Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Halo, teman-teman.
Semoga artikel ini menemukan kalian dalam keadaan baik.
Apakah teman-teman pernah merasa sedih karena doa yang kita panjatkan seolah-olah tidak didengarkan?
Aku juga pernah merasakan hal itu.
Setiap hari, aku selalu berdoa agar mama, bapak, abang sayang, dan adikku dilindungi dari sakit penyakit.
Puji Tuhan, mama dan adikku sehat. Bapak juga masih dalam kondisi yang terkontrol, meskipun beliau memiliki pembengkakan jantung dan kadar kreatinin yang tinggi.
Namun, beberapa waktu lalu, Abang Sayang terkena Bell's palsy. Sudah sekitar seminggu Abang harus beristirahat di rumah. Mendengar kabar itu, aku lemas. Aku khawatir. Aku takut. Aku sedih dan bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak mengabulkan doaku?
Awalnya, aku merasa sedih karena aku percaya Tuhan telah berjanji memberikan rancangan damai sejahtera. Lalu aku berpikir, kalau Abang sakit seperti ini, di mana damai sejahtera itu?
Aku tidak tahu kapan Abang akan sembuh. Katanya, Bell's palsy dapat membutuhkan waktu beberapa minggu, bahkan dalam beberapa kasus bisa sampai berbulan-bulan. Aku mulai memikirkan banyak hal. Kalau sampai dua bulan Abang tidak bisa bekerja, bagaimana kalau dia kehilangan pekerjaannya?
Aku juga merasa tidak berdaya. Aku belum bekerja dan tidak punya banyak uang, sehingga aku tidak bisa banyak membantu biaya pengobatannya dan fisioterapinya. Kami juga menjalani hubungan jarak jauh, Rangkasbitung–Cikarang. Aku tidak bisa mendampinginya secara langsung. Aku takut Abang merasa sendirian dalam menghadapi penyakitnya.
Namun, setelah Abang pergi ke dokter, aku bersyukur karena ternyata kondisinya tidak terlalu parah. Dokter meminta Abang untuk tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat dan beristirahat.
Aku juga bersyukur karena Tuhan masih memelihara kami. Abang mengalami Bell's palsy, bukan stroke, kanker, gagal ginjal, atau penyakit berat lainnya yang selama ini sempat menjadi ketakutanku. Tuhan juga menyediakan biaya untuk pengobatannya.
Sebelumnya, aku berpikir bahwa kalau aku sudah berdoa setiap hari supaya keluargaku dilindungi dari sakit penyakit, maka seharusnya mereka tidak sakit.
Tetapi melalui sakitnya Abang, aku belajar bahwa perlindungan Tuhan tidak selalu berarti kita tidak akan mengalami penderitaan.
Aku mulai menyadari bahwa Tuhan yang baik bukan berarti Tuhan selalu memberikan apa yang aku minta. Terkadang, kebaikan Tuhan tetap ada bahkan ketika jawaban-Nya tidak seperti yang kuharapkan.
Aku belajar menyerahkan Abang ke dalam tangan Tuhan.
Aku juga mulai belajar bahwa damai sejahtera tidak selalu berarti tidak adanya masalah. Damai sejahtera juga bisa berarti memiliki Tuhan ketika masalah itu datang.
Aku masih berdoa supaya Abang sembuh. Aku masih berdoa supaya pekerjaannya tetap ada. Aku masih berharap Tuhan memberikan kesembuhan secepatnya.
Tetapi sekarang aku belajar bahwa imanku tidak boleh bergantung pada apakah Tuhan menjawab doaku sesuai dengan keinginanku atau tidak.
Aku mau belajar percaya bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika aku belum mengerti jalan-Nya.
Aku tidak tahu kapan Abang akan sembuh. Aku tidak tahu bagaimana keadaan pekerjaannya nanti. Tetapi aku tahu satu hal: aku tidak berjalan sendirian, dan Abang juga tidak berjalan sendirian.
Aku mau menyerahkan Abang ke dalam tangan Tuhan dan terus mendampinginya, bahkan dari jauh.
Aku masih takut. Aku masih berdoa. Aku belum tahu jawabannya.
Tetapi aku memilih percaya.
In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.
Hello, friends.
I hope this article finds you well.
Have you ever felt sad because it seemed like your prayers were not being heard?
I have felt that way too.
Every day, I pray that my mother, father, my beloved Abang, and my younger sibling will be protected from sickness and disease.
Praise God, my mother and my younger sibling are healthy. My father is also in a stable condition, although he has an enlarged heart and high creatinine levels.
However, a little while ago, my beloved Abang was diagnosed with Bell's palsy. He has been resting at home for about a week now. When I heard the news, I felt weak. I was worried. I was afraid. I was sad, and I wondered, why didn't God answer my prayer?
At first, I felt sad because I believe that God has promised to give us plans for peace and hope. Then I wondered, if Abang is sick like this, where is that peace?
I don't know when Abang will recover. I heard that Bell's palsy can take several weeks to recover from, and in some cases, it can take several months. I started thinking about many things. If Abang cannot work for two months, what if he loses his job?
I also felt powerless. I am currently unemployed and don't have much money, so I cannot do much to help with his medical and physiotherapy expenses. We are also in a long-distance relationship, living in Rangkasbitung and Cikarang. I cannot be there physically to accompany him. I was afraid that Abang would feel alone while facing his illness.
However, after Abang went to the doctor, I was grateful to learn that his condition was not too severe. The doctor advised him to avoid strenuous activities and get plenty of rest.
I was also grateful because God was still taking care of us. Abang had Bell's palsy—not a stroke, cancer, kidney failure, or another serious illness that I had feared. God also provided for his medical expenses.
Before this happened, I thought that if I prayed every day for my family to be protected from sickness, then they should not get sick.
But through Abang's illness, I am learning that God's protection does not always mean that we will never experience suffering.
I am beginning to understand that a good God does not necessarily mean that God will always give me what I ask for. Sometimes, God's goodness remains present even when His answer is not what I hoped for.
I am learning to place Abang in God's hands.
I am also learning that peace does not always mean the absence of problems. Sometimes, peace means having God with us when the problems come.
I am still praying for Abang to recover. I am still praying that he will keep his job. I am still hoping that God will heal him as soon as possible.
But now I am learning that my faith cannot depend on whether God answers my prayers according to what I want.
I want to learn to trust that God is still good, even when I do not understand His ways.
I don't know when Abang will recover. I don't know what will happen to his job. But I know one thing: I am not walking through this alone, and neither is Abang.
I want to place Abang in God's hands and continue to accompany him, even from afar.
I am still afraid. I am still praying. I still don't know the answer.
But I choose to trust.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar