Selasa, 30 September 2025

Ketika Khawatir Menyergap, Aku Belajar Bersandar (When Worry Strikes, I Learn to Rely on God)

✝️ Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus

Ada masa-masa dalam hidup di mana godaan Iblis datang dalam bentuk halus: rasa khawatir.
Bukan sekadar pikiran sepele, melainkan angin kekhawatiran yang menusuk hati. Aku sering diliputi ketakutan akan masa depan—apakah aku akan menghadapi penderitaan seorang diri? Apakah aku harus menanggung beban yang terlalu berat, bahkan mungkin anak-anak dengan disabilitas? Rasa takut itu pernah membuatku menangis.

Namun, puji Tuhan, kekhawatiran ini tidak sepenuhnya menguasai hidupku. Aku masih bisa bekerja, beraktivitas, dan menjalani hari-hari.

Apa yang Aku Lakukan Saat Khawatir?

Ketika rasa khawatir itu datang, aku belajar datang kepada Tuhan. Dalam doa, aku pernah berkata, “Tuhan, kalau masa depanku memang seburuk yang aku takutkan, ambil saja nyawaku.”
Aku juga berbagi beban kepada ibuku—menyuarakan kekhawatiran itu ternyata membantu sedikit meredakan rasa sesak.

Namun di tengah itu semua, aku menyadari: aku sering lupa bahwa Allah adalah sumber rancangan damai sejahtera, sebagaimana firman-Nya:

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
(Yeremia 29:11)

Aku juga gagal meyakini sepenuhnya bahwa Allah akan memelihara hidupku. Padahal Yesus sudah berkata:

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”
(Matius 6:25–27)

Ayat ini menjadi penolongku. Saat aku kembali membacanya, hatiku perlahan menjadi lebih tenang.

Masih Belajar Memahami

Aku jujur: aku belum mengerti apa yang Tuhan sedang ajarkan lewat gelombang kekhawatiran ini. Aku pun masih sulit melihat dengan jelas bagaimana Tuhan menjagaku di saat aku benar-benar takut. Tetapi aku percaya, di balik segala rasa cemas, Dia tetap hadir.

Pesan untuk Kamu yang Sedang Khawatir

Jika hari ini kamu juga sedang diliputi rasa khawatir, ingatlah: Tuhan sudah menjanjikan masa depan yang penuh damai sejahtera. Kita memang tidak tahu hari esok, tapi kita tahu siapa yang memegang hari esok itu.

✝️ Tuhan Yesus memberkati.


✨ Call to Action (CTA)

Kalau kamu sedang mengalami pergumulan serupa, jangan pendam sendiri. Bagikan di kolom komentar atau tulis doa singkatmu—mari kita saling menguatkan dalam Kristus. 🙏



✝️ In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit

There are seasons in life when the devil’s temptation comes in subtle form: worry.
Not just fleeting thoughts, but a heavy wind of anxiety that pierces the heart. I often find myself afraid of the future—will I face suffering all alone? Will I have to bear unbearable burdens, perhaps even raising children with disabilities? Such fears have brought me to tears.

Yet, praise God, these worries do not completely rule my life. I can still work, move, and go about my daily activities.

What Do I Do When Worry Comes?

When anxiety hits, I turn to God in prayer. At one point, I even prayed, “Lord, if my future will be as dreadful as I fear, then please just take my life.”
I also share my burden with my mother—voicing the worry helps lighten the weight a little.

But in those moments, I often forget that God is the One who holds plans of peace, just as He promised:

“For I know the plans I have for you,” declares the LORD, “plans to prosper you and not to harm you, plans to give you hope and a future.”
(Jeremiah 29:11)

I also fail to fully trust that God will sustain me, even though Jesus has already said:

“Therefore I tell you, do not worry about your life, what you will eat or drink; or about your body, what you will wear. Is not life more than food, and the body more than clothes? Look at the birds of the air; they do not sow or reap or store away in barns, and yet your heavenly Father feeds them. Are you not much more valuable than they? Can any one of you by worrying add a single hour to your life?”
(Matthew 6:25–27)

This verse comforts me. Every time I come back to it, my heart slowly finds peace.

Still Learning to Understand

Honestly, I don’t yet know what God wants to teach me through these waves of worry. I still struggle to see clearly how He is guarding me when fear overwhelms me. But I choose to believe that even in my anxiety, His presence remains.

A Message for You Who Are Anxious

If today you are also weighed down by worry, remember this: God has promised us a future filled with peace and hope. We may not know what tomorrow holds, but we know the One who holds tomorrow.

✝️ May the Lord Jesus bless you.


