Tampilkan postingan dengan label Sukacita Nagisa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sukacita Nagisa. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2026

Tuhan Menyembuhkan, Bahkan Saat Aku Merasa Jauh (God’s Healing, Even When I Feel Far From Him)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Kadang pemulihan tidak datang lewat mukjizat besar, tapi lewat satu kalimat sederhana dari orang lain:
“Kamu sekarang sudah kelihatan ceria.”

Beberapa bulan lalu, teman-teman kantorku berkata bahwa wajahku murung, kosong, seperti orang linglung. Pada saat itu, aku masih mengonsumsi antidepresan dan antipsikotik atas penyakit skizoafektif tipe depresi dd/ depresi berat dengan ciri psikotik. Yang kurasakan saat itu hanyalah sedih dan bingung. Aku tidak mengerti mengapa ekspresiku dinilai demikian, karena dalam keseharianku aku merasa tidak selelah itu. Aku tidak sadar bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

Dua hari yang lalu, temanku mengatakan bahwa ekspresiku sudah jauh lebih baik—tidak murung dan tidak linglung lagi. Hari ini, salah satu OB di kantorku juga bilang kalau aku sudah terlihat ceria. Puji Tuhan. Aku percaya Tuhan menyembuhkanku. Mungkin juga ini berkaitan dengan proses setelah aku putus obat. Mungkin obat memengaruhi ekspresiku saat itu. Hal ini terlihat sepele, tetapi bagiku menjadi salah satu tanda awal pemulihan.

Dalam proses ini, Abang Sayang dan keluargaku menjadi orang-orang yang Tuhan kirimkan sebagai support system. Perubahan ini terasa datang tiba-tiba, karena teman-teman kantor dan OB baru menyadarinya di waktu-waktu terakhir ini.

Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku sudah kembali pulih—lebih ceria dan tidak murung lagi. Tuhan tetap ada dan hadir menyembuhkanku, bahkan di masa ketika aku merasa jauh dari-Nya.

Jika kamu yang membaca tulisan ini sedang berada di fase murung, kosong, atau bahkan tidak sadar bahwa dirimu sedang lelah, aku ingin bilang: pemulihan itu nyata dan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Jangan menyerah. Tuhan tetap bekerja, bahkan saat kita merasa tidak merasakan apa-apa.

🤍


Greetings in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Sometimes healing does not come through great miracles, but through a simple sentence spoken by someone else:
“You look cheerful again.”

A few months ago, my coworkers told me that my face looked gloomy, empty, and dazed. At that time, I was still taking antidepressants and antipsychotics for schizoaffective disorder, depressive type / major depressive disorder with psychotic features. What I felt back then was sadness and confusion. I did not understand why my expression was seen that way, because in my daily life I did not feel that exhausted. I did not realize that I was not doing well.

Two days ago, a coworker told me that my expression had improved significantly—not gloomy and not dazed anymore. Today, one of the office cleaning staff also told me that I looked cheerful. Praise be to God. I believe God has healed me. Perhaps this is also related to the process after I stopped taking medication. Perhaps the medication affected my expression at that time. It may seem trivial, but for me, it became one of the early signs of recovery.

In this process, my beloved partner and my family became the people God sent to be my support system. This change felt sudden, because my coworkers and the office staff only noticed it recently.

I am grateful to God that I have returned to a place of recovery—more cheerful and no longer gloomy. God remained present and faithful in healing me, even in times when I felt far from Him.

If you who are reading this are in a phase of gloom, emptiness, or perhaps not even aware that you are exhausted, I want to say this: recovery is real and it can begin with small things. Do not give up. God is still at work, even when we feel nothing at all.

🤍


Minggu, 26 Oktober 2025

Ketika Kekosongan Itu Sirna (When the Emptiness Faded Away)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Teman-teman, pernahkah kalian merasa kosong?
Bukan sekadar lelah, tapi benar-benar hampa — seolah hidup berjalan tanpa warna dan dada terasa berat setiap kali mencoba bernapas. Aku pun pernah ada di titik itu. Di masa itu, aku meragukan penyertaan dan kehadiran Tuhan dalam hidupku. Rasanya sepi sekali.

