Minggu, 26 Oktober 2025

Ketika Kekosongan Itu Sirna (When the Emptiness Faded Away)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Teman-teman, pernahkah kalian merasa kosong?
Bukan sekadar lelah, tapi benar-benar hampa — seolah hidup berjalan tanpa warna dan dada terasa berat setiap kali mencoba bernapas. Aku pun pernah ada di titik itu. Di masa itu, aku meragukan penyertaan dan kehadiran Tuhan dalam hidupku. Rasanya sepi sekali.

Namun hari ini, aku ingin bersaksi: rasa kosong itu telah sirna.
Sekarang, aku merasa hidup. Dalam doa, aku mulai rutin mengucap syukur — untuk keluargaku yang masih sehat, untuk Abang Sayang yang masih ada, untuk pekerjaanku, dan untuk kesehatanku sendiri. Saat aku belajar bersyukur, aku sadar bahwa Tuhan tidak pernah pergi. Ia tetap hadir dan menyertaiku.

Relasiku dengan Tuhan mungkin belum pulih sepenuhnya. Aku masih jarang membaca renungan untuk mendengar suara-Nya. Mungkin karena luka setahun lalu — ketika ekspektasiku tentang perkawinan dengan Tuan tidak sesuai kenyataan. Dulu, aku begitu rajin membaca firman, tapi setelah kegagalan kesaksian di tahun 2023, semangat itu perlahan luntur.

Namun kini, aku memahami satu pelajaran rohani yang berharga:

Bahkan ketika kita tak menyadari kehadiran Tuhan, saat kita belajar mensyukuri berkat-Nya, di sanalah kita akan menemukan Dia.

Jika aku bisa berbicara pada diriku yang dulu, aku akan berkata:
“Tenang saja. Tuhan hadir dan menyertai langkah kakimu.”

Dan mungkin, untukmu yang membaca ini dan sedang merasa kosong —
berhentilah sejenak. Lihatlah sekelilingmu.
Ada napas, ada kasih, ada berkat kecil yang diam-diam sedang membisikkan:

“Aku di sini, anak-Ku.” 🌿



In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Friends, have you ever felt empty?
Not just tired — but truly hollow, as if life has lost its color and every breath feels heavy. I once found myself in that place. During that time, I doubted God’s presence and guidance in my life. It was a very lonely season.

But today, I want to testify that the emptiness has vanished.
Now, I feel alive again. In my prayers, I’ve begun to give thanks — for my family who are still healthy, for my beloved one who is still here, for my work, and for my own health. As I learned to give thanks, I realized that God had never left. He was always here, walking beside me.

My relationship with God is not yet perfect. I still rarely read devotionals or listen to His voice through Scripture. Perhaps it’s the lingering wound from a year ago — when my expectations about marriage with someone dear didn’t match reality. I used to love reading God’s Word, but after that disappointment in 2023, my devotion slowly faded.

Yet now, I understand a precious spiritual truth:

Even when we fail to sense God’s presence, when we begin to recognize His abundant blessings, we will find Him there.

If I could speak to the version of myself who once felt empty, I would say:
“Be still. God is here, and He is guiding your every step.”

And perhaps, to you who are reading this and still feel empty —
pause for a moment. Look around you.
There is breath, there is love, there are small blessings quietly whispering:

“I am here, My child.” 🌿


Minggu, 19 Oktober 2025

🌿 Ketika Aku Tidak Bisa Tertawa Selama Satu Tahun (🌿 When I Couldn’t Laugh for a Year)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu membayangkan hidup tanpa tawa?
Aku dulu tidak pernah terpikir bahwa kehilangan kemampuan untuk tertawa bisa menjadi bentuk penderitaan yang begitu sunyi. Namun, itulah yang kualami. Selama hampir satu tahun, aku tidak bisa tertawa.

Hal pertama yang membuatku sadar adalah ketika aku menonton video lucu — hal yang biasanya mudah memancing tawa. Kali itu, aku hanya menatap layar datar. Tidak ada reaksi. Tidak ada geli. Tidak ada tawa. Hanya hening yang terasa berat.

Awalnya aku menganggap itu hal sepele. Tapi lama-kelamaan aku sadar, ada sesuatu yang hilang dari hidupku. Aku mulai merindukan suara tawaku sendiri — yang dulu lepas, hangat, dan penuh hidup. Rasanya aneh sekali menyadari bahwa ketawa, sesuatu yang tampak sederhana, ternyata adalah karunia yang patut disyukuri.