✨ Call to Action (CTA)

If you are walking through a similar struggle, don’t carry it alone. Share your thoughts in the comments or write a short prayer—let’s encourage one another in Christ. 🙏


Kamis, 25 September 2025

Cukupkah Kasih Karunia-Nya di Tengah Depresi? (Is His Grace Enough in the Midst of Depression? ✨)

Salam dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.

Ada satu pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul dalam hatiku: “Haruskah aku bermegah dalam kelemahanku? Haruskah aku bersaksi tentang kuasa Tuhan, bahkan di tengah depresiku?”

Sudah banyak malam pertobatan yang kulalui bersama Kristus. Aku sudah lepas dari rokok. Aku sudah lepas dari alkohol. Aku sudah lepas dari seks bebas. Aku sedang dalam proses pelepasan dari pornografi. Aku sedang dalam proses pelepasan dari masturbasi. Akhir-akhir ini, aku bersih dari dosa-dosa yang dulu begitu mengikatku.

Namun, kenyataan lain hadir: aku didiagnosa skizoafektif tipe depresi, atau depresi berat dengan ciri psikotik. Aku bergumul dengan kondisi ini sambil merenungkan perikop Paulus dalam 2 Korintus 12:1–10, tentang penglihatan dan duri dalam daging.

Aku pun bertanya dalam doa: “Apakah jangan-jangan aku diizinkan mengalami depresi agar tidak meninggikan diri atas perjalanan pertobatan ini? Bagaimana jika Tuhan berkata: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna?’”

Apa yang aku pelajari dari pergumulan ini

  1. Depresi menjadi ruang pengingat.
    Lewat depresi, aku belajar untuk tidak mengandalkan diriku sendiri. Hanya kasih karunia-Nya yang mampu menopangku.

  2. Aku bisa berani jujur.
    Aku tidak perlu menutupi depresiku. Justru, di tengah kerentanan ini, aku bisa tetap bersaksi bahwa kasih setia Tuhan nyata menopangku.

  3. Kesetiaan kecil adalah saksi besar.
    Kuasa Tuhan mungkin tidak selalu hadir lewat mujizat instan. Ia hadir lewat kesetiaan untuk tetap berdoa meski hati hampa, lewat keberanian datang ke psikiater, dan lewat komitmen meninggalkan kebiasaan lama. Semua ini adalah bukti bahwa kasih karunia bekerja.

Jadi, bagaimana caranya bermegah di tengah depresi?

Bukan dengan menolak kenyataan. Bukan juga dengan memamerkan luka. Tapi dengan mengizinkan orang lain melihat bagaimana kasih karunia Kristus menolongku bertahan dan tetap berjalan, meski langkah terasa berat.

“Sebab ketika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Korintus 12:10)

Jujur, aku berharap bisa sembuh. Karena, aku mau menikah. Aku mau punya anak yang bersih dari penyakit jiwa.  


Refleksi untukmu yang membaca:
Pernahkah engkau merasa rapuh, tapi justru di sanalah engkau melihat tangan Tuhan menopangmu? Bagaimana kalau hari ini kita belajar bermegah bukan karena kita kuat, tetapi karena kasih karunia Kristus cukup?

Kalau kamu sedang bergumul juga, aku ingin mengajakmu untuk berani jujur pada Tuhan—dan mungkin juga pada orang terdekat—tentang kelemahanmu. Percayalah, kuasa-Nya nyata dalam kerentananmu.




In the Name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

There’s a question that has been echoing in my heart lately: “Should I boast in my weakness? Should I testify to God’s power, even in the midst of my depression?”

I have walked through many nights of repentance with Christ. I have been freed from cigarettes. I have been freed from alcohol. I have been freed from promiscuity. I am in the process of being freed from pornography. I am in the process of being freed from masturbation. Recently, I have been living clean from the sins that once tightly bound me.

Yet another reality remains: I have been diagnosed with schizoaffective disorder, depressive type—or major depressive disorder with psychotic features. I wrestle with this condition while reflecting on Paul’s words in 2 Corinthians 12:1–10, about visions and the thorn in the flesh.

I ask in prayer: “Could it be that I was allowed to experience depression so that I would not exalt myself because of this journey of repentance? What if God is saying to me: ‘My grace is sufficient for you, for My power is made perfect in weakness’?”

What I have learned from this struggle

Depression is a space of reminder.
Through depression, I learn not to rely on myself. Only His grace sustains me.

I can dare to be honest.
I don’t have to hide my depression. Instead, in this vulnerability, I can testify that God’s faithful love truly sustains me.