Namun hari ini, aku ingin bersaksi: rasa kosong itu telah sirna.
Sekarang, aku merasa hidup. Dalam doa, aku mulai rutin mengucap syukur — untuk keluargaku yang masih sehat, untuk Abang Sayang yang masih ada, untuk pekerjaanku, dan untuk kesehatanku sendiri. Saat aku belajar bersyukur, aku sadar bahwa Tuhan tidak pernah pergi. Ia tetap hadir dan menyertaiku.

Relasiku dengan Tuhan mungkin belum pulih sepenuhnya. Aku masih jarang membaca renungan untuk mendengar suara-Nya. Mungkin karena luka setahun lalu — ketika ekspektasiku tentang perkawinan dengan Tuan tidak sesuai kenyataan. Dulu, aku begitu rajin membaca firman, tapi setelah kegagalan kesaksian di tahun 2023, semangat itu perlahan luntur.

Namun kini, aku memahami satu pelajaran rohani yang berharga:

Bahkan ketika kita tak menyadari kehadiran Tuhan, saat kita belajar mensyukuri berkat-Nya, di sanalah kita akan menemukan Dia.

Jika aku bisa berbicara pada diriku yang dulu, aku akan berkata:
“Tenang saja. Tuhan hadir dan menyertai langkah kakimu.”

Dan mungkin, untukmu yang membaca ini dan sedang merasa kosong —
berhentilah sejenak. Lihatlah sekelilingmu.
Ada napas, ada kasih, ada berkat kecil yang diam-diam sedang membisikkan:

“Aku di sini, anak-Ku.” 🌿



In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Friends, have you ever felt empty?
Not just tired — but truly hollow, as if life has lost its color and every breath feels heavy. I once found myself in that place. During that time, I doubted God’s presence and guidance in my life. It was a very lonely season.

But today, I want to testify that the emptiness has vanished.
Now, I feel alive again. In my prayers, I’ve begun to give thanks — for my family who are still healthy, for my beloved one who is still here, for my work, and for my own health. As I learned to give thanks, I realized that God had never left. He was always here, walking beside me.

My relationship with God is not yet perfect. I still rarely read devotionals or listen to His voice through Scripture. Perhaps it’s the lingering wound from a year ago — when my expectations about marriage with someone dear didn’t match reality. I used to love reading God’s Word, but after that disappointment in 2023, my devotion slowly faded.

Yet now, I understand a precious spiritual truth:

Even when we fail to sense God’s presence, when we begin to recognize His abundant blessings, we will find Him there.

If I could speak to the version of myself who once felt empty, I would say:
“Be still. God is here, and He is guiding your every step.”

And perhaps, to you who are reading this and still feel empty —
pause for a moment. Look around you.
There is breath, there is love, there are small blessings quietly whispering:

“I am here, My child.” 🌿


Kamis, 21 Agustus 2025

Damai Sejahtera atas Luka Lama (Peace Over Old Wounds)

Salam dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.

Tadi, saya mengalami pop-up ingatan tentang masa lalu yang buruk. Saya teringat bahwa dulu saya bodoh dalam matematika. Hal ini membuat saya tidak bisa meraih juara di bidang tersebut. Namun, di sisi lain, saya gemar pelayanan di gereja.

Sayangnya, keaktifan saya dalam pelayanan gereja tidak diapresiasi oleh bapak saya. Beliau pernah berkata, "Bapak mah pinginnya kamu juara, bukan organisasi di gereja."

Apakah teman-teman pernah mengalami hal yang sama? Jika ya, mungkin tulisan ini bisa cocok untukmu.

Meski begitu, hal yang saya rasakan dari pop-up ingatan tersebut sekarang berbeda. Saya tidak lagi merasakan hurt feeling. Justru yang muncul adalah damai sejahtera.

Puji Tuhan, doa penyembuhan batin yang saya panjatkan bahkan dalam tidur pun terkabulkan. Saya merasa bersyukur bisa merasakan damai sejahtera atas pengalaman buruk tersebut.

Semoga, bukan hanya untuk peristiwa ini saja saya bisa merasakan damai sejahtera, melainkan juga dalam berbagai pengalaman hidup lainnya. Kiranya damai sejahtera itu terus menyertai kita.

Damai Kristus menyertaimu. 



In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Earlier today, I experienced a pop-up memory from a difficult past. I remembered how I used to struggle with mathematics. Because of that, I could never win any awards in the subject. Yet, on the other hand, I loved serving in the church.

Unfortunately, my father did not appreciate my active involvement in church ministry. He once said, “What I want is for you to win, not to be active in church organizations.”

