Kamis, 05 Juni 2025

Terngiang-ngiang Dosa, Tapi Tetap Dikasihi (Haunted by Guilt, Held by Grace)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Semoga tulisan ini menjadi pelukan lembut bagi setiap rasa bersalah yang kita simpan—baik kepada sesama, kepada Tuhan, maupun kepada diri sendiri.

Hari ini, izinkan aku tidak menanyakan “apa kabar”, tapi satu hal yang lebih sunyi:
Sudahkah kamu mengampuni dirimu sendiri?

Jika jawabanmu adalah belum, maka tulisan ini mungkin ditulis untukmu. Karena aku pun belum sepenuhnya mampu mengampuni diriku sendiri. Dan jujur saja, bagaimana aku bisa mengampuni orang lain, jika aku bahkan belum berdamai dengan hatiku sendiri?

Namun, aku sedang belajar.
Aku belajar untuk menerima semua masa lalu—tanpa menutupinya, tanpa membenarkannya, tapi juga tanpa mengutukinya terus-menerus.

Aku tidak akan membahas dosa dan kesalahan orang lain. Biarlah tulisan ini menjadi ruang bagi luka dan keretakan dalam diriku sendiri. Tapi, bukan sekarang. Mungkin di tulisan lain. Karena luka-luka itu panjang ceritanya.

Yang ingin kubagi hari ini adalah:
Seringkali, aku teringat kembali pada kesalahan—baik yang kulakukan maupun yang dilakukan orang lain padaku.
Seringkali, aku terpicu oleh hal-hal kecil yang membuka kembali pintu rasa bersalah dan amarah.
Dan itu… melelahkan. Sangat melelahkan.

Lalu suatu hari, aku menonton film The Passion of the Christ.
Ada satu adegan yang menghantam hatiku dengan lembut tapi dalam. Saat Yesus berdoa di Taman Getsemani, iblis mendekat dan berkata:
“Tak ada yang mampu menanggung beban dosa.”
Kalau tidak salah, begitu kalimatnya.

Dan saat itu aku sadar—Kristus menanggung semuanya.
Dosa sejak Adam hingga akhir zaman.
Bayangkan, betapa menggema dosa itu di dalam hati-Nya… sambil memikul salib kayu yang berat.

Aku tidak bisa membayangkan betapa Kristus terngiang-ngiang akan dosa-dosa orang.  

Yang lebih menghancurkan hati:
Itu bukan dosa-Nya. Tapi Dia memilih disalahkan.
Dia dipisahkan sejenak dari Bapa karena dosa yang bukan milik-Nya.
Semata-mata karena Dia mencintai kita.

Karena itu, hari ini aku tidak datang dengan penghakiman.
Aku datang dengan ajakan yang sederhana—untukku sendiri dan mungkin juga untukmu:

Mari kita bertobat. Bukan karena takut, tapi karena kita dicintai. Karena kemurahanNya begitu besar, sehingga kita bisa diampuni dari dosa kita. Meskipun kita sendiri belum mampu mengampuni diri sendiri dan orang lain. 
Karena ada salib yang dipikul oleh Dia yang tak berdosa, agar kita yang penuh luka ini bisa dipeluk kembali.

Tuhan Yesus memberkati.


In the Name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

May this writing become a gentle embrace for every trace of guilt we carry—toward others, toward God, and toward ourselves.

Today, allow me not to ask, “How are you?” but something quieter:
Have you forgiven yourself?

If your answer is “not yet,” then perhaps this message is for you.
Because I, too, have not fully forgiven myself.
And honestly, how could I forgive others if I haven’t yet made peace with my own heart?

Still, I am learning.
I’m learning to accept my past—not by denying it, not by justifying it, but also not by condemning it endlessly.

I won’t talk about the sins and wrongs of others. Let this space be a home for my own wounds and brokenness.
But not today. Maybe in another piece. The stories are long.

What I want to share today is this:
Often, I’m haunted by my mistakes—and by the wrongs others have done to me.
Often, small things trigger memories of guilt and pain.
And it is… exhausting. Truly exhausting.

One day, I watched the film The Passion of the Christ.
There was one scene that quietly pierced my heart.
As Jesus prayed in the Garden of Gethsemane, the devil came and whispered:
“No one can bear the weight of sin.”
(If I recall correctly, that was the line.)

And in that moment, I realized—Christ bore it all.
Every sin from Adam to the end of time.
Can you imagine how loud those sins must have echoed in His soul… while He carried the heavy wooden cross?

