Kamis, 13 Agustus 2026

Dari Kebencian kepada Pengampunan: Kesaksian tentang KDRT dan Kasih Karunia Tuhan (From Hatred to Forgiveness: A Testimony of Domestic Violence and God's Grace)



Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Aku tumbuh besar di lingkungan Batak yang sangat patriarkis. Meskipun Ibu juga bekerja, Ibu tetap mengurus urusan domestik dalam rumah tangga tanpa bantuan Bapak sama sekali.

Selain itu, Bapak memiliki temperamen yang buruk. Setiap kali marah, ia sering menggunakan kekerasan. Bapak memukul, menendang, dan menginjak Ibu, serta membanting barang-barang. Aku ingat suatu kali Bapak pernah mencekik Ibu hingga pingsan. Aku dan adikku menangis sambil memanggil Ibu. Puji Tuhan, Ibu selamat.

Ketika mereka bertengkar, aku sering menangis di bawah selimut karena ketakutan. Aku tumbuh menjadi seseorang yang membenci Bapak. Aku bahkan pernah berkata dalam hati bahwa aku akan membunuh Bapak.

Kebencian itu membuatku tidak pernah memandang Bapak sebagai pahlawanku. Aku tidak pernah curhat kepada Bapak, dan nasihatnya pun tidak pernah benar-benar kudengarkan.

KDRT yang terjadi di rumah sangat memengaruhiku ketika kecil. Aku tidak merasa aman berada di sekitar Bapak. Aku menjadi takut ketika mendengar suara orang yang keras atau sedang marah-marah.

Setelah aku kuliah, aku akhirnya bisa merasakan kebebasan dari KDRT di rumah. Namun, kemarahan dan luka akibat KDRT itu ternyata masih tersimpan jauh di dalam diriku. Aku pernah bermimpi bahwa Bapak menyiksa adikku. Aku terbangun dengan tubuh berkeringat sambil berteriak, "Anjing!"

Hingga akhirnya, aku menonton khotbah Rm. Eko Wahyu, OSC. Beliau mengajak kami untuk membayangkan bagaimana perasaan kita jika suatu hari bapak kita meninggal. Jika kita tidak menangis, mungkin ada sesuatu di dalam hati kita yang masih perlu diperbaiki.

Dan aku tidak menangis.

Lebih lanjut, Rm. Eko Wahyu, OSC mengajak kami untuk memeluk bapak kami ketika bertemu dengannya.

Saat itu, aku mulai mencoba untuk mengampuni Bapak.

Suatu hari, aku bermimpi Bapak menyiksaku, tetapi aku tidak bereaksi apa-apa. Aku kemudian bertanya kepada psikologku, "Apakah aku sudah mengampuni Bapak?"

Psikologku menjawab, "Itu mengampuni atau numb?"

Aku tidak tahu.

Namun, ada satu tekad dalam hatiku: aku ingin bertemu Bapak dan memeluknya.

Akhirnya, aku pulang ke rumah. Aku bertemu Bapak.

Aku masih ingat ketika akhirnya berhadapan dengan orang yang dahulu begitu kutakuti. Orang yang pernah membuatku bersembunyi di balik selimut sambil menangis.

Dan sekarang, aku justru berdiri di hadapannya dan memeluknya.

Saat itu, aku tidak merasakan kebencian seperti dahulu. Yang kurasakan justru damai.

Aku belajar bahwa mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kekerasan yang dilakukan Bapak adalah benar. KDRT tetaplah sesuatu yang salah. Mengampuni juga bukan berarti aku harus melupakan apa yang terjadi atau membiarkan kekerasan terjadi kembali.

Bagiku, pengampunan berarti melepaskan kebencian dan keinginan untuk membalas, lalu menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.

Aku tidak tahu apakah luka itu akan pernah benar-benar hilang seluruhnya. Tetapi aku tahu bahwa Tuhan membawaku pada sebuah titik di mana aku tidak lagi ingin hidup dikuasai oleh kebencian kepada Bapak.

Aku yang dahulu bahkan pernah berharap Bapak mati, kini justru bisa memeluknya.

Bagiku, itulah salah satu bentuk kasih karunia Tuhan.

Bagi teman-teman yang pernah mengalami kekerasan dalam keluarga, aku ingin mengatakan:

Pengalaman itu bukan salahmu.

Mengampuni tidak berarti membenarkan kekerasan. Mencari pertolongan juga bukan berarti kurang beriman.

Tuhan dapat memulihkan hati yang terluka, meskipun prosesnya tidak selalu singkat.
 

Notes:

Puji Tuhan, kini bapak sudah bertobat dan tidak kasar lagi. Dan Ibu tetap mempertahankan rumah tangganya




In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

I grew up in a very patriarchal Batak environment. Although my mother also worked, she was still responsible for all the household chores without any help from my father.

My father also had a very bad temper. Whenever he became angry, he often resorted to violence. He would hit, kick, and stomp on my mother, and he would throw and smash things around the house. I remember one time when my father choked my mother until she lost consciousness. My younger sibling and I cried out for our mother. Praise God, she survived.