Have you ever experienced something similar? If so, perhaps this writing may speak to you.

Even so, what I felt from recalling that memory today was different. I no longer carry hurt feelings. Instead, what fills my heart now is peace.

Praise the Lord, the prayer for inner healing—even in my sleep—has been answered. I feel grateful that I can experience peace over such a painful memory.

I pray that this peace will not only cover this one event but also extend into other areas of my life. May this peace continue to be with us always.

Peace of Christ be with you.


Selasa, 05 Agustus 2025

Di Tengah Penantian Jodoh, Aku Menolak Minyak Pelet (In the Waiting Season, I Refused a Love Charm)

Salam dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus

Apakah teman-teman sedang dalam masa penantian jodoh?

Jika iya, maka tulisan ini cocok untuk kalian.

Aku merasa bahwa hidup ini tidak mudah dijalani jika ada pilihan-pilihan hidup di dalamnya.

Kemarin, saya ditawari pimpinan saya minyak bulus untuk mempermudah jodoh.

Apakah teman-teman tahu minyak bulus? Itu loh, yang buat pelet orang dari dukun. Minyak pelet ini berasal dari dukun di Kalimantan atau Sulawesi.

Bagi orang yang sudah berpendidikan tinggi, minyak pelet ini tidak masuk akal. Tapi, di tengah-tengah kehausan tentang jodoh, minyak pelet ini memiliki angin yang tinggi untuk menggoda imanku.

Namun, saya memilih untuk percaya kepada Kristus dan rancangan-Nya dibandingkan menggunakan minyak pelet dukun.

Semoga Kristus cepat mengantarku ke pasanganku.

Damai Kristus menyertai


In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit. Amen.

Are you currently in a season of waiting for your future spouse?

If so, then this writing might speak to you.

I feel that life is not easy to go through, especially when it comes with so many choices.

Just yesterday, my superior offered me minyak bulus — a type of oil supposedly used to attract a partner more easily.

Do you know what minyak bulus is? It’s a kind of love charm oil made by shamans from Kalimantan or Sulawesi.

For those of us who are highly educated, such things may sound irrational. But in the midst of longing and thirst for companionship, this love charm carried a strong breeze of temptation against my faith.

Yet, I chose to trust Christ and His plans over using a shaman’s love spell.

May Christ swiftly lead me to the one He has prepared for me.

Peace of Christ be with you.

Kamis, 03 Juli 2025

Memilih Kristus di Antara Dua Tuan (Choosing Christ Over Mammon)

Salam dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus

Pada tanggal 16 Juni 2025 s.d. 21 Juni 2025, saya ada dinas ke luar kota. Saya sangat bersukacita sekali karena bisa melihat wilayah lain di luar domisili saya.

Pada saat pulang dinas, saya mempertanggungjawabkan tugas saya dengan membuat laporan. Saat itu, laporan pertanggungjawaban saya dikembalikan. Karena, penggunaan anggarannya terlalu real. Saya harus mark up rincian penggunaan anggaran atau mengembalikan anggaran yang tidak digunakan.

Saat itu, saya memutuskan untuk mengembalikan anggaran yang tidak digunakan sebesar Rp200.000,-. Meskipun saya butuh duit.

Kenapa?
Saya ingin memilih Kristus dibandingkan Mammon.

Matius 6:24 (TB)
"Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Saat itu, saya langsung berdoa dengan seenak jidatnya,

"Tuhan, bertanggungjawablah atas penghidupan saya kalau Engkau masih memanggil saya untuk hidup."

Esok harinya, sepupu jauh saya melangsungkan perkawinan. Saya ikut menortor. Lalu, saya dapat Rp250.000 dan 5 Dollar Australia.

Tuhan mendengar doa dan Maha Memelihara hidup saya.

Saya bersukacita karena saya bisa memilih pilihan yang baik.

Damai Kristus menyertai.




In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

From June 16th to June 21st, 2025, I was on an official trip out of town. I was filled with great joy because I had the opportunity to see a region beyond my place of residence.

Upon returning from the trip, I prepared my accountability report. However, the report was returned because the financial details were considered "too real." I was told to mark up the budget details or return the unused funds.

At that moment, I chose to return the unused amount of Rp200,000, even though I needed the money.

Why?
Because I wanted to choose Christ over Mammon.