Small acts of faithfulness are a great witness.
God’s power does not always appear through instant miracles. It is present in the faithfulness to keep praying even when my heart feels empty, in the courage to see a psychiatrist, and in the commitment to leave behind old habits. All of these are proof that His grace is at work.

So, how do I boast in the midst of depression?

Not by denying reality. Not by showcasing my wounds. But by allowing others to see how the grace of Christ helps me endure and keep walking, even when the steps feel heavy.

“For when I am weak, then I am strong.” (2 Corinthians 12:10)

Honestly, I do hope to be healed. Because I want to get married. I want to have children who are free from mental illness.

A reflection for you who are reading this:
Have you ever felt fragile, yet in that very place, you saw the hand of God upholding you? What if today we learn to boast—not because we are strong, but because Christ’s grace is enough?

If you are also struggling, I invite you to be honest with God—and perhaps with someone close to you—about your weakness. Believe that His power is revealed in your vulnerability.


Ketika Aku Bodoh, Tuhan Tetap Baik (When I Was Foolish, God Remained Good)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu merasa bodoh sekali di hadapan Tuhan?
Aku pernah. Dan aku ingin jujur bercerita di sini—bukan untuk mengangkat diriku, tapi untuk menunjukkan betapa baiknya Tuhan kita.

Awal dari Kebodohan Itu

Suatu hari, aku menyimpan benci kepada seseorang—sebut saja Tuan. Semua berawal karena aku merasa kesaksianku di Instagram tidak diterima. Ia tidak pernah berkata langsung, tapi aku merasa tersindir lewat postingan temannya.

Padahal, aku bersaksi dengan maksud untuk kemuliaan Tuhan, terinspirasi dari renungan harian. Tapi aku memang menyeret kisah tentang Tuan, sehingga akhirnya kesaksianku bercampur dengan perasaanku sendiri.

Dari sana, aku memilih benci. Aku berkata kepada Tuhan bahwa aku ingin “bertengkar” dengan-Nya. Aku menolak mengambil Perjamuan Kudus. Aku sengaja tidak mau mengampuni Tuan—dengan harapan Tuhan juga tidak mengampuni aku, supaya aku bisa masuk neraka. Bayangkan, sebodoh itu aku!

Puncaknya: Waham dan Pengakuan di Publik

Aku baru sadar bahwa kesaksianku keliru setelah aku menyadari bahwa kesaksianku itu dibawah waham. Aku punya waham bahwa sosok “X” adalah lambang setan. Suatu malam, aku bermimpi X akan mengadukan seluruh dosaku kepada keluarga. Karena takut, aku pun mengaku dosa di hadapan publik lewat kesaksian. 

Tapi justru setelah sadar, aku semakin merasa berdosa. Kesaksian yang lahir dari waham itu ditolak Tuan, dan dari sanalah kebencianku mulai luntur.

Titik Sadar

Saat aku merasa kesepian dan seolah ditinggalkan Tuhan, aku menangis hebat. Dan justru di situlah aku sadar: bagaimana mungkin aku pernah memilih neraka dan jauh dari Tuhan, padahal kesepian kecil saja sudah begitu menghancurkan aku?

Tuhan tetap baik. Keluargaku masih sehat. Aku masih bisa bekerja dan menerima gaji. Bahkan doaku dikabulkan—aku berdoa ingin bisa curhat dengan Romo, dan Tuhan memberikannya.

Aku Menangis, Tuhan Menyambut

Akhirnya aku hanya bisa menangis, memohon ampun, meminta Tuhan kembali. Karena sungguh, aku tidak tahan sendirian dan ditinggalkan-Nya.

Dan aku belajar: kebodohan manusia tidak pernah bisa mengalahkan kasih Tuhan.


💡 Refleksi untuk kita semua
Mungkin kamu juga pernah merasa bodoh, salah langkah, bahkan memberontak terhadap Tuhan. Jika iya, ingatlah: kamu tidak sendirian. Tuhan tidak berubah setia, bahkan saat kita jatuh ke dalam kebodohan kita sendiri.

👉 Mari kita kembali pada-Nya, memohon ampun, dan bersandar hanya kepada kasih-Nya. Karena hanya di dalam Dia, kita menemukan damai sejati.

Damai Kristus besertamu. ✝️




In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt utterly foolish before God?
I have. And I want to honestly share this here — not to lift myself up, but to show how good our God truly is.

The Beginning of That Foolishness

One day, I harbored hatred toward someone — let’s call him Mr. T. It all started because I felt my testimony on Instagram was not accepted. He never said it directly, but I felt hurt by a post from one of his friends.

The truth is, I testified with the intention of glorifying God, inspired by my daily devotion. But I dragged Mr. T’s story into it, and my testimony became mixed with my personal feelings.