Rasa tawaku hilang setelah aku dighosting oleh seseorang yang sangat berarti bagiku — Tuan. Sejak itu, seolah seluruh cahaya dari dalam diriku meredup. Aku masih mencoba berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain, tapi di dalam, aku merasa kosong. Tak ada seorang pun yang benar-benar menyadari bahwa aku bahkan sudah lupa rasanya tertawa.

Di masa itu, aku sering berdoa. Hampir setiap hari aku memohon kepada Roh Kudus,

“Tolong aku… mampukan aku untuk tertawa lagi.”

Awalnya doaku hanya berpantul di dinding kamar — sepi. Tapi perlahan, Ia menjawab. Bukan lewat mujizat besar, melainkan lewat hal-hal kecil: video lucu yang tiba-tiba terasa sedikit menggelitik, percakapan ringan yang membuatku tersenyum tipis, momen kecil yang membuat dadaku sedikit hangat.

Tawa itu memang tidak datang seketika. Tapi sedikit demi sedikit, aku mulai bisa tertawa lagi. Tidak sekeras dulu, tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa Tuhan masih bekerja dalam hidupku. Bahwa Roh Kudus benar-benar hadir — bahkan di dalam proses sekecil mengembalikan tawa yang hilang.

Pernah aku kecewa kepada Tuhan. Aku sempat marah karena merasa ditinggalkan. Tapi kini aku tahu, bahkan dalam diam-Nya, Ia sedang memulihkan sesuatu yang rusak dalam diriku.

Kalau aku bisa berbicara kepada diriku yang dulu — yang kehilangan tawa — aku akan berkata:

“Bertahan, ya. Sabar, sebentar lagi kau pasti akan ketawa. Mintalah bantuan Roh Kudus. Ia tidak akan menolak permintaan sekecil itu.”

Dan benar, Ia tidak pernah menolak.


Refleksi untukmu yang membaca ini:
Mungkin kamu juga sedang berada di masa di mana sukacita terasa jauh, di mana tawa tak lagi mudah muncul.
Jika iya, izinkan Roh Kudus menyentuh hatimu perlahan.
Mintalah Ia memulihkan apa pun yang hilang — bahkan hal sekecil tawa — sebab bagi Tuhan, tidak ada yang terlalu sepele untuk dipulihkan.

Karena di hadirat-Nya ada sukacita berlimpah-limpah.
(Mazmur 16:11)




In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Have you ever imagined living without laughter?
I never thought that losing the ability to laugh could become such a quiet kind of suffering.
But that’s what happened to me. For almost a year, I couldn’t laugh.

The first thing that made me realize it was when I watched a funny video — something that would usually make me laugh easily. But that time, I just stared at the screen blankly. No reaction. No amusement. No laughter. Only a heavy silence.

At first, I thought it was nothing. But over time, I realized something had gone missing from my life.
I started to miss the sound of my own laughter — the one that used to be free, warm, and full of life.
It felt strange to realize that laughter, something so simple, is actually a gift to be thankful for.

My laughter disappeared after I was ghosted by someone who once meant a lot to me — Tuan.
Since then, it felt as if all the light inside me dimmed.
I tried to act fine around others, but deep down, I felt empty.
No one really noticed that I had forgotten what it felt like to laugh.

During that time, I often prayed. Almost every day I asked the Holy Spirit,

“Please… help me laugh again.”

At first, my prayers only echoed against the walls of my room — silent.
But slowly, He answered.
Not through grand miracles, but through small things: a funny video that suddenly felt a little amusing, a light conversation that made me smile faintly, tiny moments that warmed my heart.

The laughter didn’t return all at once. But little by little, I began to laugh again.
Not as loudly as before, but enough to let me know that God was still working in my life.
That the Holy Spirit was truly present — even in something as small as restoring a lost laugh.

There was a time when I felt disappointed in God.
I was angry, thinking He had left me.
But now I know — even in His silence, He was healing something broken within me.

If I could speak to my past self — the one who had forgotten how to laugh — I would say:

“Hold on. Be patient. You’ll laugh again soon. Ask the Holy Spirit for help. He never rejects even the smallest prayer.”

And truly, He never does.


A reflection for you who are reading this:
Maybe you’re also in a season where joy feels distant, where laughter doesn’t come easily.
If so, let the Holy Spirit touch your heart gently.
Ask Him to restore whatever has been lost — even something as small as laughter — for to God, nothing is too small to be healed.

For in His presence there is fullness of joy.
(Psalm 16:11)


Minggu, 12 Oktober 2025

Ketika Aku Mengira Tuhan Menipuku (When I Thought God Deceived Me)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu merasa kecewa begitu dalam kepada Tuhan —
sampai rasanya imanmu yang dulu teguh kini seperti retak tanpa suara?