Matthew 6:24 (NIV)
"No one can serve two masters. Either you will hate the one and love the other, or you will be devoted to the one and despise the other. You cannot serve both God and money."

Right then, I casually prayed,

"Lord, if You still call me to live, then please take responsibility for my livelihood."

The next day, a distant cousin of mine had a wedding. I joined the traditional Batak dance (tortor). Then, I received Rp250,000 and 5 Australian Dollars.

God heard my prayer and faithfully provided for me.

I rejoiced because I had chosen what was right.

May the peace of Christ be with you.

Senin, 26 Mei 2025

Bukan Karena Tak Bersyukur, Tapi Karena Tak Kuat (Not Because I Was Ungrateful, But Because I Wasn’t Strong Enough)

 

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Aku ingin berbagi secuil kisah yang mungkin terdengar aneh. Tapi kisah ini nyata, dan menandai titik balik dalam perjalanan hidupku bersama Tuhan.

Aku bersyukur pernah bekerja di kantor hukum—karena menjadi advokat adalah cita-citaku sejak lama. Bahkan aku diberi bantuan untuk pengambilan sumpah advokat. Itu anugerah besar. Tapi lambat laun, tekanan pekerjaan mulai menggerusku dari dalam.

Aku yang tidak kuat mental ini merasa perlahan runtuh. Aku mulai meragukan diriku sendiri. Tapi aku tidak berani mengundurkan diri. Aku takut dipandang tidak tahu diri, tidak bersyukur—oleh Tuhan, oleh orang-orang yang membantuku, bahkan oleh diriku sendiri.

Sampai akhirnya, dalam doa yang lirih dan penuh beban, aku berkata:

“Tuhan, aku bukannya tidak bersyukur. Tapi aku sungguh-sungguh tidak kuat. Kalau Engkau izinkan aku dipecat, aku akan lebih bersyukur lagi. Aku percaya Engkau akan membuka jalan yang lain.”

Keesokan paginya, aku benar-benar dipecat.
Dan anehnya, aku merasa lega.
Bukan karena aku senang kehilangan pekerjaan, tapi karena aku tahu: Tuhan mendengar. Tuhan mengerti.

Aku bahkan mentraktir teman-teman sekantor siang itu—sebagai bentuk syukurku atas kelegaan yang baru saja Tuhan berikan.

Tak sampai dua bulan kemudian, aku mendapatkan pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan kapasitas mentalku. Bukan hanya itu, aku juga mendapat kesempatan melanjutkan S2 di salah satu universitas terbaik di Indonesia—bonus yang datang sebagai jawaban atas doa novena kepada Hati Kudus Yesus.

Melalui kesaksian ini, aku ingin menyapa siapa pun yang sedang berada di titik nyaris menyerah.
Kamu yang bekerja sambil menahan tangis.
Kamu yang bertahan demi keluarga, meski hatimu hancur setiap hari.
Kamu luar biasa.

Aku tidak menyarankanmu untuk berdoa agar dipecat atau langsung resign. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa Tuhan melihatmu. Tuhan tidak tuli. Tuhan tidak buta.
Kelelahanmu tidak akan sia-sia di hadapan-Nya.

Dalam Alkitab, Yusuf pun pernah berada dalam tekanan pekerjaan yang berat. Ia memilih melarikan diri saat godaan datang dari istri tuannya. Ia difitnah dan dipenjara. Tapi Tuhan tetap menyertainya—hingga akhirnya ia menjadi wakil Firaun di tanah Mesir (Kej. 41:40–42).

Aku pun dulu menganggap cerita-cerita seperti itu terlalu jauh dari kenyataan. Tapi sekarang aku tahu, Tuhan memang hadir. Bahkan dalam cara yang tak terduga.

Kiranya damai Kristus menyertai kita semua.
Dan semoga siapa pun yang membaca ini bisa menemukan kembali nafasnya, satu helaan demi satu helaan.

Amin.



In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

I want to share a small piece of my story—one that may sound strange. But this story is real, and it marks a turning point in my journey with God.

I was grateful to have worked at a law firm—because becoming a lawyer had been my dream for a long time. I was even given financial support to take the oath as an advocate. That was a huge blessing. But gradually, the pressure of the job began to eat away at me from the inside.

With a fragile mind, I started to crumble. I began to doubt myself. But I didn’t dare to resign. I was afraid of being seen as ungrateful—by God, by the people who had helped me, and even by myself.