From there, I chose hatred. I told God that I wanted to “quarrel” with Him. I refused to take Holy Communion. I deliberately wouldn’t forgive Mr. T — hoping that God would refuse to forgive me too, so I could end up in hell. Imagine how foolish I was!

The Peak: Delusion and Public Confession

I only realized my testimony was wrong after I understood it had come from a delusion. I had a delusion that the figure “X” was a symbol of Satan. One night I dreamed X would report all my sins to my family. Out of fear, I confessed my sins publicly through that testimony.

But when I came to my senses, I felt even more guilty. The testimony born of delusion was rejected by Mr. T, and from there my hatred began to fade.

The Moment of Awakening

When I felt lonely and seemingly abandoned by God, I wept bitterly. And in that breaking, I realized: how could I ever choose hell and separation from Him, when even a small taste of loneliness was already tearing me apart?

God remained good. My family is still healthy. I can still work and receive a salary. Even my prayer was answered — I prayed for someone I could confide in, a priest, and God gave me that.

I Wept, and God Welcomed Me

In the end, all I could do was cry, ask forgiveness, and beg God to come back to me. Truly, I cannot bear being alone and abandoned by Him.

And I learned: human foolishness can never overcome God’s love.

💡 Reflection for all of us
Maybe you have felt foolish, taken a wrong turn, or even rebelled against God. If so, remember: you are not alone. God’s faithfulness does not change, even when we fall into our own foolishness.

👉 Let us return to Him, ask for forgiveness, and lean wholly on His love. For only in Him do we find true peace.

May the peace of Christ be with you. ✝️


Selasa, 23 September 2025

Diterima Apa Adanya: Pergumulan tentang Pasangan Hidup dan Kesehatan Mental (Accepted As I Am: A Struggle About Love and Mental Health)

✝️ Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu bertanya dalam hati: “Kalau aku tidak sempurna, masih adakah yang mau menerimaku?”

Pertanyaan ini belakangan sering menghantui aku, terutama soal pasangan hidup. Dua bulan terakhir, aku berkali-kali bertanya dalam doa: Apakah ada pria yang bisa menerima aku, meski aku harus bolak-balik kontrol psikiater?

Sampai akhirnya, aku memberanikan diri bertanya di sebuah grup mencari jodoh, Batak Hasian. Pertanyaanku sederhana, tapi penuh beban:

“Apakah mau menerima perempuan yang bolak balik kontrol psikiater?”

Jawaban yang masuk ternyata beragam.
Ada yang berkata, “Tidak. Sembuh dulu. Ada rasa kebanggaan kalau bisa sembuh sendiri. Realistis aja mencari cinta yang setara.”
Tapi ada juga yang berkata, “Kenapa tidak? Kan harus disupport.”

Membaca jawaban pertama, jujur aku gugup, khawatir, cemas, bahkan takut. Pikiran itu berbisik, “Apakah aku akan menjomblo di sisa hidupku?”
Namun membaca jawaban kedua, hatiku sedikit tenang. Setidaknya, ada harapan—masih ada laki-laki di luar sana yang bisa menerima aku apa adanya.

🌿 Kerinduan terdalamku sederhana: pasangan yang mencintaiku tanpa syarat, menerima masa laluku, menerima kondisi kesehatan mentalku. Aku berharap ia bertanggung jawab, tidak kasar, setia, minimal berpendidikan, dan yang paling penting: rajin beribadah.

Sejujurnya, aku masih kesulitan melihat penyertaan Tuhan di tengah kerinduanku ini. Kadang rasanya gelap dan berat. Tapi aku percaya satu hal: Tuhan tidak pernah meninggalkan aku di tengah perjalanan hidup ini.

Untuk teman-teman yang mungkin juga takut ditolak karena sakit—baik fisik maupun mental—aku ingin berkata: kamu tidak sendirian. Andalkan Tuhan, bawa semua ketakutan itu ke hadapan-Nya. Aku tidak bisa menjamin apa pun, tapi aku tahu dengan pasti: Tuhan kita adalah Allah yang Maha Mendengar dan Pengabul doa.

🌸 Harapanku: semoga kita semua, dengan segala kelemahan kita, boleh menemukan pasangan yang tepat dan membangun rumah tangga yang diberkati. Amin.


✨ Kalau kamu merasa tulisan ini menyentuh hatimu, jangan simpan sendiri. Bagikan pada teman yang sedang khawatir soal masa depan dan pasangan hidupnya. Siapa tahu, sedikit penguatan ini bisa jadi jawaban doa mereka.





✝️ In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever asked yourself: “If I’m not perfect, would anyone still accept me?”