Jika iya, mungkin kisah ini bisa menemanimu sejenak.


Awalnya, aku sudah menyerah terhadap urusan cinta dan pernikahan. Terlalu sering patah hati membuatku lelah berharap.
Namun, suatu hari aku mendengar khotbah dari pendeta yang berkata:

“Kalau suatu saat kamu bertemu seseorang dan ada dugdugdugnya, itulah jodohmu.”

Aku sempat tertawa kecil dalam hati. Masa iya jodoh bisa sesederhana itu?
Tapi tetap, aku merespons. Entah bagaimana, kata-kata itu melekat di benak dan diingat oleh hatiku.

Beberapa waktu kemudian, aku bertemu Tuan.
Dan benar saja — ada dugdugdugnya.
Aku teringat khotbah itu dan mulai menafsirkan sukacita yang kurasakan sebagai tanda dari Tuhan.
Rasanya indah, hangat, dan penuh harapan.

Tapi keindahan itu cepat memudar.
Hubungan kami dipenuhi ujian —
hatiku masih menoleh ke masa lalu, pada seseorang yang dulu hanya “FWB” tapi menyisakan bayangan.
Sementara di sisi lain, aku juga berbuat salah dalam relasi ini.
Aku memancing amarah Tuan, dan akhirnya, dia menghilang.

Di titik itu, dunia seakan menatapku sambil berkata,

“Katanya jodoh dari Tuhan. Tapi mana buktinya?”

Aku terdiam.
Semua keyakinan yang dulu kubangun atas nama “firman Tuhan” runtuh begitu saja.
Aku merasa Tuhan mempermainkanku. Aku merasa ditipu oleh-Nya.
Dan untuk waktu yang lama, aku tak tahu harus menaruh imanku di mana.

Namun perlahan aku sadar:
mungkin Tuhan tidak menipu.
Mungkin akulah yang terlalu cepat menafsir, terlalu cepat memberi makna pada sesuatu yang belum tentu dimaksudkan begitu.
Mungkin Ia sedang mengajariku membedakan antara perasaan yang indah dan panggilan yang benar.

Aku juga lupa akan kesalahanku kepada Tuan.

Sekarang, aku masih percaya kepada-Nya —
bukan karena aku mengerti segalanya, tapi karena aku memilih untuk percaya melampaui perasaanku,
melampaui pandanganku yang dulu memandang-Nya sebagai penipu.

Dan kalau kamu juga pernah kecewa pada Tuhan,
izinkan aku berkata dengan lembut:

Kadang, kegagalan bukan karena Tuhan menipu,
tapi karena kita sendiri yang lupa akan dosa sendiri.


Refleksi kecil untukmu
Pernahkah kamu salah menafsir tanda dari Tuhan?
Bagaimana pengalaman itu membentuk caramu percaya sekarang?

Tuliskan kisahmu. Kadang, di balik luka yang kita ceritakan,
ada Tuhan yang sedang memulihkan cara kita mencintai — dan percaya.




In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt so deeply disappointed in God —
to the point where your once-steadfast faith now feels quietly fractured?

If so, perhaps this story might keep you company for a while.

At first, I had already given up on love and marriage.
Too many heartbreaks had left me tired of hoping.
Then one day, I heard a sermon from a pastor who said:

“When you meet someone and your heart goes dug-dug-dug, that’s your soulmate.”

I chuckled quietly to myself. Could it really be that simple?
Still, I responded somehow. Those words stuck with me — remembered not just by my mind, but by my heart.

Some time later, I met the Man.
And indeed — there was that dug-dug-dug.
I recalled the sermon and began to interpret the joy I felt as a sign from God.
It was beautiful, warm, and full of hope.

But that beauty faded quickly.
Our relationship was full of trials —
my heart kept turning back to someone from the past, someone who used to be just an “FWB,” yet left a lingering shadow.
And on my side, I also made mistakes.
I provoked his anger, and eventually, he disappeared.

At that moment, the world seemed to look at me and whisper,

“You said he was God’s choice for you. Where’s the proof?”

I fell silent.
All the certainty I had built in the name of “God’s word” crumbled.
I felt as though God was toying with me — deceiving me.
And for a long time, I didn’t know where to place my faith anymore.

But slowly, I began to realize:
perhaps God didn’t deceive me.
Perhaps I was the one who interpreted too quickly — giving meaning to something that was never meant that way.
Maybe He was teaching me to distinguish between what feels beautiful and what is truly a calling.

I also forgot to see my own fault in how I treated him.

