depths,

The crashing waves breaking against the rocks,

The fierce wind tearing through the soul,

The stars and moon hanging above,
keeping company with the solitude of the night.

Amidst it all, in my smallness,

I realize how very small I am.

Bandung, April 26, 2018

Aku Masih Takut, Aku Masih Berdoa, Tetapi Aku Memilih Percaya (I’m Still Afraid, I’m Still Praying, But I Choose to Trust)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Halo, teman-teman.

Semoga artikel ini menemukan kalian dalam keadaan baik.

Apakah teman-teman pernah merasa sedih karena doa yang kita panjatkan seolah-olah tidak didengarkan?

Aku juga pernah merasakan hal itu.

Setiap hari, aku selalu berdoa agar mama, bapak, abang sayang, dan adikku dilindungi dari sakit penyakit.

Puji Tuhan, mama dan adikku sehat. Bapak juga masih dalam kondisi yang terkontrol, meskipun beliau memiliki pembengkakan jantung dan kadar kreatinin yang tinggi.

Namun, beberapa waktu lalu, Abang Sayang terkena Bell's palsy. Sudah sekitar seminggu Abang harus beristirahat di rumah. Mendengar kabar itu, aku lemas. Aku khawatir. Aku takut. Aku sedih dan bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak mengabulkan doaku?

Awalnya, aku merasa sedih karena aku percaya Tuhan telah berjanji memberikan rancangan damai sejahtera. Lalu aku berpikir, kalau Abang sakit seperti ini, di mana damai sejahtera itu?

Aku tidak tahu kapan Abang akan sembuh. Katanya, Bell's palsy dapat membutuhkan waktu beberapa minggu, bahkan dalam beberapa kasus bisa sampai berbulan-bulan. Aku mulai memikirkan banyak hal. Kalau sampai dua bulan Abang tidak bisa bekerja, bagaimana kalau dia kehilangan pekerjaannya?

Aku juga merasa tidak berdaya. Aku belum bekerja dan tidak punya banyak uang, sehingga aku tidak bisa banyak membantu biaya pengobatannya dan fisioterapinya. Kami juga menjalani hubungan jarak jauh, Rangkasbitung–Cikarang. Aku tidak bisa mendampinginya secara langsung. Aku takut Abang merasa sendirian dalam menghadapi penyakitnya.

Namun, setelah Abang pergi ke dokter, aku bersyukur karena ternyata kondisinya tidak terlalu parah. Dokter meminta Abang untuk tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat dan beristirahat.

Aku juga bersyukur karena Tuhan masih memelihara kami. Abang mengalami Bell's palsy, bukan stroke, kanker, gagal ginjal, atau penyakit berat lainnya yang selama ini sempat menjadi ketakutanku. Tuhan juga menyediakan biaya untuk pengobatannya.

Sebelumnya, aku berpikir bahwa kalau aku sudah berdoa setiap hari supaya keluargaku dilindungi dari sakit penyakit, maka seharusnya mereka tidak sakit.

Tetapi melalui sakitnya Abang, aku belajar bahwa perlindungan Tuhan tidak selalu berarti kita tidak akan mengalami penderitaan.

Aku mulai menyadari bahwa Tuhan yang baik bukan berarti Tuhan selalu memberikan apa yang aku minta. Terkadang, kebaikan Tuhan tetap ada bahkan ketika jawaban-Nya tidak seperti yang kuharapkan.

Aku belajar menyerahkan Abang ke dalam tangan Tuhan.

Aku juga mulai belajar bahwa damai sejahtera tidak selalu berarti tidak adanya masalah. Damai sejahtera juga bisa berarti memiliki Tuhan ketika masalah itu datang.

Aku masih berdoa supaya Abang sembuh. Aku masih berdoa supaya pekerjaannya tetap ada. Aku masih berharap Tuhan memberikan kesembuhan secepatnya.

Tetapi sekarang aku belajar bahwa imanku tidak boleh bergantung pada apakah Tuhan menjawab doaku sesuai dengan keinginanku atau tidak.

Aku mau belajar percaya bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika aku belum mengerti jalan-Nya.

Aku tidak tahu kapan Abang akan sembuh. Aku tidak tahu bagaimana keadaan pekerjaannya nanti. Tetapi aku tahu satu hal: aku tidak berjalan sendirian, dan Abang juga tidak berjalan sendirian.

Aku mau menyerahkan Abang ke dalam tangan Tuhan dan terus mendampinginya, bahkan dari jauh.

Aku masih takut. Aku masih berdoa. Aku belum tahu jawabannya.

Tetapi aku memilih percaya.


In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Hello, friends.

I hope this article finds you well.

Have you ever felt sad because it seemed like your prayers were not being heard?

I have felt that way too.

Every day, I pray that my mother, father, my beloved Abang, and my younger sibling will be protected from sickness and disease.

Praise God, my mother and my younger sibling are healthy. My father is also in a stable condition, although he has an enlarged heart and high creatinine levels.

However, a little while ago, my beloved Abang was diagnosed with Bell's palsy. He has been resting at home for about a week now. When I heard the news, I felt weak. I was worried. I was afraid. I was sad, and I wondered, why didn't God answer my prayer?

At first, I felt sad because I believe that God has promised to give us plans for peace and hope. Then I wondered, if Abang is sick like this, where is that peace?

I don't know when Abang will recover. I heard that Bell's palsy can take several weeks to recover from, and in some cases, it can take several months. I started thinking about many things. If Abang cannot work for two months, what if he loses his job?

I also felt powerless. I am currently unemployed and don't have much money, so I cannot do much to help with his medical and physiotherapy expenses. We are also in a long-distance relationship, living in Rangkasbitung and Cikarang. I cannot be there physically to accompany him. I was afraid that Abang would feel alone while facing his illness.

However, after Abang went to the doctor, I was grateful to learn that his condition was not too severe. The doctor advised him to avoid strenuous activities and get plenty of rest.

I was also grateful because God was still taking care of us. Abang had Bell's palsy—not a stroke, cancer, kidney failure, or another serious illness that I had feared. God also provided for his medical expenses.

Before this happened, I thought that if I prayed every day for my family to be protected from sickness, then they should not get sick.

But through Abang's illness, I am learning that God's protection does not always mean that we will never experience suffering.

I am beginning to understand that a good God does not necessarily mean that God will always give me what I ask for. Sometimes, God's goodness remains present even when His answer is not what I hoped for.

I am learning to place Abang in God's hands.

I am also learning that peace does not always mean the absence of problems. Sometimes, peace means having God with us when the problems come.

I am still praying for Abang to recover. I am still praying that he will keep his job. I am still hoping that God will heal him as soon as possible.

But now I am learning that my faith cannot depend on whether God answers my prayers according to what I want.

I want to learn to trust that God is still good, even when I do not understand His ways.

I don't know when Abang will recover. I don't know what will happen to his job. But I know one thing: I am not walking through this alone, and neither is Abang.

I want to place Abang in God's hands and continue to accompany him, even from afar.

I am still afraid. I am still praying. I still don't know the answer.

But I choose to trust.



Minggu, 16 Agustus 2026

Ketika Tuhan Menjawab Doaku dan Menjaga Orang yang Kukasihi (When God Answered My Prayer and Kept My Loved One Safe)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Dua minggu yang lalu, Abang Sayang mengabariku bahwa dia akan touring ke Bogor bersama klub motornya dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia pada tanggal 16–17 Agustus 2026.

Abang mengatakan bahwa mereka akan berangkat pada pukul 11 malam tanggal 16 Agustus 2026. Kemudian, pada tanggal 17 Agustus 2026, mereka akan mengikuti upacara di Bogor.

Aku tidak melarang Abang untuk pergi. Aku hanya berkata kepadanya, “Jangan ngebut-ngebut.”