This question has been haunting me lately, especially when it comes to marriage. For the past two months, I’ve been praying and wondering: Is there a man who could accept me, even though I need to see a psychiatrist regularly?

Eventually, I gathered the courage to ask this in a matchmaking group called Batak Hasian. My question was simple, yet heavy with meaning:

“Would you accept a woman who regularly visits a psychiatrist?”

The answers varied.
Some said: “No. Get better first. There’s pride in being able to heal on your own. Be realistic—find someone on your level.”
But others replied: “Why not? She needs to be supported.”

Reading the first answer, I honestly felt nervous, anxious, worried—even afraid. A thought whispered: “Will I end up single for the rest of my life?”
But when I read the second answer, I felt some peace. At least there is hope—that somewhere out there, there are men willing to accept me just as I am.

🌿 My deepest longing is simple: a partner who loves me unconditionally, who accepts my past, and my mental health condition. I hope he is responsible, gentle, faithful, educated, and—most importantly—devoted to his faith.

Truthfully, I still struggle to see God’s guidance in the middle of this longing. Sometimes it feels dark and heavy. But one thing I know for sure: God has not abandoned me on this journey.

To anyone who fears rejection because of illness—whether physical or mental—I want to tell you this: you are not alone. Rely on God, bring all your fears before Him. I can’t promise outcomes, but I know for certain: our God is a God who hears and answers prayers.

🌸 My hope: that all of us, with our weaknesses, may find the right partner and build a family that is blessed. Amen.


✨ If this writing speaks to your heart, don’t keep it to yourself. Share it with a friend who’s worried about their future and relationships. Who knows—these words of encouragement might just be the answer to their prayer.


Rabu, 17 September 2025

Kesaksian: Menemukan Tuhan dalam Lagu Lonely (Testimony: Finding God in the Song Lonely)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

What if you had it all
But nobody to call?
Maybe then you'd know me
'Cause I've had everything
But no one's listening
And that's just lonely…

Setiap kali mendengar lagu Lonely dari Justin Bieber, hatiku seperti ditelanjangi. Ada bagian dari diriku yang tercermin begitu nyata dalam lirik itu—bahkan mungkin lebih parah dari yang dinyanyikan.

Aku sadar, kasih karunia Tuhan begitu melimpah dalam hidupku. Aku masih punya orangtua dan adik yang selalu siap mendengarkan ceritaku. Tapi anehnya, meski ada mereka, kesepian tetap saja menghantui. Ada ruang hampa yang tak mudah diisi.

Tidak Dilihat Apa Adanya

Dalam perjalanan hidupku, sering aku merasa tidak benar-benar terlihat. Keluargaku tidak mengenalku sepenuhnya. Teman-teman hanya tahu sebagian kisahku: bahwa aku pernah menjadi perokok, pemabok, dan mencari cinta di jalan yang salah sampai kehilangan kegadisan.

Tapi mereka tidak tahu sisi lainku: seorang aku yang diam-diam sering menyakiti diri sendiri saat sendirian. Inilah wajah kesepianku yang tak terlihat orang lain.

Hampa, Tapi Tidak Sendiri

Lagu ini membuatku merasa hampa sekaligus terluka. Namun, aku juga menemukan penghiburan: bahwa aku tidak sendirian dalam kesepian. Ada orang lain yang pernah menjerit dengan rasa sepi yang sama.

Kalau aku bisa menulis surat kepada “diriku yang kesepian”, aku ingin bertanya:

“Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kamu sudah terlalu lelah? Apakah lukamu sudah sembuh? Apakah kamu sudah bisa merelakan dia yang pergi meninggalkanmu?”

Bertahan dengan Cara yang Baru

Di masa sepi ini, aku belajar bertahan dengan cara yang lebih sehat: menulis, mendengarkan lagu, dan chatting dengan keluargaku. Aku percaya, pengalaman ini adalah sarana pertobatan.

Waktu kuliah dulu, ketika kesepian datang, aku memilih pelarian yang salah—rokok dan minuman keras. Kini, Tuhan memberi kesempatan kedua: untuk memilih jalan yang lebih baik.

Pesan untuk Kamu yang Membaca

Aku ingin berbagi satu hal: setiap orang punya masa sepinya masing-masing.
Kalau kamu sedang berada di titik itu, percayalah—kamu tidak sendirian dalam perjalanan ini.

💌 Jika kamu juga sedang merasa hampa dan kesepian, jangan biarkan dirimu berjalan sendirian. Carilah seseorang untuk berbicara. Menulislah. Dengarkan lagu yang bisa menenangkanmu. Dan yang terpenting, datanglah pada Tuhan.

