Senin, 02 Juni 2025

🎂 Kesaksian Ulang Tahun: Saat Ulang Tahun Terasa Seperti Makam (Birthday Testimony: When a Birthday Feels Like a Grave)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Semoga tulisan ini mampu memeluk jiwamu yang lelah dan sunyi.


🌼 Ucapan yang Tulus

Adakah di antara teman-teman yang berulang tahun hari ini?
Selamat ulang tahun.

Semoga Tuhan berkenan menumbuhkan kebaikan dan pengharapan dalam setiap pertambahan usia.


🌫️ Ketika Hari Istimewa Tak Terasa Istimewa

Apa yang kamu rasakan di ulang tahun kali ini?
Apakah kamu merasa bahagia? Bersyukur? Penuh semangat?

Puji Tuhan, jika kamu dapat merayakan hari itu dengan sukacita yang tulus.

Namun…
Bagaimana bila ulang tahun datang dan tak meninggalkan rasa istimewa sama sekali?
Bagaimana bila satu tahun berlalu dan tak satu pun luka sempat sembuh?

Jika kamu pernah merasa begitu,
tulisan ini adalah pelukan kecil untukmu.


💔 Ulang Tahun yang Terasa Hampa

Beberapa hari yang lalu, saya berulang tahun.
Yang menyedihkan, semangat itu justru lebih banyak datang dari orang-orang di luar diri saya—keluarga dan teman-teman.

Saya sendiri tidak begitu semangat.
Ada yang terasa hampa, kosong, dan tak layak dirayakan.
Namun saya tetap bersyukur: mereka masih mengingat hari kelahiran saya.
Dan itu adalah anugerah yang tidak kecil.


🕳️ Sosok “Tuan” dan Jiwa yang Terkubur

Di sisi lain, ada ruang dalam hati saya yang terasa hilang:
Ruang yang dulu diisi oleh seseorang yang saya sebut sebagai “Tuan.”

Yang saya takutkan sejak ulang tahun ke-30 adalah hari ketika ia akan mengunggah foto pernikahannya—bukan dengan saya.
Dan tepat H+2 ulang tahun saya di tahun 2024, ketakutan itu menjadi nyata.
Ia mengunggah fotonya bersama pasangannya.
(Meskipun dia belum menikah.)

Saya merasa…
Dilupakan. Ditinggalkan. Diabaikan.

Dan entah mengapa,
jiwa saya seperti ikut terkubur di sana.

Sejak itu, ulang tahun tak lagi terasa seperti hidup yang bertambah,
Tapi seperti makam yang dikenang.


📜 Mencari Makna dalam Alkitab

Saya mulai bertanya:
Mengapa tidak ada tokoh kudus dalam Alkitab yang merayakan ulang tahun mereka?

Alkitab memang mencatat dua perayaan ulang tahun—
Namun dua-duanya berakhir dengan kematian seseorang:

  • Firaun memenggal kepala juru rotinya (Kej. 40:20-22)

  • Herodes memenggal kepala Yohanes Pembaptis (Mrk. 6:21; Mat. 14:6)

Kadang saya berpikir…

Apakah memang perayaan ulang tahun tidak penting?
Atau justru ulang tahun mengajak kita merenungkan:

Apa yang hendak kita “penggal” dari hidup kita?
Dosa-dosa lamakah?
Pengharapan-pengharapan palsukah?
Atau justru, kehidupan itu sendiri?


✝️ Hadirat yang Terlupakan

Namun saat saya menulis ini, saya menyadari satu hal:
Selama ini, saya tidak pernah memikirkan Kristus hadir di tengah ulang tahun saya.

Saya terlalu sibuk menunggu ucapan dari manusia,
Hingga lupa menyapa Dia yang memberi hidup.

Dan kini saya ingin mengucap syukur—
Atas setiap novena yang telah dikabulkan,
Atas setiap doa yang dijawab-Nya dengan cara yang tidak saya pahami sepenuhnya.