Now, I still believe in God —
not because I understand everything,
but because I choose to believe beyond my feelings,
beyond my own view that once saw Him as a deceiver.

And if you, too, have ever felt disappointed in God,
allow me to gently say:

Sometimes, failure doesn’t happen because God deceived us,
but because we ourselves have forgotten our own sins.


A Small Reflection for You
Have you ever misinterpreted a sign from God?
How has that experience shaped the way you believe now?

Write your story.
Sometimes, behind the wounds we share,
there is a God quietly healing the way we love — and believe.

Minggu, 05 Oktober 2025

🕊️ Saat Amarah Itu Mencekik, dan Aku Hanya Bisa Berteriak: “Tuhan, Selamatkan Aku!” (When Anger Feels Like It’s Choking You)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Teman-teman, pernahkah kalian merasa marah sampai rasanya mencekik leher?
Aku pernah. Dan itu menjadi salah satu pengalaman paling jujur tentang rapuhnya diriku di hadapan Tuhan.

Awalnya, aku sedang mencoba sebuah eksperimen rohani kecil — aku ingin belajar mengampuni orang-orang yang pernah bersalah padaku.
Aku pikir, untuk bisa sungguh-sungguh mengampuni, aku harus berani mengingat kembali luka-luka yang dulu kubiarkan terkubur.

Maka aku mulai membuka satu per satu kenangan yang menyakitkan itu:
KDRT.
Pelecehan seksual.
Ketika usahaku tidak dihargai.
Ketika hubungan yang kubangun dengan sungguh-sungguh justru hancur.

Semua itu muncul seperti badai yang tak bisa kuhentikan. Dan di tengah badai itu, Tuhan seperti diam saja. Aku tidak bisa berdoa, tidak bisa menangis dengan tenang. Hanya marah, dan tubuhku bergetar menahan semuanya.

Sampai suatu hari, aku sedang bersaksi  — dan ia tidak suka dengan kesaksianku.
Pertengkaran kecil kami tiba-tiba menjadi bensin bagi semua luka yang belum sembuh itu.
Kemarahan yang selama ini kutahan akhirnya meledak.
Aku berteriak, menangis, dan tubuhku seolah dicekik oleh amarahku sendiri.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain satu kalimat yang keluar dari dasar jiwaku:

“Tuhan, selamatkan aku!”

Entah bagaimana, sesudah itu aku mulai sedikit tenang.
Temanku mengirim voice note, dan di situ ia berkata dengan lirih bahwa aku sering merendahkan dia.
Kata-kata itu seperti menamparku. Aku tersadar — mungkin Tuhan sedang menegurku lewat suara yang tidak ingin kudengar.

Kemarahan itu perlahan surut.
Bukan karena aku tiba-tiba menjadi suci atau kuat, tapi karena di tengah kekacauan itu, aku sadar: Tuhan tetap ada.
Ia tidak meninggalkanku, bahkan ketika aku berteriak dan kehilangan kendali.

Mungkin, pengampunan tidak selalu dimulai dengan doa yang tenang.
Kadang, ia dimulai dari teriakan minta tolong di tengah amarah.
Dan di sanalah kasih Tuhan bekerja — lembut, tapi pasti. 🌿



In the Name of the Father, the Son, and the Holy Spirit

Friends, have you ever felt so angry that it felt like your throat was tightening? I have.

It began when I was trying to experiment with forgiveness — I wanted to forgive the people who had hurt me by remembering what they did.

I remembered the moments of domestic violence.
I remembered the moments of sexual harassment.
I remembered the times when my efforts went unappreciated.
I remembered the broken relationships I had to face.

One day, I was sharing my testimony, and my friend didn’t like what I said. The argument that followed became like fuel poured onto a fire.

I couldn’t pray. But I screamed, “Lord, save me!”

Somehow, my anger began to subside after my friend sent me a voice note saying that I had always made her feel small.

Rabu, 01 Oktober 2025

Kesaksian: Bertahan 5 Menit Demi 5 Menit (Testimony: Surviving Five Minutes at a Time)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu merasa hidupmu terlalu kotor untuk disentuh Tuhan? Aku pernah ada di titik itu. Sebelum mengenal-Nya lebih dekat, hidupku dipenuhi dengan seks bebas, pornografi, kebiasaan “main sendiri,” rokok, dan mabuk.

Dari semua itu, yang paling sulit kuubah adalah pornografi dan seks main sendiri. Rasa penyesalan selalu datang setelahnya, tapi lama-kelamaan penyesalan itu tumpul, digantikan dengan rasa lelah yang menggerogoti. Aku bahkan tak menyangka suatu hari bisa berkata “tidak” pada laki-laki yang mengajakku jatuh lagi.