Sebab, di tengah kesepian terdalam, Dia tetap melihatmu apa adanya.




In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

What if you had it all
But nobody to call?
Maybe then you'd know me
'Cause I've had everything
But no one's listening
And that's just lonely…

Every time I listen to Justin Bieber’s Lonely, my heart feels exposed. There’s a part of me that resonates so deeply with those lyrics—perhaps even worse than what the song describes.

I realize that God’s grace overflows in my life. I still have my parents and my sibling, who are always willing to listen to my stories. Yet strangely, even with them around, loneliness still lingers. There’s an emptiness inside me that isn’t easy to fill.

Not Truly Seen

Throughout my life, I often felt unseen. My family didn’t really know me as I truly was. My friends only knew part of my story: that I used to smoke, drink, and seek love in the wrong places until I lost my purity.

But they never knew the other side of me—the one who often hurt herself in silence when no one was watching. This is the face of my loneliness that remained invisible to others.

Empty, Yet Not Alone

This song leaves me feeling empty and wounded, yet it also brings comfort: I’m not the only one walking through this kind of loneliness. Someone else once cried out with the same pain.

If I could write a letter to my “lonely self,” I would ask:

“How are you today? Are you already too tired? Have your wounds begun to heal? Have you been able to let go of the one who left you?”

Learning to Endure in New Ways

In this season of loneliness, I’ve learned to endure in healthier ways: by writing, listening to music, and chatting with my family. I believe this experience has become a path of repentance.

Back in college, when loneliness came, I chose the wrong escapes—smoking and drinking. But now, God has given me a second chance: to choose what is better.

A Message for You Who Are Reading

I want to share this truth: everyone has their own season of loneliness.
If you’re going through that right now, please believe this—you are not walking alone.

💌 If you are feeling empty and lonely, don’t let yourself carry it all by yourself. Find someone you can talk to. Write it down. Listen to music that soothes your soul. And most importantly, draw near to God.

Because in the deepest loneliness, He still sees you—just as you are.

Berdiri di Tengah Badai: Kesaksian dari Hati yang Sepi (Standing in the Midst of the Storm: A Testimony from a Lonely Heart)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Ada kalanya hidup terasa seperti badai. Kita tahu harus bertahan, tapi tubuh, hati, dan jiwa seolah sudah lelah. Lagu yang akhir-akhir ini menemani saya berbunyi:

Ku kan berdiri di tengah badai
Dengan kekuatan yang Kau berikan
Sampai kapan pun
Ku kan bertahan karna Yesus selalu menopang

Ku kan bertahan dalam tekanan
Dengan kekuatan yang Kau berikan
Sampai kapanpun tak tergoyahkan
Karna Yesus selalu menopang hidupku

Badai yang Saya Hadapi

“Badai” apa yang paling terasa dalam hidupmu saat ini?
Kalau saya, badai itu bernama kesepian.

Kesepian ini sering menggoda saya untuk pulang lebih cepat dari jadwal Tuhan. Ada hampa, kekosongan, dan senyum yang jarang sekali muncul—padahal dulu saya sering tertawa lepas.

Saya sadar, saya tidak cukup kuat dengan kekuatan saya sendiri. Tapi jujur, kadang saya merasa Tuhan begitu jauh. Saya tahu Kristus masih mendengar doa saya, bahkan menjawabnya, tetapi setelah itu… keheningan kembali menghampiri.

Di titik ini, saya bahkan tidak yakin bisa bertahan. Namun, ketika mengingat keluarga saya—betapa mereka akan sedih jika saya pulang sendirian—itu membuat saya tetap berpijak.

Antara Keyakinan dan Keraguan

Lirik lagu ini seharusnya menguatkan. Tetapi saya tidak menutup-nutupi, sering kali saya masih merasa tidak yakin dengan penyertaan Tuhan. Hati saya sedih sekali.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang tetap saya pegang: saya masih mau menyembah-Nya. Sekalipun iman ini rapuh, saya tetap ingin memuji Dia.

Untuk Kamu yang Membaca

Jika ada teman-teman yang saat ini berada di badai yang sama—merasa sepi, merasa Tuhan jauh, merasa goyah—kamu tidak sendiri. Saya juga ada di titik ini.

Mari kita tetap bertahan, meski dengan iman sekecil biji sesawi. Kiranya Kristus segera memulihkan kita.

Amin.
Damai Kristus besertamu.


Call-to-Action (CTA):
Kalau kamu juga pernah atau sedang merasa di tengah badai, tuliskan di kolom komentar apa yang menguatkanmu. Siapa tahu kesaksianmu bisa jadi penghiburan bagi orang lain yang sedang berjuang.