🙏 Doa Pribadi

Jika Yesus duduk di samping saya saat ulang tahun saya, saya ingin berkata:

“Tuhan, tolong bermurah hati atas hidupku.
Berilah aku kelemahlembutan, hikmat, dan kekudusan.
Berdiamlah di hatiku,
Agar aku pun bisa menjadi pohon yang rindang dan meneduhkan—
Bagi jiwa-jiwa lain, bagi burung-burung kecil yang kelelahan.
Kecuali ular. Ular itu tolong Engkau bakar, Tuhan.”


🔍 Saatnya Merenung…

Sebelum kamu melanjutkan harimu,
Sebelum kamu melakukan segala hal yang telah kamu rencanakan—
Bahkan jika itu adalah hal-hal yang paling gelap dan putus asa—
Aku ingin mengajakmu untuk diam sejenak… dan merenungkan ini:

  1. Apakah kamu pernah merasa Tuhan “hadir” atau “berdiam” di hari ulang tahunmu?

  2. Jika kamu membayangkan ulang tahunmu sebagai momen syukur, apa yang paling ingin kamu ucapkan pada Tuhan hari itu?

  3. Jika Yesus duduk bersamamu di hari ulang tahunmu, kira-kira apa yang ingin kamu bicarakan pada-Nya?

  4. Jika kamu merasa tidak dicintai di hari ulang tahunmu, apa yang kira-kira ingin Tuhan bisikkan kepadamu hari itu?


🌿 Penutup

Ingatlah:
Kamu berharga, bukan karena siapa yang hadir di hari ulang tahunmu,
Melainkan karena Tuhan sendiri merancang hari itu untuk memulai kisah hidupmu.


Kiranya damai Kristus menyertai kamu—hari ini dan seterusnya.
Amin.


In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.
May this writing embrace your weary and quiet soul.


🌼 A Gentle Greeting

Is today your birthday?
Happy Birthday.

May God be pleased to grow goodness and hope in every added year of your life.


🌫️ When a Special Day Feels Empty

What do you feel on your birthday this year?
Do you feel happy? Grateful? Excited?

Praise the Lord if you are able to celebrate the day with genuine joy.

But...
What if your birthday arrives and leaves no trace of something special?
What if another year passes and not a single wound has had the chance to heal?

If you’ve ever felt like that,
this writing is a small embrace for you.


💔 The Birthday That Felt Hollow

A few days ago, it was my birthday.
And sadly, the excitement mostly came from people outside of me—my family and friends.

I didn’t feel that excited myself.
Something felt empty, hollow, and unworthy of celebration.
Yet I’m still grateful: they remembered the day I was born.
And that, in itself, is no small grace.


🕳️ The "Lord" and the Soul That Was Buried

There’s a space in my heart that feels missing:
A space once filled by someone I used to call "Lord" (Tuan).

Since turning thirty, I feared one day he would post a picture of his wedding—not with me.
And two days after my birthday in 2024, that fear came true.
He posted a photo with his partner.
(Even though he wasn’t married yet.)

I felt…
Forgotten. Left behind. Ignored.

And somehow,
my soul felt like it was buried with that moment.

Since then, my birthday hasn’t felt like a celebration of life,
But more like a grave being remembered.


📜 Searching for Meaning in Scripture

I began to wonder:
Why aren’t there any saints in the Bible celebrating their birthdays?

Indeed, the Bible mentions two birthday celebrations—
But both end with someone’s death:

  • Pharaoh executed his chief baker (Genesis 40:20–22)

  • Herod ordered the beheading of John the Baptist (Mark 6:21; Matthew 14:6)

Sometimes I wonder…

Maybe birthday celebrations aren’t that important?
Or perhaps birthdays are meant to invite reflection:

What do we need to “behead” from our lives?
Old sins?
False hopes?
Or even life itself?


✝️ The Presence I Had Forgotten

But as I write this, I realize one thing:
All these years, I never thought of Christ being present on my birthday.

I was too busy waiting for greetings from people,
That I forgot to greet the One who gave me life.

And now, I want to give thanks—
For every novena that has been fulfilled,
For every prayer answered in ways I may not fully understand.


🙏 A Personal Prayer

If Jesus were sitting beside me on my birthday, I would say:

“Lord, please be merciful with my life.
Grant me gentleness, wisdom, and holiness.
Dwell in my heart,
So that I may become a tree that is lush and comforting—
For weary souls, for the little birds that need rest.
Except for the snake. Please, Lord, burn the snake.”