Namun, Abang menjawab, “Ya, Abang lihat teman-teman Abang. Kalau mereka pada ngebut, ya Abang ngebut. Nanti kalau lama, Abang ketinggalan.”

Mendengar jawaban itu, aku langsung merasa takut.

Selama dua minggu berikutnya, aku merasa cemas. Aku takut Abang mengalami kecelakaan karena ngebut di perjalanan. Karena itu, aku membawa kekhawatiranku dalam doa kepada Tuhan.

Aku berdoa,

“ Tuhan, gagalkanlah rencana Abang ke Bogor. Kalau doa sederhana ini saja tidak dikabulkan, bagaimana aku dapat percaya bahwa doa-doa besarku akan Engkau kabulkan?”

Aku terus mendoakan hal tersebut selama dua minggu.

Kemudian, pada sore hari tanggal 16 Agustus, aku bertanya kepada Abang, “Bagaimana persiapannya menuju Bogor?”

Abang menjawab, “Abang nggak jadi berangkat. Abang kecapean.”

Aku langsung bersyukur dan bersukacita. Aku merasa Tuhan telah menjawab doaku. Aku bisa bernapas lega karena Abang tidak jadi berangkat touring ke Bogor.

Mungkin bagi orang lain, batalnya sebuah perjalanan karena kelelahan adalah hal yang biasa. Namun, bagiku, perkataan sederhana Abang, “Abang nggak jadi berangkat. Abang kecapean,” menjadi jawaban atas doa yang selama dua minggu kubawa kepada Tuhan.

Aku kembali diingatkan bahwa terkadang jawaban Tuhan datang melalui hal-hal yang sangat sederhana dan biasa.

Aku tidak tahu bagaimana Tuhan bekerja di balik semua kejadian ini. Namun, pada hari itu, aku hanya bisa mengucap syukur karena Tuhan memberikan ketenangan atas kekhawatiran yang selama dua minggu memenuhi hatiku.

Puji Tuhan. Tuhan mendengar doaku. ❤️



In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Two weeks ago, my boyfriend, whom I lovingly call “Abang Sayang,” told me that he was going on a motorcycle tour to Bogor with his motorcycle club to celebrate the 81st anniversary of the Independence of the Republic of Indonesia on August 16–17, 2026.

He told me that they would leave at 11 p.m. on August 16, 2026. Then, on August 17, they would attend a flag-raising ceremony in Bogor.

I did not forbid Abang from going. I only told him, “Please don’t speed.”

However, he replied, “I’ll see what my friends are doing. If they’re speeding, then I’ll speed too. Otherwise, I’ll be left behind.”

I immediately became afraid.

For the next two weeks, I felt anxious. I was afraid that Abang might get into an accident because of speeding on the way to Bogor. So I brought my worries to God in prayer.

I prayed,

“God, please prevent Abang from going to Bogor. If You cannot even answer this simple prayer, how can I trust You with the bigger prayers in my life?”

I continued praying about this for two weeks.

Then, on the afternoon of August 16, I asked Abang, “How are your preparations for going to Bogor?”

He replied, “I’m not going anymore. I’m too tired.”

I immediately felt grateful and joyful. I felt that God had answered my prayer. I could finally breathe a sigh of relief because Abang was not going on the motorcycle tour to Bogor.

Perhaps for other people, canceling a trip because of exhaustion might seem like an ordinary thing. But to me, Abang’s simple words, “I’m not going anymore. I’m too tired,” became an answer to the prayer I had been bringing to God for two weeks.

Once again, I was reminded that sometimes God’s answers come through very simple and ordinary things.

I do not know how God was working behind all of these circumstances. But that day, all I could do was give thanks because God brought peace to my heart after two weeks of worry.

Praise God. God heard my prayer. ❤️


Perfect Love and the Agony of Gethsemane

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Hari ini, saya sedang scroll Threads dan menemukan sebuah diskusi yang menarik. Ada sebuah post...