Whenever my parents fought, I would often hide under my blanket and cry because I was terrified. I grew up hating my father. I even once told myself that I would kill him.

Because of that hatred, I never saw my father as my hero. I never opened up to him, and I never really listened to his advice.

The domestic violence I witnessed had a profound impact on me as a child. I did not feel safe around my father. I became afraid whenever I heard someone speaking loudly or angrily.

After I went to college, I finally experienced freedom from the domestic violence at home. However, the anger and wounds caused by the violence remained buried deep within me.

One night, I dreamed that my father was hurting my younger sibling. I woke up sweating and screaming, "You bastard!"

Eventually, I watched a sermon by Fr. Eko Wahyu, OSC. He encouraged us to imagine how we would feel if our father died someday. If we would not cry, perhaps there was something in our hearts that still needed to be healed.

And I did not cry.

Fr. Eko Wahyu, OSC also encouraged us to embrace our fathers when we met them.

At that moment, I began trying to forgive my father.

One day, I dreamed that my father was hurting me, but I did not react at all. I then asked my psychologist, "Have I forgiven my father?"

My psychologist replied, "Is that forgiveness, or are you numb?"

I didn't know.

But I had one determination in my heart: I wanted to meet my father and embrace him.

Eventually, I went home. I met my father.

I still remember standing face to face with the man I had once been so afraid of. The man who had once made me hide under my blanket and cry.

And now, I was standing in front of him and embracing him.

At that moment, I no longer felt the hatred I had felt before. Instead, I felt peace.

I learned that forgiveness does not mean saying that the violence my father committed was right. Domestic violence is still wrong. Forgiveness also does not mean that I have to forget what happened or allow the violence to happen again.

For me, forgiveness means letting go of hatred and the desire for revenge, and entrusting judgment to God.

I do not know whether the wounds will ever completely disappear. But I know that God brought me to a place where I no longer wanted my life to be controlled by hatred toward my father.

I once even wished that my father would die. Now, I am able to embrace him.

To me, that is one of the ways God's grace has worked in my life.

To anyone who has experienced violence within their family, I want to say this:

What happened to you was not your fault.

Forgiving does not mean justifying violence. Seeking help does not mean that you lack faith.

God can heal a wounded heart, even though the process may not always be quick.


Notes:

Praise God, my father has now repented and is no longer abusive. My mother has also chosen to stay in the marriage.

Rabu, 12 Agustus 2026

Belajar Tidak Bersandar pada Pengertian Sendiri ( Learning Not to Lean on My Own Understanding)



Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Adakah teman-teman yang pernah merasa ceroboh dalam mengambil keputusan? Kalau iya, kamu tidak sendiri. Aku pun pernah mengalaminya.

Awalnya, aku bekerja sebagai Tenaga Ahli Hukum dengan penghasilan sebesar Rp92.000.000 untuk proyek yang kukerjakan selama delapan bulan. Aku sangat bersyukur atas pekerjaanku. Melalui pekerjaan ini, aku bahkan mendapat kesempatan melakukan perjalanan dinas ke Sulawesi dan Kalimantan.

Biasanya, kontrak kami dapat langsung diperpanjang setiap tahun. Namun, untuk kontrak tahun 2026, aku harus mengikuti proses lamaran kembali dan ada kemungkinan aku tidak diterima.

Dalam menghadapi ketidakpastian itu, aku mulai bersandar pada pengertianku sendiri. Aku mulai memikirkan pekerjaan cadangan sebagai lawyer di kantor hukum milik temanku.

Awalnya, aku ingin menunggu terlebih dahulu proses pelamaran di tempat kerjaku. Namun, karena temanku terus menanyakan kepastian apakah aku akan bekerja di kantornya, akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku.

Ternyata, bekerja sebagai lawyer bukanlah hal yang mudah bagiku saat itu. Aku harus melakukan pekerjaan yang bukan kebiasaanku, mencari klien, dan menghadapi tuntutan public speaking, sementara aku sedang berada dalam kondisi yang tidak baik. Aku kesulitan berkonsentrasi, banyak hal yang dulu kukuasai terasa sulit kuingat, dan aku merasa sangat tidak percaya diri. Akibatnya, aku kesulitan menjalankan pekerjaanku sebagai lawyer.

Aku hanya bertahan selama dua minggu di kantor temanku. Karena merasa tidak mampu menjalankan pekerjaan tersebut, aku akhirnya mengundurkan diri lagi dan memilih untuk menganggur.

Kemudian datang sebuah hal yang semakin membuatku menyesal. Ternyata, semua rekan kerjaku yang sebelumnya juga bekerja sebagai Tenaga Ahli mendapatkan perpanjangan kontrak.

Saat itu aku berpikir, “Seandainya aku tidak resign, mungkin aku masih memiliki pekerjaan.”

Aku merasa sangat ceroboh.

Namun, setelah melalui proses pergumulan, aku mulai melihat kejadian ini dengan cara yang berbeda.