Until one day, in a quiet and burdened prayer, I said:

“Lord, it’s not that I’m ungrateful. But I truly am not strong enough. If You allow me to be dismissed, I would actually be even more grateful. I believe You will open another path for me.”

The next morning, I was actually fired.
And strangely, I felt relieved.
Not because I was happy to lose a job, but because I knew: God heard me. God understood.

That very afternoon, I treated my coworkers to lunch—as a form of thanksgiving for the relief God had just given me.

In less than two months, I got a new job—one that was much more suitable for my mental capacity. And not only that, I was also granted the opportunity to pursue my master’s degree at one of the best universities in Indonesia—a bonus that came as an answer to a novena prayer to the Sacred Heart of Jesus.

Through this testimony, I want to speak to anyone who’s standing on the edge of giving up.
To you who work while holding back tears.
To you who keep going for your family, even though your heart is breaking every single day—
You are incredible.

I’m not suggesting that you pray to be fired or resign immediately. But I do want you to know this:
God sees you.
God is not deaf.
God is not blind.
Your exhaustion is not in vain before Him.

In the Bible, Joseph also experienced intense pressure at work. He chose to flee when temptation came through his master’s wife. He was falsely accused and imprisoned. But God remained with him—until he eventually became Pharaoh’s second-in-command in Egypt (Genesis 41:40–42).

I used to think stories like that were too far from reality. But now I know: God is present.
Even in the most unexpected ways.

May the peace of Christ be with us all.
And may anyone reading this find their breath again—one inhale at a time.

Amen.


Jumat, 23 Mei 2025

Sukacita yang Masih Aku Cari (The Joy I'm Still Searching For)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Aku berharap tulisan ini menemukanmu dalam keadaan sehat walafiat.

Awalnya, aku hendak menulis tentang syukur—karena itu yang lebih aku pahami. Aku bersyukur atas banyak hal: atas doa-doa yang dikabulkan, atas pertolongan Tuhan yang datang di waktu yang tepat. Tapi entah mengapa, hatiku justru mendorongku untuk menulis tentang sukacita. Jujur saja, aku tidak tahu kenapa. Karena sampai sekarang, aku sendiri belum yakin apakah aku sudah bersukacita… atau bahkan tahu apa itu sukacita.

Yang aku tahu, aku masih mengingat luka-luka yang belum sembuh. Aku mungkin sudah mati rasa terhadapnya, tapi bukan berarti sudah pulih. Maka menulis tentang sukacita rasanya seperti bicara tentang sesuatu yang jauh—sekaligus dekat. Aneh, ya?

Tapi justru karena itu, aku menulis. Sebagai bentuk perjalanan. Sebagai ruang untuk mencari dan mengenali apa itu sukacita—dengan jujur, dengan terbuka.


Ketika Doa Menjadi Air Mata

Tahun 2019, aku memilih berhenti bekerja karena sedang berduka atas kepergian Oppung Mami. Saat aku merasa cukup kuat untuk kembali bekerja, aku mulai melamar pekerjaan. Tapi nyatanya, mendapatkan pekerjaan tidaklah semudah itu. Teman-temanku sudah bekerja, sementara aku masih bergumul sebagai pengangguran—diiringi tekanan dari keluarga.

Aku berdoa dengan segala cara. Bahkan, pernah suatu kali aku berdoa lalu muntah setelahnya. Tubuhku ikut lelah. Tapi di antara semua doa itu, ada satu kalimat yang kurasa menyentuh hati Tuhan lebih dalam daripada yang lain:

“Tuhan, terserah mau buat aku nganggur sampai kapan. Asal jangan sampai tahun depan. Tahun depan adikku mau kuliah. Kasihan mamak dan bapak.”

Dan pada Januari 2020, aku diterima di salah satu kantor hukum terbaik. Pekerjaan itu sesuai dengan cita-citaku sebagai advokat. Rasanya seperti pelukan lembut setelah badai panjang. Mungkin… mungkin itu adalah benih sukacita. Meskipun aku tetap tidak tahu apakah itu benar-benar sukacita. Karena aku tidak tahu bagaimana seharusnya perasaan sukacita itu terasa.