In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

There are moments in life that feel like a storm. We know we have to stand strong, but our body, heart, and soul feel exhausted. A song that has been accompanying me lately says:

I will stand in the midst of the storm
With the strength You have given
Forever I will endure
For Jesus always sustains me

I will endure under pressure
With the strength You have given
Forever unshaken
For Jesus always sustains my life

The Storm I Face

What “storm” do you feel in your life right now?
For me, the storm is called loneliness.

This loneliness often tempts me to go home earlier than God has scheduled. I feel empty, hollow, and laughter has become rare—while I used to laugh so freely.

I realize I am not strong enough on my own. Yet honestly, at times I feel God is so distant. I know Christ still listens to my prayers, even answers them, but after that… silence returns.

At this point, I am not even sure I can endure. But when I remember my family—how sad they would be if I went home alone—that gives me reason to keep standing.

Between Faith and Doubt

This song’s lyrics should strengthen me. But I won’t hide it—many times I still feel uncertain about God’s presence. My heart feels so heavy and sad.

Yet even in the midst of it all, there is one thing I hold on to: I still want to worship Him. Even if my faith feels fragile, I still want to praise Him.

To You Who Are Reading

If you, dear friends, are in the same storm—feeling lonely, feeling God is far, feeling shaken—you are not alone. I am right here too.

Let us continue to endure, even with faith as small as a mustard seed. May Christ bring restoration to us soon.

Amen.
The peace of Christ be with you.


Call-to-Action (CTA):
If you’ve ever felt or are currently in the midst of a storm, share in the comments what has strengthened you. Your testimony might become the very encouragement someone else needs.

Minggu, 14 September 2025

Kesaksian dari Bangsal Psikiatri: Di Mana Aku Belajar Bersyukur dan Bersandar pada Tuhan (A Testimony from the Psychiatric Ward: Where I Learned to Be Grateful and Lean on God)

“Bagaimana rasanya dirawat di bangsal psikiatri?”
Mungkin itu pertanyaan yang jarang kita dengar, bahkan tabu untuk ditanyakan. Tapi aku ingin jujur—karena siapa tahu kisah ini bisa menemani seseorang yang sedang berada di titik paling gelap dalam hidupnya.

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Semoga tulisan ini dapat menemanimu, terutama bagi yang saat ini sedang berjuang dari balik pintu bangsal psikiatri.


Pengalaman Dirawat di Bangsal

Pada tanggal 30 Agustus – 09 September 2025, aku dirawat inap di bangsal psikiatri karena dorongan mengakhiri hidup yang begitu kuat. Aku merasa malu ketika menyadari bahwa aku membutuhkan perawatan ini. Namun, justru dari tempat itulah aku belajar banyak hal.

Setiap pasien membawa ceritanya sendiri. Ada yang sedang berjuang dengan kanker, ada yang kehilangan kedua orangtuanya, ada yang konflik rumah tangga, bahkan ada yang mengalami overdosis. Ada juga seorang ibu hamil yang harus dirawat di sana. Melihat mereka, aku tersadar—mereka menghadapi beban yang jauh lebih berat, tetapi tetap berjuang untuk hidup.


Ketakutan dan Kesunyian

Hal yang paling kutakuti selama dirawat adalah konflik antar pasien. Setiap kali ada yang marah-marah, aku langsung terpicu dengan ingatan KDRT yang dulu kualami di rumah. Itu membuatku semakin sulit merasa aman.

Selain itu, aku tidak bisa dikunjungi, tidak bisa bertemu siapapun, tidak boleh menggunakan ponsel, bahkan tidak ada banyak kegiatan untuk mengalihkan pikiran. Hari-hari terasa begitu jenuh dan panjang.


Titik Syukur Kecil

Namun, di tengah keterbatasan itu, aku justru belajar bersyukur untuk hal-hal kecil.
Aku bersyukur masih punya ponsel, punya sandal, bisa makan dengan garpu, tubuhku masih sehat, dan memiliki orangtua yang selalu mendukungku.

Syukur kecil inilah yang perlahan-lahan menumbuhkan kembali harapan dalam diriku.


Harapan yang Membuatku Bertahan

Selama perawatan, aku mulai menemukan kembali stabilitas. Aku sadar masih punya mimpi yang ingin kucapai—aku ingin punya rumah dengan halaman luas, tempat aku bisa memelihara burung kakatua, macaw, cockatiel, ayam pheasant, merak, dan juga kolam koi.

Selain itu, keluargaku adalah alasan terbesarku bertahan. Aku tidak bisa membayangkan harus berjalan tanpa mereka.