🔍 A Pause for Reflection…

Before you continue your day,
Before you carry out all you’ve planned—
Even if some of those plans are filled with shadows and despair—
I invite you to pause for a moment… and reflect on this:

  1. Have you ever felt God “present” or “silent” on your birthday?

  2. If your birthday were a moment of thanksgiving, what would you want to say to God?

  3. If Jesus were sitting next to you on your birthday, what would you want to talk to Him about?

  4. If you felt unloved on your birthday, what do you think God would whisper to you that day?


🌿 A Gentle Reminder

Remember this:
You are precious—not because of who showed up on your birthday,
But because God Himself chose that day
to begin the story of your life.


May the peace of Christ be with you—today and always.
Amen.


*This piece was co-written with ChatGPT

Yerusalem

Pandanglah Yerusalem

Gadis yang baik

Gadis yang ramah

Kini luntur warnanya

Tertimba noda merah

Warna favorit Rahvana


Tuhan Maha Penyabar

Tuhan Maha pemurah

Yang dulu bersemayam dalam hatinya

Kini terbawa kabut gelap

Gelapnya kehilangan


Tangan yang dulu gemulai

Kini gemetar digetar murka


Nona Nagisa, 

Bandung, 02 Agustus 2018

Actus Reus, Mens Rea, dan Salib yang Kita Pikulkan (Actus Reus, Mens Rea, and the Cross We Carry Each Day)


 

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Semoga tulisan ini menopangmu yang sedang memikul salib kehidupanmu.

Suatu hari, seorang teman dari sahabat saya bertanya: "Bagaimana kedudukan LGBT dalam kekristenan? Apakah itu dosa?"
Saat itu, saya belum siap menjawab. Saya pun lupa apa yang saya katakan. Namun, pertanyaan itu terus menggema dalam kepala saya—menuntut untuk dijawab, bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada diri saya sendiri.

Kali ini, saya mencoba menjawabnya bukan dari sudut pandang teologis murni, melainkan melalui pendekatan hukum—sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Suci.


📜 Hukum tentang Hubungan Sesama Jenis

Dalam Imamat 18:22, tertulis:

“Janganlah engkau tidur dengan laki-laki seperti bersetubuh dengan perempuan. Itu suatu yang menjijikan.”

Demikian pula dalam Imamat 20:13:

“Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki lain seperti bersetubuh dengan perempuan, keduanya melakukan suatu hal yang menjijikan. Mereka harus dihukum mati dan darah mereka ditanggungkan atas mereka sendiri.”

Selain itu, Sidang di Yerusalem sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 15:19–20 menyatakan:

“Sebab itu, aku berpendapat bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. ”

Dalam 1 Timotius 1:8–11, Paulus menyebut:

“Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan tidak taat, bagi orang gasik dan orang berdosa, bagi orang tidak peduli agama dan tidak suci, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan laki-laki yang bersetubuh dengan sesama jenisnyam bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang yang bersumpah palsu, dan segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat, yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan terpuji, seperti yang telah dipercayakan kepadaku”


📘 Penafsiran Hukum: Dari Gay ke LGBT

Secara literal, teks-teks di atas memang menyebut secara eksplisit perilaku laki-laki dengan laki-laki (gay), dan tidak menyebut perempuan dengan perempuan (lesbian), atau identitas lainnya (biseksual, transgender).

Namun, dengan menggunakan metode interpretasi ekstensif dalam hukum, serta analogi hukum, saya menafsirkan bahwa larangan tersebut tidak hanya berlaku terhadap homoseksualitas laki-laki, tetapi juga meluas secara prinsipil kepada seluruh bentuk hubungan seksual yang tidak sesuai dengan rancangan kudus Allah atas tubuh dan perkawinan.

Yang menjadi pokok larangan adalah intercourse-nya, bukan semata-mata orientasinya. Dalam istilah hukum pidana, dikenal konsep actus reus (perbuatan) dan mens rea (niat yang tampak dari tindakan). Maka, seseorang boleh saja memiliki kecenderungan atau orientasi, tetapi tidak melakukan tindakan seksual yang dilarang oleh Allah.