Sukacita yang Tidak Bisa Dipaksakan

Kalau kamu sedang mengalami masa sulit—seperti aku dulu saat menganggur—dan kamu tidak bisa bersukacita, itu bukan salahmu. Kita tidak bisa memaksa diri untuk bersukacita. Kadang, orang lain yang melihat lebih dulu apakah ada sukacita dalam diri kita. Sukacita, seperti buah Roh lainnya, tumbuh pelan-pelan dan bisa dirasakan orang di sekitar kita, bahkan sebelum kita menyadarinya.

Aku menulis ini bukan karena aku sudah mengerti semuanya. Aku menulis ini karena aku ingin jujur. Karena aku rindu tetap berjalan dalam kasih Kristus, meski belum bisa tersenyum dengan penuh.


Untukmu yang Juga Masih Mencari

Jika kamu juga sedang mencari sukacita, mari kita cari bersama. Mungkin sukacita tidak selalu hadir dalam bentuk tawa atau senyum lebar. Kadang, ia hadir dalam bentuk napas lega. Kadang, dalam pelukan diam. Kadang, dalam kekuatan untuk tetap bangun di pagi hari dan berkata, “Tuhan, aku belum menyerah.”

It's not our fault kalau kita tidak bisa bersukacita hari ini. Tapi jangan berhenti melangkah. Karena sukacita bukan ujian kelulusan. Ia adalah buah dari relasi yang terus bertumbuh.

Kiranya damai sejahtera Kristus menyertai kita semua.

— Nona Nagisa

In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

I hope this writing finds you in good health and peace.

At first, I intended to write about gratitude—because that’s what I understand better. I am grateful for many things: for prayers that have been answered, for God’s help that always comes at the right time. But somehow, my heart nudged me to write about joy. To be honest, I don’t know why. Because even now, I’m not sure if I’ve ever truly felt joy… or even know what joy really is.

What I do know is—I still remember wounds that haven’t healed.
Maybe I’ve grown numb to them, but that doesn’t mean I’ve recovered.
And so, writing about joy feels like talking about something both far away—and strangely near.
Weird, isn’t it?

But perhaps that’s exactly why I’m writing.
As a part of the journey.
As a space to search and recognize what joy really is—with honesty, with openness.


When Prayer Becomes Tears

In 2019, I chose to quit my job while grieving the death of my grandmother, Oppung Mami.
When I felt strong enough to return to work, I started applying to jobs.
But in reality, getting hired wasn’t that easy.
My friends had all found jobs, while I was still struggling with unemployment—and with pressure from my family.

I prayed in every way I could.
There was even a time when I prayed and ended up vomiting right after.
My body was exhausted.
But in the midst of all those prayers, one sentence felt like it pierced God’s heart more deeply than the others:

“Lord, it’s okay if I stay unemployed for a while. Just please… not next year. My little brother is starting college. Please don’t burden Mom and Dad even more.”

And in January 2020, I was accepted to one of the best law firms in the country.
That job aligned perfectly with my dream of becoming a lawyer.
It felt like a soft embrace after a long storm.
Maybe… maybe that was the seed of joy.
Even though I still didn’t know if it really was joy.
Because I didn’t know what joy was supposed to feel like.


Joy Cannot Be Forced

If you’re going through a hard time—like I once did during my unemployment—and you’re finding it hard to feel joyful, it’s not your fault.
We can’t force ourselves to feel joy.
Sometimes, others can sense it in us before we ever notice it ourselves.
Joy, like the other fruits of the Spirit, grows slowly.
And often, others feel it before we do.

I’m not writing this because I understand everything.
I’m writing this because I want to be honest.
Because I long to keep walking in Christ’s love, even if I still don’t know how to smile fully.


To You Who Are Still Searching, Too

If you’re also searching for joy, let’s search together.
Maybe joy doesn’t always come in the form of laughter or wide smiles.
Sometimes, it comes as a deep sigh of relief.
Sometimes, in a silent embrace.
Sometimes, in the quiet strength to wake up in the morning and say, “Lord, I haven’t given up yet.”

It’s not our fault if we don’t feel joyful today.
But don’t stop walking.
Because joy is not a test we have to pass.
It is a fruit—born from a relationship that keeps growing.

May the peace of Christ be with us all.

Nona Nagisa

Tuhan Menyembuhkan, Bahkan Saat Aku Merasa Jauh (God’s Healing, Even When I Feel Far From Him)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kadang pemulihan tidak datang lewat mukjizat besar, tapi lewat satu kalimat sederhana dari oran...