I can’t begin to imagine how Jesus endured the torment of remembering all the world’s sins.

What breaks my heart even more:
They weren’t His sins. But He chose to be blamed.
He was separated from the Father for a moment, because of sins that weren’t His.
All because He loves us.

And so today, I do not come with judgment.
I come with a simple invitation—for myself, and perhaps for you, too:

Let us repent. Not out of fear, but because we are deeply loved. Because of His great mercy, we can be forgiven of our sins—even when we ourselves are still unable to forgive ourselves and others.

Because His mercy is so vast that we are forgiven—even when we haven’t yet learned how to forgive ourselves or others.
Because there was a cross, carried by the sinless One, so that we who are wounded could be embraced once more.

May the Lord Jesus bless you.


Inkarnasi: Allah yang Turut Terluka (Incarnation: The God Who Chose to Be Wounded with Us)

Dalam Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus

Semoga tulisan ini menjadi pelukan kecil bagi kamu yang sedang kusut.

Akhir-akhir ini, aku sedang merenungkan misteri kasih Allah—kasih yang berdarah, melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Jujur saja, aku belum benar-benar mengerti apa itu cinta dan kasih sayang. Aku ingin menceritakannya, tapi butuh waktu untuk menyusun alasan mengapa aku tak paham tentang cinta dan bagaimana ia bekerja dalam hidupku.

Namun, titik terang itu mulai muncul saat aku membaca Imamat 17:11:

“Sebab nyawa makhluk ada dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu; darahlah yang mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.”

Ayat itu menyadarkan aku bahwa oleh darah, ada pendamaian.

Bahwa darah Kristus tertumpah untuk mendamaikan manusia dengan Bapa, manusia dengan sesamanya, dan bahkan manusia dengan dirinya sendiri.

Lalu aku bertanya: apa hubungan pendamaian dengan kasih?

Pertanyaan itu sempat hilang begitu saja dalam riuhnya hidup sehari-hari.

Sampai akhirnya aku menonton sebuah video tentang pasangan yang sudah “satu iman, satu Tuhan, satu baptisan”—tapi tetap berkonflik karena tidak satu hati dan pikiran.

Aku merenungkan dalam-dalam.

Lalu muncul niat dalam doaku: “Tuhan, mampukanku untuk satu luka, satu hati, dan satu pikiran dengan orang yang aku cintai.”

Namun tiba-tiba aku tertegun.

Kalau aku begitu ingin menyatu dengan manusia yang aku cintai,

mengapa aku tidak terlebih dahulu merindukan hal yang sama dengan Kristus?

Mengapa aku tidak minta untuk satu hati dan satu pikiran dengan Dia yang sudah lebih dulu mencintaiku?

Dan aku menjawab diriku sendiri: karena pikiran dan hati Allah terlalu luas untuk aku selami.

Deg.

Di situlah, muncul sebuah pemahaman—bukan dari doktrin,

tapi seperti tercerahkan akan suatu hal.

Silakan koreksi kalau aku salah.

Aku merasa bahwa Allah menjadi manusia—berinkarnasi—karena Ia ingin menjadi satu luka denganmu.

Pernahkah kamu mencintai seseorang begitu dalam,

hingga kamu berharap bisa ikut mengalami penderitaannya?

Misalnya, seseorang yang kamu cintai pernah dijambret saat baru saja di-PHK.

Dia jadi pahit terhadap dunia, dan kamu berharap kamu juga pernah dijambret saat di-PHK,

agar kamu bisa benar-benar mengerti betapa perihnya luka yang dia bawa?

Begitulah, kurasa.

Saking besar cinta Allah, Ia tidak hanya ingin menyelamatkanmu dari atas takhta surgawi.

Ia ingin terluka bersamamu.

Ia ingin tahu seperti apa rasanya ditolak, dikhianati, dicemooh, dan disalib.

Ia yang hidup dalam kemuliaan kekal rela merasakan getirnya dunia,

karena terlalu sering dan nyaring jeritan doa manusia yang datang dari tempat-tempat yang berdarah dan hancur.

Mungkin itu sebabnya, setiap kali aku mendengar khotbah, Romo atau Pendeta sering berkata,

“Allah juga pernah ditolak.”

Dulu aku mendengarnya seperti kalimat hafalan belaka.

Sampai akhirnya, aku sendiri jatuh cinta.

Dan ingin benar-benar tahu, seperti apa rasanya Kasih Tuhan.