🌿 Hidup Kudus dalam Selibat

Perkawinan adalah kudus. Sebab Allah adalah Kudus. Maka siapa pun, baik heteroseksual maupun homoseksual, dipanggil untuk menghormati tubuh dan hidup dalam kekudusan.

Yesus sendiri bersabda dalam Matius 19:11–12:

“Akan tetapi, Ia berkata kepada mereka, “'Tidak semua orang dapat menerima perkataan itu, kecuali mereka yang dikaruniai. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat menerimanya, hendaklah ia menerima.”

Terimalah orientasimu sebagai bagian dari salib hidupmu—sebuah beban yang dapat dipikul bersama Kristus. Saya tahu, ini bukan pergumulan yang mudah. Maka, jangan berjalan sendiri. Bergabunglah dengan komunitas yang hidup dalam selibat—sehingga kamu dapat saling menguatkan, saling menopang, dan saling mendoakan untuk tetap setia di jalan Tuhan.


Kristus memberkati.
Semoga damai dan kekuatan-Nya menyertai langkahmu dalam kekudusan.


In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.
May this writing uphold you as you carry the cross of your life.

One day, a friend of my close companion asked,
"What is the position of LGBT in Christianity? Is it a sin?"
At that time, I wasn’t ready to answer. I don’t even remember what I said.
But the question echoed in my mind—demanding an answer not only to others, but also to myself.

This time, I choose to respond not purely from a theological standpoint, but rather through a legal perspective, as revealed in the Scriptures.


📜 The Law Regarding Same-Sex Relations

In Leviticus 18:22, it is written:

“Do not lie with a man as one lies with a woman; it is detestable.”

And in Leviticus 20:13:

“If a man lies with a man as one lies with a woman, both of them have done what is detestable. They must be put to death; their blood will be on their own heads.”

Additionally, the Jerusalem Council in Acts 15:19–20 states:

“It is my judgment, therefore, that we should not make it difficult for the Gentiles who are turning to God. Instead, we should write to them, telling them to abstain from food polluted by idols, from sexual immorality, from the meat of strangled animals, and from blood.”

In 1 Timothy 1:8–11, Paul writes:

“We know that the law is good if one uses it properly. We also know that the law is made not for the righteous but for lawbreakers and rebels... for the sexually immoral, for those practicing homosexuality, for slave traders and liars and perjurers—and for whatever else is contrary to the sound doctrine that conforms to the gospel concerning the glory of the blessed God, which He entrusted to me.”


📘 Legal Interpretation: From “Gay” to “LGBT”

Literally, the above verses mention only male same-sex behavior and do not explicitly refer to lesbianism or other identities under the LGBT umbrella.

However, using the method of extensive interpretation in legal hermeneutics, along with the principle of analogy, I believe that the prohibition extends in principle to all forms of sexual activity that deviate from God's holy design for the body and for marriage.

What is prohibited is the sexual act (intercourse), not merely the orientation. In legal terms, we understand the concepts of actus reus (the act) and mens rea (the intent, as evidenced through action). One may possess a certain orientation, but is called not to act on it in ways that violate God's commandments.


🌿 A Holy Life Through Celibacy

Marriage is sacred—because God is Holy. Therefore, both heterosexual and homosexual persons are called to honor the body and live in purity.

Jesus said in Matthew 19:11–12:

“‘Not everyone can accept this word, but only those to whom it has been given. For there are eunuchs who were born that way, others who were made that way by men, and still others who chose to live like eunuchs for the sake of the kingdom of heaven. The one who can accept this should accept it.’”

Accept your orientation as part of the cross you are called to carry—with Christ. I understand the struggle of wrestling within oneself. Do not walk this journey alone. Join a celibate Christian community, where you can be supported, strengthened, and prayed for, so that you may continue walking in holiness before the Lord.


Christ be with you.
May His peace and strength accompany your steps in this sacred path of faith.

*This piece was co-written with ChatGPT


Salah Paham

“Ya, Tuhan. Mengapa aku dipertemukan dengannya?”

Ujar Elior dalam penuh ratap kepada Tuhan. Ia merasa kesal hingga menangis saat berdoa. Semuanya dia tumpahkan kepada Tuhan di Goa Karmel Bandung. Ia tak kuasa menahan sakit setelah melihat Raphael sedang nonton bioskop dengan perempuan lain.

Raphael adalah gebetan Elior. Berpostur tinggi. Badannya tegap. Kulitnya sawo matang. Matanya bulat dan berhidung mancung. Sosok yang sempurna bagi Elior. Oleh sebab itu, Elior merasa terluka dan disepelekan ketika melihat Raphael jalan bersama dengan perempuan lain. Ia pun bergumam:

‘Kalau dia bisa jalan dan nonton dengan perempuan lain, aku juga harusnya, bisa, dong?’

Pada hari Senin yang terik, Elior diajak menonton konser oleh Mikael, teman sekelas Elior.

“Elior, kamu mau gak nonton konser Dewa 19 denganku?”, ujar Mikael

Wah, kesempatan, nih.’ gumam Elior, “Ayo, Mik. Aku mau.”

Elior pun menerima ajakan Mikael tanpa memperdulikan perasaan Raphael. Dalam benak Elior apabila Raphael pergi dengan perempuan lain, Elior berhak pergi dengan lelaki lain. Prinsipnya, ya, harus adil. Lagipula, Raphael masih sebatas teman sekolah, bukan pacar.

Pada saat menikmati lagu Larut yang dibawakan oleh Dewa-19 saat konser, Elior dilabrak oleh Raphael yang saat itu juga menonton konser Dewa 19

“Lo, ngapain disini, yor?” tanya Raphael

“Nonton konser lah. Mau ngapain lagi?” jawab Elior

“Kenapa lo pergi sama cowo lain?”

“Ya, hak gue dong buat pergi sama siapapun. Lagian lo Cuma teman gue.”

“Cuma teman kata lo? Kenapa lah gua dipertemukan sama lo? Cukup tahu.”

Itulah hari terakhir Elior melihat Raphael. Tiada lagi chat maupun telepon Raphael yang selalu menghiasi Elior.

Beberapa tahun berlalu. Elior tak lagi memikirkan Raphael. Dukungan keluarga dan sahabatnya perlahan menambal luka itu. Mereka adalah orang-orang yang sangat mendukung hari-harinya pasca kehilangan Raphael.

Suatu hari, Elior sedang duduk di teras sambil memperhatikan tetangga yang baru pindah ke lingkungannya. Namun Ia merasa kaget. Karena, tetangga barunya adalah Raphael. Ia pun melihat perempuan yang waktu itu menjadi orang ketiga di dalam hubungannya. Ia sangat penasaran dengan perempuan itu. Ia pun memberanikan diri untuk menghampiri Raphael

“Apa kabar, Raph?” tanyanya

“Baik. Lo sendiri?” jawab Raphael

“Baik. Lo pindah kesini sekeluarga?”

“Yoi.”

“Itu istri lo?”

“Enggak. Gua masih jomblo.”

“Lah, terus, itu cewe siapa?” tanya Elior sambil menunjuk, setengah gemetar.

“Ohhh. Itu ade gue.” jawab Raphael santai, membuat Elior terpaku.


Editor: ChatGPT

Waktu

Aku tidak pernah melepasmu, Tuan
Mungkin kau akan bercerita pada daun-daun yang berguguran betapa bebalnya daku menahan sakit cinta
Aku tidak pernah melepasmu, Tuan
Mungkin kau akan tertawa bersama dengan halaman-halaman buku dengan kelakarnya
Aku tidak pernah melepasmu, Tuan
Mungkin kau akan menyepelekan daku bersama dengan waktumu
Aku tidak pernah melepasmu, Tuan 
Sebab dalam waktuku, kau masih hari ini bukan lampau
Meski kau dan aku bukanlah Sang Empunya Waktu

Nona Nagisa,
Jakarta, 02 Juni 2025

Tuhan Menyembuhkan, Bahkan Saat Aku Merasa Jauh (God’s Healing, Even When I Feel Far From Him)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kadang pemulihan tidak datang lewat mukjizat besar, tapi lewat satu kalimat sederhana dari oran...