Tuhan Mengisi Jiwaku yang Kering

Di bangsal itu, aku sempat membaca buku Kuasa Doa Seorang Wanita. Dari buku itu aku disadarkan bahwa jiwaku kering, dan hanya Yesus yang bisa memulihkannya.

Aku juga sadar bahwa semangatku sudah pudar. Dan semangat yang pudar hanya bisa dipulihkan dengan memuji Tuhan. Aku sering lupa bersuka cita, padahal sukacita sejati hanya datang ketika aku menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.


Penutup: Harapan dari Bangsal

Aku sungguh berharap pengalaman ini menjadi yang pertama sekaligus terakhir bagiku untuk dirawat inap di bangsal psikiatri. Tapi jika pun ada yang harus melalui jalan ini lagi, aku ingin mengatakan:

Kamu tidak sendirian. Tuhan tidak pernah meninggalkanmu. Ada harapan, ada masa depan, bahkan dari balik jeruji bangsal yang tampak menyesakkan.


Call to Action

Kalau kamu sedang membaca ini dan merasa hidupmu berat, aku ingin mengajakmu:

  • Beranilah mencari pertolongan, itu bukan aib.

  • Hargailah hal-hal kecil di sekitarmu—sebab syukur bisa menjadi jembatan menuju harapan.

  • Dan yang paling penting, serahkan dirimu pada Tuhan, karena hanya Dia sumber sukacita sejati.

🙏 Semoga kisah ini bisa menemanimu, menguatkanmu, atau menjadi pengingat bahwa hidup, betapapun beratnya, tetap layak diperjuangkan.




“What does it feel like to be admitted to a psychiatric ward?”
It’s a question rarely asked, maybe even considered taboo. But I want to share honestly—because perhaps this story can accompany someone who is walking through the darkest season of their life.

In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.
May this writing be a companion to you, especially if you are currently struggling behind the doors of a psychiatric ward.


My Days in the Ward

From August 30 – September 9, 2025, I was admitted to the psychiatric ward due to strong suicidal urges. I felt ashamed when I realized I needed this kind of treatment. Yet, it was there that I learned many things.

Every patient had their own story. Some were battling cancer. Some had lost both parents. Others were facing marital conflict or had overdosed in an attempt to end their lives. There was even a pregnant woman being treated in the ward. Seeing them, I realized—they were carrying burdens far heavier than mine, yet they kept fighting to live.


Fear and Loneliness

My biggest fear during treatment was conflicts among patients. Every time someone got angry, it triggered me deeply, reminding me of the domestic violence I had witnessed in my family when I was younger. It was hard to feel safe.

On top of that, I wasn’t allowed to have visitors, couldn’t meet anyone, couldn’t use my phone, and had very limited activities to pass the time. The days felt long and suffocating.


The Gift of Small Gratitudes

And yet, in the middle of those restrictions, I learned to be grateful for the smallest things.
I was grateful to still have a phone.
Grateful for a pair of sandals.
Grateful for a fork to eat with.
Grateful that my body was still healthy.
Grateful for parents who remained supportive and responsive to my needs.

These small gratitudes slowly rekindled hope within me.


The Dreams that Kept Me Alive

During treatment, I began to find stability again. I realized I still had dreams to pursue—I longed to own a house with a wide yard, where I could care for parrots, macaws, cockatiels, pheasants, peacocks, and a koi pond.

Above all, my family was my greatest reason to stay alive. I couldn’t imagine walking this road without them.


When God Restored My Dry Soul

In the ward, I came across a book titled The Power of a Praying Woman. Through it, I realized that my soul was dry, and only Jesus could restore it.

I also realized that my spirit had faded. And a faded spirit can only be renewed through praising God. I had forgotten how to rejoice, when in fact, true joy only comes when I surrender myself fully to Him.


Closing: A Hope from the Ward

I deeply hope that this will be my first and last experience of being admitted to a psychiatric ward. But even if someone else has to walk this path, I want to say:

You are not alone. God has never left you. There is hope, there is a future—even from behind the locked doors of a ward that feels suffocating.


Call to Action

If you are reading this and life feels unbearably heavy, I want to invite you to:

  • Be brave enough to seek help—it is not shameful.

  • Cherish the small things around you—gratitude can be a bridge to hope.

  • And most importantly, surrender yourself to God, for He alone is the source of true joy.

🙏 May this story be a companion to you, a source of strength, or a reminder that life, no matter how heavy it feels, is still worth fighting for.

Tuhan Menyembuhkan, Bahkan Saat Aku Merasa Jauh (God’s Healing, Even When I Feel Far From Him)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kadang pemulihan tidak datang lewat mukjizat besar, tapi lewat satu kalimat sederhana dari oran...