Semoga kamu pun—yang sedang belajar mencintai atau terluka karena cinta—

bisa merasakan bahwa ada Pribadi yang sudah lebih dulu memilih untuk satu luka denganmu.

Dan dari luka itulah, pendamaian itu lahir.

Kasih itu tergenapi.

Damai Kristus menyertai.


In the Name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit

May this writing be a small embrace for you who are feeling tangled.

Lately, I’ve been contemplating the mystery of God’s love—a love that bleeds, through the death and resurrection of Christ.
To be honest, I still don’t fully understand what love and affection truly are.
I want to talk about it, but I need more time to gather the reasons why I don’t quite grasp love or how it works in my life.

But a glimmer of light began to appear when I read Leviticus 17:11:

“For the life of a creature is in the blood, and I have given it to you to make atonement for yourselves on the altar; it is the blood that makes atonement for one’s life.

That verse made me realize that through blood, there is atonement.
That Christ’s blood was shed to reconcile humanity with the Father, with one another, and even with themselves.

Then I asked myself: what does atonement have to do with love?

That question faded into the background amidst the noise of everyday life.
Until one day, I watched a video about a couple who shared “one faith, one Lord, one baptism”—yet still struggled, because they weren’t of one heart and mind.

I reflected deeply.
And this prayer emerged:
“Lord, grant me the grace to be of one wound, one heart, and one mind with the one I love.”

But then I paused.
If I long so deeply to be united with the person I love,
why don’t I first long for the same unity with Christ?
Why don’t I ask to be of one heart and one mind with the One who first loved me?

And I answered myself:
Because God’s heart and mind are too vast for me to comprehend.

Thump.

There, an understanding emerged—not from doctrine, but like a sudden enlightenment about something.

Feel free to correct me if I’m wrong.

I feel that God became human—incarnated—because He wanted to share your wounds.

Have you ever loved someone so deeply,
that you wished you could experience their suffering with them?
Say, someone you love was mugged right after being laid off.
They became bitter toward the world, and you found yourself wishing you had been mugged and laid off too,
just so you could fully understand how deeply that wound hurt?

I think that’s what it’s like.

God’s love was so vast, He didn’t want to save you from atop a heavenly throne.
He wanted to suffer with you.
He wanted to know what it felt like to be rejected, betrayed, mocked, and crucified.
He who lived in eternal glory willingly tasted the bitterness of this world,
because the cries of human hearts—bleeding and broken—were too loud and too many.

Maybe that’s why, every time I hear a homily, the priest or pastor often says,
“God was also rejected.”

I used to hear that as just another memorized phrase.
Until I myself fell in love.
And truly began to wonder what the love of God must feel like.

I hope you too—whether you're learning to love or wounded by love—
can feel that there is Someone who has already chosen to share in your wound.
And from that wound, atonement is born.
Love is fulfilled.

Peace of Christ be with you.



Bayang Liar

Bersandar pada sebuah bangku
Dengan mata yang sayu
Meski angin membelai lembut
Mata dipejam dalam kesunyian
Tapi tak juga daku terlelap
Tanpa engkau beristirahat
Yang sejak tadi berlari-lari di otak


Nona Nagisa,
Bandung, 11 November 2019

Rabu, 04 Juni 2025

Bakti

Duhai Sabda Khalik

Yang bertahta dalam keheningan 

Aku lelah dalam segala perjalananku

Aku patah di setiap sendi-sendi tubuhku

Aku renta dalam jiwaku


Bukan aku tak sabar

Menanti malam-malam berganti menjadi fajar merekah

Aku hanya lelah berkejar-kejaran dengan Maut

Yang di setiap detiknya dapat menjemput 

Doa-doa yang hidup yang mengiringi langkah kecilku

Tanpa sempat kubaktikan diriku


Nona Nagisa,

Minggu, 02 Desember 2019

Rahmat

Selamat malam, Tuan
Betapa indahnya hari ini
Kudengar burung-burung bernyanyi
Diiringi tari-tarian dedaunan yang berguguran
Tapi tak seindah bola matamu

Dengarkanlah aku, Tuan
Aku terima diriku bukan rahmatNya bagimu
Namun, kau masih rahmatNya bagiku
Meskipun kita tidak tahu hikmat Sang Empunya Rahmat. 

Tuhan Menyembuhkan, Bahkan Saat Aku Merasa Jauh (God’s Healing, Even When I Feel Far From Him)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kadang pemulihan tidak datang lewat mukjizat besar, tapi lewat satu kalimat sederhana dari oran...