Rabu, 12 Agustus 2026

Belajar Tidak Bersandar pada Pengertian Sendiri ( Learning Not to Lean on My Own Understanding)



Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Adakah teman-teman yang pernah merasa ceroboh dalam mengambil keputusan? Kalau iya, kamu tidak sendiri. Aku pun pernah mengalaminya.

Awalnya, aku bekerja sebagai Tenaga Ahli Hukum dengan penghasilan sebesar Rp92.000.000 untuk proyek yang kukerjakan selama delapan bulan. Aku sangat bersyukur atas pekerjaanku. Melalui pekerjaan ini, aku bahkan mendapat kesempatan melakukan perjalanan dinas ke Sulawesi dan Kalimantan.

Biasanya, kontrak kami dapat langsung diperpanjang setiap tahun. Namun, untuk kontrak tahun 2026, aku harus mengikuti proses lamaran kembali dan ada kemungkinan aku tidak diterima.

Dalam menghadapi ketidakpastian itu, aku mulai bersandar pada pengertianku sendiri. Aku mulai memikirkan pekerjaan cadangan sebagai lawyer di kantor hukum milik temanku.

Awalnya, aku ingin menunggu terlebih dahulu proses pelamaran di tempat kerjaku. Namun, karena temanku terus menanyakan kepastian apakah aku akan bekerja di kantornya, akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku.

Ternyata, bekerja sebagai lawyer bukanlah hal yang mudah bagiku saat itu. Aku harus melakukan pekerjaan yang bukan kebiasaanku, mencari klien, dan menghadapi tuntutan public speaking, sementara aku sedang berada dalam kondisi yang tidak baik. Aku kesulitan berkonsentrasi, banyak hal yang dulu kukuasai terasa sulit kuingat, dan aku merasa sangat tidak percaya diri. Akibatnya, aku kesulitan menjalankan pekerjaanku sebagai lawyer.

Aku hanya bertahan selama dua minggu di kantor temanku. Karena merasa tidak mampu menjalankan pekerjaan tersebut, aku akhirnya mengundurkan diri lagi dan memilih untuk menganggur.

Kemudian datang sebuah hal yang semakin membuatku menyesal. Ternyata, semua rekan kerjaku yang sebelumnya juga bekerja sebagai Tenaga Ahli mendapatkan perpanjangan kontrak.

Saat itu aku berpikir, “Seandainya aku tidak resign, mungkin aku masih memiliki pekerjaan.”

Aku merasa sangat ceroboh.

Namun, setelah melalui proses pergumulan, aku mulai melihat kejadian ini dengan cara yang berbeda.

Aku menyadari bahwa dalam mengambil keputusan tersebut, aku lebih banyak bersandar pada perhitunganku sendiri daripada membawa ketakutanku kepada Tuhan. Aku tidak tahu apakah kehilangan pekerjaan itu merupakan akibat langsung dari ketidakpercayaanku kepada Tuhan. Aku juga tidak ingin mengklaim bahwa aku mengetahui alasan Tuhan mengizinkan semua ini terjadi.

Tetapi melalui peristiwa ini, Tuhan menyadarkanku tentang kecenderunganku untuk mengandalkan pengertianku sendiri.

Firman Tuhan berkata:
 

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” — Amsal 3:5-6 (TB)

Awalnya, aku sangat menyesal karena telah mengundurkan diri dari pekerjaanku yang lama. Namun, perlahan-lahan Tuhan menuntunku untuk berdamai dengan keadaan.

Kini aku belajar melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan yang kuambil. Bukan supaya hidupku tidak pernah mengalami kesalahan atau penyesalan lagi, tetapi supaya dalam setiap keputusan, aku belajar mempercayai Tuhan dan tidak hanya mengandalkan pengertianku sendiri.