Namun, anugerah Tuhan bekerja jauh melampaui pengertianku. Sejak 2018, aku berhasil lepas dari rokok dan mabok. Lalu antara tahun 2022–2024, tanpa aku sadari sepenuhnya, Tuhan membebaskanku dari seks bebas, pornografi, dan seks main sendiri. Aku ingat, seringkali hanya dengan mengepalkan tanganku kuat-kuat setiap kali ada godaan. Aku tidak tahu bagaimana tepatnya semua itu terjadi, tapi aku bisa bersaksi hari ini: Puji Tuhan, aku keluar dari sana.

Namun, perjalanan imanku tidak berhenti di situ. Tahun 2024, aku didiagnosa skizoafektif tipe depresi (dd/ depresi berat dengan ciri psikotik). Berbeda dengan kebiasaan buruk yang bisa aku lawan dengan keputusan sadar, depresi ini menembus sampai ke alam bawah sadar, ke dalam pikiranku yang paling gelap.

Kadang terlintas pikiran di kepalaku: “Setelah semua masa-masa indah bersama Tuhan, apakah aku akhirnya akan kalah karena depresi?”

Yang paling berat adalah saat aku tidak tahan mendengar tangisanku sendiri — terutama ketika tangisan itu datang bersama perasaan gelap dan berat di dada.

Tetapi bahkan di titik terendah itu, aku masih bisa merasakan tangan Tuhan memelihara. Ia tidak mengambil keluargaku — mereka sehat. Ia tidak membiarkan pekerjaanku hilang — aku masih bisa bekerja. Ia tidak membiarkan doaku kosong — Ia masih menjawabnya.

Lewat semua ini aku belajar: Tuhan itu Maha Pemelihara. Tugas utamaku hanyalah menyerahkan hidup ini sepenuhnya pada tangan belas kasih-Nya.

Bagi kamu yang mungkin sedang berada dalam gelapnya depresi, aku ingin berkata: aku tahu, kadang hidup tidak terasa seperti anugerah. Kadang sakit itu begitu menindih hingga kita hanya ingin berhenti. Tapi, bertahanlah. Lima menit demi lima menit.

Karena lima menit itu bisa menjadi jembatan menuju harapan.


✨ Kalau kamu sedang berjuang, jangan diam sendiri. Ceritakan pada seseorang yang bisa kamu percaya. Boleh juga tinggalkan komentar atau pesan kalau kamu butuh teman seperjalanan. Kamu tidak sendirian.





In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt like your life was too dirty to be touched by God? I have. Before I truly knew Him, my life was filled with casual sex, pornography, masturbation, smoking, and drinking.

Of all these, pornography and masturbation were the hardest to let go of. I would feel guilty afterward, but over time the guilt became dull, replaced by a deep exhaustion. I never imagined I could one day say “no” to men who invited me to fall again.

Yet God’s grace worked far beyond my understanding. Since 2018, I have been free from smoking and drinking. And between 2022–2024, without fully realizing how, God set me free from casual sex, pornography, and masturbation. I remember clenching my fists tightly whenever temptation came. I still don’t fully understand how it happened, but today I can testify: Praise God, I came out of it.

But my journey didn’t stop there. In 2024, I was diagnosed with schizoaffective disorder, depressive type (dd/ major depression with psychotic features). Unlike bad habits that I could resist with conscious decisions, depression pierced into my subconscious, into the darkest parts of my mind.

Sometimes a thought crosses my mind: “After all those seasons of walking with God, will I end up defeated by depression?”

The hardest part is not being able to bear my own crying — especially when it comes with that heavy, dark feeling in my chest.

Yet even in my lowest moments, I can still feel God’s hand sustaining me. My family is still healthy. I still have my job. He still answers my prayers.

Through it all I’ve learned: God is the Great Provider. My main task is simply to entrust my life completely into His merciful hands.

To anyone who might be walking through the same darkness, I want to say this: I know sometimes life doesn’t feel like a gift. Sometimes the pain presses so hard that you just want to stop. But hold on. Five minutes at a time.

Because those five minutes can become a bridge to hope.


✨ If you’re struggling, don’t stay silent. Tell someone you trust. You can also leave a comment or a message if you need a companion on the journey. You are not alone.

Tuhan Menyembuhkan, Bahkan Saat Aku Merasa Jauh (God’s Healing, Even When I Feel Far From Him)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kadang pemulihan tidak datang lewat mukjizat besar, tapi lewat satu kalimat sederhana dari oran...