Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Halo, teman-teman.
Aku berharap tulisan ini menemukan kalian dalam keadaan baik-baik saja.
Apakah teman-teman pernah mengalami putus cinta? Jika pernah, mungkin tulisan ini bisa menjadi teman dalam perjalanan kalian memulihkan diri.
Dahulu, aku pernah berpacaran dengan seseorang yang kusebut S. Dia suka berselingkuh, berjudi, dan berutang. Karena menyadari bahwa dia tidak akan berubah, akhirnya aku memutuskan hubungan dengannya.
Meskipun memiliki banyak karakter buruk, S juga mempunyai sisi baik. Ketika punggungku gatal, dialah yang menggarukkannya. Kami pergi ke gereja bersama, menonton film bersama, dan melakukan banyak hal bersama. Aku punya seseorang untuk diajak mengobrol setiap hari.
Ketika hubungan kami berakhir dan semua kebiasaan itu menghilang, aku mulai merasa kehilangan. Aku merasa sendirian. Aku menangis.
Kemudian, aku melarikan diri kepada alkohol dan cinta satu malam, meskipun hubungan fisik yang kulakukan saat itu hanya sebatas petting. Laki-laki tersebut menghargai keputusanku untuk tidak kehilangan keperawanan.
Namun, semua itu tidak menyembuhkan luka hatiku.
Kemudian, aku bertemu dengan G. Dia terlalu terburu-buru dalam mendekatiku. Saat itu, batasan yang kutetapkan hanya sampai pada chat seks dan petting.
Namun, suatu hari, sesuatu yang tidak pernah kuinginkan terjadi. Aku mengalami kekerasan seksual oleh G. Aku sudah menendang, memukul, dan menangis, tetapi dia tetap memaksaku. Bahkan, aku disekap di kosannya selama tiga hari dan tidak diperbolehkan keluar. Aku baru bisa meninggalkan tempat itu ketika tiba waktunya KKN, sementara G harus menjalani magang di Jakarta.
Hubungan kami hanya bertahan selama satu bulan karena dia tidak mau kuajak bertobat.
Meskipun demikian, G adalah sosok yang romantis dan berkecukupan secara finansial.
Mungkin karena itu, aku kesulitan melepaskan kenangan tentang G.
Aku belum berhasil melepaskan kenangan tentang S, sementara pengalaman bersama G juga membuatku sulit untuk melangkah maju.
Aku kembali melarikan diri kepada alkohol. Namun, sekali lagi, semuanya tidak menyembuhkan kesedihanku. Aku merasa sangat sedih.
Puji Tuhan, aku tidak tertular infeksi menular seksual maupun mengalami kehamilan dari pengalaman-pengalaman tersebut.
Kemudian, aku bertemu dengan seseorang yang kusebut T. Dia adalah teman friends with benefits (FWB)-ku. T sosok yang lembut dan baik. Hubungan kami akhirnya sampai pada hubungan seksual.
Namun, T tidak memiliki kemandirian finansial, suka berjudi, dan gemar minum-minuman keras.
Suatu hari, aku pernah menangis di hadapannya. Dia menepuk-nepuk pundakku dengan lembut. Entah mengapa, saat itu hatiku bergetar. Sejak saat itu, aku mulai memendam perasaan cinta kepadanya.
Namun, akhirnya aku meninggalkannya karena dia terlalu manja dan tidak pernah benar-benar mencintaiku.
Waktu berlalu. Aku berhasil move on dari S dan G, tetapi tidak dari T.
Sejak saat itu, aku mulai bertobat. Puji Tuhan, aku telah meninggalkan kebiasaan mabuk-mabukan dan hubungan seksual di luar pernikahan.
Sampai akhirnya, aku bertemu dengan seseorang yang kusebut Tuan.
Sayangnya, hubungan kami tidak berhasil. Salah satu alasannya adalah karena aku belum sepenuhnya move on dari T. Selain itu, ada beberapa perilaku tidak sehat, baik dariku maupun darinya, yang turut memengaruhi hubungan kami.
Aku menangis setiap hari. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Aku membaca renungan malam, melakukan saat teduh, membaca Alkitab dengan mengikuti program pembacaan satu tahun, serta menyanyikan pujian bagi Tuhan.
Puji Tuhan, aku belajar memproses kehilangan bersama Tuhan. Aku tidak lagi menjadikan alkohol atau hubungan fisik sebagai tempat pelarian. Aku mulai belajar datang kepada Tuhan ketika hatiku terluka.
Kini, aku sudah move on dari mereka semua.
Aku pun kembali menjalin hubungan dengan seseorang yang kusebut Abang Sayang.
Namun, kami memiliki cukup banyak perbedaan. Dia lulusan SMA, sedangkan aku lulusan S2. Gaya komunikasi kami juga berbeda. Aku lebih nyaman berkomunikasi melalui pesan singkat, sementara dia lebih banyak berbicara ketika kami bertemu secara langsung.
Aku juga merasa bahwa inisiatif untuk saling mengenal lebih dalam masih lebih banyak datang dariku. Aku yang lebih sering bertanya dan berusaha mengenalnya, sementara dia belum terlalu menunjukkan inisiatif yang sama.
Saat ini, aku sedang mengevaluasi apakah kami benar-benar cocok untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.