Sampai kesaksian ini kubagikan, aku masih menunggu Tuhan membuka jalan untuk pekerjaanku. Aku belum tahu bagaimana Tuhan akan membawa masa depanku. Tetapi kali ini, aku ingin belajar untuk tidak mendahului Tuhan karena ketakutanku.

Aku mau membawa keputusan-keputusanku kepada-Nya, melakukan bagianku dengan sungguh-sungguh, dan belajar percaya bahwa pengertianku tidak lebih luas daripada pengertian Tuhan.

Aku tidak tahu seperti apa akhir dari masa penantianku ini. Tetapi aku percaya, Tuhan tetap bekerja bahkan ketika aku belum dapat melihat jalan-Nya.

Kiranya kesaksianku dapat menguatkan teman-teman yang juga pernah merasa salah mengambil keputusan, menyesal, atau sedang berada dalam masa penantian. Kita mungkin tidak selalu memahami jalan yang sedang Tuhan izinkan kita lalui, tetapi kita dapat belajar untuk tetap mempercayai-Nya.

Tuhan memberkati.




Greetings in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt careless because of a decision you made? If you have, you are not alone. I have experienced that too.

I used to work as a Legal Expert, earning IDR 92,000,000 for an eight-month project. I was very grateful for my job. Through that work, I even had the opportunity to travel to Sulawesi and Kalimantan for business trips.

Usually, our contracts could be extended directly each year. However, for the 2026 contract, I had to apply again, and there was a possibility that my application would not be accepted.

Faced with that uncertainty, I began leaning on my own understanding. I started thinking about a backup plan: working as a lawyer at my friend's law firm.

At first, I wanted to wait for the application process at my previous workplace. However, my friend kept asking me whether I was certain that I would work at his firm. Eventually, I decided to resign from my job.

But working as a lawyer turned out to be difficult for me at that time. I had to do things that were outside my usual routine, find clients, and deal with the demands of public speaking, while I was already struggling personally. I had difficulty concentrating, many things I used to know well became difficult to remember, and I felt extremely insecure. As a result, I struggled to perform my duties as a lawyer.

I only lasted two weeks at my friend's law firm. Because I felt unable to do the job properly, I resigned again and chose to remain unemployed.

Then came something that made me regret my decision even more.

It turned out that all of my former colleagues who had also worked as Legal Experts had their contracts extended.

I thought, “If only I had not resigned, perhaps I would still have a job.”

I felt so careless.

But after going through a period of struggle, I began to see the situation differently.

I realized that when I made that decision, I was relying more on my own calculations than bringing my fears before God. I do not know whether losing my job was a direct consequence of my lack of trust in God. I also do not want to claim that I know why God allowed these things to happen.

But through this experience, God showed me my tendency to rely on my own understanding.

The Word of God says:
 

“Trust in the LORD with all your heart and lean not on your own understanding; in all your ways acknowledge Him, and He will make your paths straight.” — Proverbs 3:5-6

At first, I deeply regretted resigning from my previous job. But little by little, God led me toward making peace with what had happened.

Now I am learning to involve God in every decision I make. Not so that I will never make mistakes or experience regret again, but so that in every decision, I can learn to trust God rather than relying only on my own understanding.

As I share this testimony, I am still waiting for God to open a door for my career. I do not yet know how God will lead me into my future. But this time, I want to learn not to run ahead of God because of my fear.

I want to bring my decisions before Him, do my part faithfully, and learn to trust that my understanding is not greater than His.

I do not know how this season of waiting will end. But I believe that God is still working, even when I cannot yet see the way forward.

I hope my testimony can encourage those who have also made decisions they regret, those who feel they have made a mistake, or those who are currently waiting for a new chapter in their lives. We may not always understand the path God allows us to walk, but we can learn to keep trusting Him.

God bless you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belajar Tidak Bersandar pada Pengertian Sendiri ( Learning Not to Lean on My Own Understanding)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Adakah teman-teman yang pernah merasa ceroboh dalam mengambil keputusan? Kalau iya, kamu tidak ...