Aku menyadari bahwa dalam mengambil keputusan tersebut, aku lebih banyak bersandar pada perhitunganku sendiri daripada membawa ketakutanku kepada Tuhan. Aku tidak tahu apakah kehilangan pekerjaan itu merupakan akibat langsung dari ketidakpercayaanku kepada Tuhan. Aku juga tidak ingin mengklaim bahwa aku mengetahui alasan Tuhan mengizinkan semua ini terjadi.

Tetapi melalui peristiwa ini, Tuhan menyadarkanku tentang kecenderunganku untuk mengandalkan pengertianku sendiri.

Firman Tuhan berkata:
 

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” — Amsal 3:5-6 (TB)

Awalnya, aku sangat menyesal karena telah mengundurkan diri dari pekerjaanku yang lama. Namun, perlahan-lahan Tuhan menuntunku untuk berdamai dengan keadaan.

Kini aku belajar melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan yang kuambil. Bukan supaya hidupku tidak pernah mengalami kesalahan atau penyesalan lagi, tetapi supaya dalam setiap keputusan, aku belajar mempercayai Tuhan dan tidak hanya mengandalkan pengertianku sendiri.

Sampai kesaksian ini kubagikan, aku masih menunggu Tuhan membuka jalan untuk pekerjaanku. Aku belum tahu bagaimana Tuhan akan membawa masa depanku. Tetapi kali ini, aku ingin belajar untuk tidak mendahului Tuhan karena ketakutanku.

Aku mau membawa keputusan-keputusanku kepada-Nya, melakukan bagianku dengan sungguh-sungguh, dan belajar percaya bahwa pengertianku tidak lebih luas daripada pengertian Tuhan.

Aku tidak tahu seperti apa akhir dari masa penantianku ini. Tetapi aku percaya, Tuhan tetap bekerja bahkan ketika aku belum dapat melihat jalan-Nya.

Kiranya kesaksianku dapat menguatkan teman-teman yang juga pernah merasa salah mengambil keputusan, menyesal, atau sedang berada dalam masa penantian. Kita mungkin tidak selalu memahami jalan yang sedang Tuhan izinkan kita lalui, tetapi kita dapat belajar untuk tetap mempercayai-Nya.

Tuhan memberkati.




Greetings in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt careless because of a decision you made? If you have, you are not alone. I have experienced that too.

I used to work as a Legal Expert, earning IDR 92,000,000 for an eight-month project. I was very grateful for my job. Through that work, I even had the opportunity to travel to Sulawesi and Kalimantan for business trips.

Usually, our contracts could be extended directly each year. However, for the 2026 contract, I had to apply again, and there was a possibility that my application would not be accepted.

Faced with that uncertainty, I began leaning on my own understanding. I started thinking about a backup plan: working as a lawyer at my friend's law firm.

At first, I wanted to wait for the application process at my previous workplace. However, my friend kept asking me whether I was certain that I would work at his firm. Eventually, I decided to resign from my job.

But working as a lawyer turned out to be difficult for me at that time. I had to do things that were outside my usual routine, find clients, and deal with the demands of public speaking, while I was already struggling personally. I had difficulty concentrating, many things I used to know well became difficult to remember, and I felt extremely insecure. As a result, I struggled to perform my duties as a lawyer.

I only lasted two weeks at my friend's law firm. Because I felt unable to do the job properly, I resigned again and chose to remain unemployed.

Then came something that made me regret my decision even more.

It turned out that all of my former colleagues who had also worked as Legal Experts had their contracts extended.

I thought, “If only I had not resigned, perhaps I would still have a job.”

I felt so careless.

But after going through a period of struggle, I began to see the situation differently.

I realized that when I made that decision, I was relying more on my own calculations than bringing my fears before God. I do not know whether losing my job was a direct consequence of my lack of trust in God. I also do not want to claim that I know why God allowed these things to happen.

But through this experience, God showed me my tendency to rely on my own understanding.

The Word of God says:
 

“Trust in the LORD with all your heart and lean not on your own understanding; in all your ways acknowledge Him, and He will make your paths straight.” — Proverbs 3:5-6

At first, I deeply regretted resigning from my previous job. But little by little, God led me toward making peace with what had happened.

Now I am learning to involve God in every decision I make. Not so that I will never make mistakes or experience regret again, but so that in every decision, I can learn to trust God rather than relying only on my own understanding.

As I share this testimony, I am still waiting for God to open a door for my career. I do not yet know how God will lead me into my future. But this time, I want to learn not to run ahead of God because of my fear.

I want to bring my decisions before Him, do my part faithfully, and learn to trust that my understanding is not greater than His.

I do not know how this season of waiting will end. But I believe that God is still working, even when I cannot yet see the way forward.

I hope my testimony can encourage those who have also made decisions they regret, those who feel they have made a mistake, or those who are currently waiting for a new chapter in their lives. We may not always understand the path God allows us to walk, but we can learn to keep trusting Him.

God bless you.

Dari Kebencian kepada Pengampunan: Kesaksian tentang KDRT dan Kasih Karunia Tuhan (From Hatred to Forgiveness: A Testimony of Domestic Violence and God's Grace)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Aku tumbuh besar di lingkungan Batak yang sangat patriarkis. Meskipun Ibu juga bekerja, Ibu tet...