Aku belum tahu bagaimana akhir perjalanan hubungan ini. Mungkin kami akan bersama, mungkin juga tidak.
Namun, ada satu hal yang kupelajari dari perjalanan panjang ini: kehilangan seseorang tidak harus membuatku kehilangan diriku sendiri.
Dahulu, ketika kehilangan seseorang, aku berlari kepada alkohol, hubungan fisik, dan orang lain untuk mengisi kekosongan di hatiku. Aku berpikir bahwa kehadiran seseorang akan membuatku kembali bahagia.
Namun, pengalaman bersama Tuan mengajarkanku sesuatu yang berbeda. Ketika hubungan itu gagal dan aku menangis setiap hari, aku belajar datang kepada Tuhan.
Kini, jika suatu hari hubungan dengan Abang Sayang ternyata tidak berhasil, aku tahu ke mana harus berlari.
Aku akan berlari kepada Tuhan.
Sebab, aku sedang belajar bahwa manusia bisa datang dan pergi, tetapi Tuhan tetap menjadi tempatku bersandar.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau mengajariku untuk menemukan penghiburan di dalam-Mu, bahkan ketika seseorang yang kukasihi tidak lagi berjalan bersamaku.
In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.
Hello, friends.
I hope this writing finds you well.
Have you ever experienced a breakup? If you have, perhaps this story can accompany you on your journey toward healing.
A long time ago, I dated someone whom I will call S. He was unfaithful, enjoyed gambling, and frequently borrowed money. Realizing that he was unlikely to change, I eventually decided to end our relationship.
Despite his many flaws, S also had his good qualities. Whenever my back itched, he would scratch it for me. We went to church together, watched movies together, and did many things together. I had someone to talk to every day.
When our relationship ended and all those familiar routines disappeared, I began to feel the loss. I felt lonely. I cried.
Then, I turned to alcohol and one-night encounters, although the physical intimacy I engaged in at the time never went beyond petting. The man I was with respected my decision not to lose my virginity.
But none of it healed my broken heart.
Later, I met G. He rushed into getting close to me. At that time, the boundaries I had established allowed only sexual conversations and petting.
However, one day, something happened that I never wanted. I experienced sexual violence at the hands of G. I kicked him, hit him, and cried, but he continued to force himself on me. He even confined me in his boarding room for three days and would not let me leave. I was only able to leave when it was time for my university community service program (KKN), while G had to begin his internship in Jakarta.
Our relationship lasted only one month because he refused to repent with me.
Nevertheless, G was romantic and financially well-off.
Perhaps that was why I found it difficult to let go of my memories of G.
I had not been able to let go of my memories of S, while my experience with G also made it difficult for me to move forward
I returned to drinking alcohol. But once again, none of it healed my sadness. I was deeply unhappy.
Thank God, I did not contract any sexually transmitted infections or become pregnant as a result of those experiences.
Later, I met someone whom I will call T. He was my friends-with-benefits (FWB) partner. T was gentle and kind, and our relationship eventually became sexual.
However, T was financially dependent on others, enjoyed gambling, and liked drinking alcohol.
One day, I was crying in front of him. He gently patted my shoulder. Somehow, my heart fluttered at that moment. From then on, I began to develop romantic feelings for him, although I kept them to myself.
Eventually, I left him because he was overly dependent and never truly loved me.
Time passed. I managed to move on from S and G, but not from T.
From that point onward, I began my journey of repentance. Praise God, I have left behind my habits of excessive drinking and engaging in sexual relationships outside marriage.
Eventually, I met someone whom I will call Tuan.
Unfortunately, our relationship did not work out. One of the reasons was that I had not fully moved on from T. In addition, there were unhealthy behaviors on both sides that contributed to the failure of our relationship.
I cried every day. But this time, something was different.
I began reading daily devotionals, spending time in personal prayer, following a one-year Bible reading plan, and singing praises to God.
Praise God, I learned to process my loss with Him. I no longer turned to alcohol or physical intimacy as an escape. I began learning to turn to God whenever my heart was hurting.
Today, I have moved on from all of them.
I am now in a relationship again with someone whom I lovingly call Abang Sayang.
However, we have quite a few differences. He graduated from high school, while I hold a master's degree. Our communication styles are also different. I feel more comfortable communicating through text messages, whereas he tends to be more talkative when we meet in person.
I also feel that most of the initiative to get to know each other more deeply still comes from me. I am usually the one who asks questions and makes an effort to understand him, while he has not shown the same level of initiative.
At the moment, I am evaluating whether we are truly compatible enough to take our relationship to the next level.
I do not yet know how this relationship will turn out. Perhaps we will stay together, or perhaps we will not.
But there is one thing I have learned throughout this long journey: losing someone does not mean I have to lose myself.
In the past, whenever I lost someone, I ran to alcohol, physical intimacy, and other people to fill the emptiness in my heart. I thought that having someone by my side would make me happy again.
But my experience with Tuan taught me something different. When that relationship failed and I found myself crying every day, I learned to turn to God.
Now, if my relationship with Abang Sayang does not work out one day, I know where to run.
I will run to God.
Because I am learning that people may come and go, but God remains the One I can always lean on.
Thank You, Lord, for teaching me to find comfort in You, even when someone I love is no longer walking beside me.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar