Minggu, 13 September 2026

Perfect Love and the Agony of Gethsemane

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Hari ini, saya sedang scroll Threads dan menemukan sebuah diskusi yang menarik.

Ada sebuah postingan yang menyatakan bahwa bahkan Yesus berdoa di Taman Getsemani, “Kalau bisa, lalukanlah cawan ini dari pada-Ku.” Kemudian, seseorang bertanya, “Jadi, apakah Yesus takut? Saya kan orang awam. Bisa bantu menjelaskan ayat 1 Yohanes 4:16 dan 1 Yohanes 4:18?”

1 Yohanes 4:16 mengatakan:

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”

Kemudian 1 Yohanes 4:18 mengatakan:

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”

Lalu muncul pertanyaan: Kalau Yesus mengalami ketakutan di Getsemani, apakah itu berarti Ia berada di luar kasih? Dan kalau Ia berada di luar kasih, apakah itu berarti Ia bukan Allah?

Menurut saya, pertanyaan ini menarik. Saya pun mencoba merenungkannya dan mencari penjelasan melalui tafsiran Alkitab.

Menurut Matthew Henry’s Commentary (MHC), Yesus mengalami penderitaan dan ketakutan yang sangat besar di Getsemani. Namun, MHC menjelaskan bahwa penderitaan tersebut bukan disebabkan oleh luka-luka atau siksaan fisik karena pada saat itu belum ada seorang pun yang melukai-Nya. Sebaliknya, penderitaan yang Ia alami berasal dari pergumulan yang begitu dalam di dalam diri-Nya ketika Ia menghadapi apa yang akan segera terjadi.

MHC menjelaskannya demikian:

“. . Yang dialamiNya itu disebut ketakutan yang sangat besar, sebuah pertentangan Apa yang dialamiNya bukanlah rasa sakit atau siksaan badan karena sesungguhnya tidak ada yang melukai Dia saat itu. Akan tetapi, apapun yang membuatnya tersiksa berasal dari dalam diriNya sendiri. . .”

Lalu, bagaimana hal ini berkaitan dengan 1 Yohanes 4:16 dan 1 Yohanes 4:18?

MHC menjelaskan bahwa kasih yang sempurna dalam 1 Yohanes 4:18 melenyapkan ketakutan terhadap penghukuman dan penghakiman Allah. Orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah dan percaya kepada kasih-Nya tidak perlu hidup dalam ketakutan terhadap hukuman yang akan datang. Sebaliknya, kasih Allah memberi mereka keberanian untuk menghadapinya.

". . . Orang-orang yang benar-benar mengasihi Allah karena sifat, nasihat, dan kovenanNya, juga benar-benar yakin akan kasihNya, dan sebagai  akibatnya, mereka juga bebas dari dugaan menakutkan apapun mengenai kuasa dan keadilan penghukumanNya, sebab mereka dipersenjatai untuk menghadapinya.. . ."

Hal ini membuat saya memahami bahwa perkataan “kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” bukan berarti seseorang yang mengasihi Allah tidak akan pernah mengalami rasa takut, kegelisahan, atau penderitaan batin.

Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan akan penghukuman dan keterpisahan dari Allah.

Ada juga perbedaan antara takut terhadap penghukuman Allah dan takut akan Allah dalam arti hormat, gentar, dan takjub kepada-Nya. Rasa takut yang kudus kepada Allah tidak bertentangan dengan kasih. Justru kita dipanggil untuk menghormati dan memuliakan-Nya.

Karena itu, penderitaan Yesus di Getsemani tidak seharusnya langsung dipahami sebagai tanda bahwa Ia tidak memiliki kasih atau bahwa Ia berada di luar kasih Allah.


Ia mengalami penderitaan yang begitu dalam karena Ia dengan rela menghadapi penderitaan yang ada di hadapan-Nya.

Doa-Nya, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi,” bukanlah penolakan terhadap Bapa. Sebaliknya, doa tersebut menunjukkan ketaatan dan kasih-Nya yang sempurna kepada Bapa.

Dan mungkin, ada sesuatu yang juga penting bagi kita sebagai manusia biasa.

Mengalami ketakutan tidak otomatis berarti iman kita lemah. Merasa cemas tidak berarti kita berhenti mengasihi Allah. Merasa begitu tertekan oleh penderitaan tidak berarti Allah telah meninggalkan kita.


Karena itu, 1 Yohanes 4:18 bukan berarti setiap orang yang pernah merasa takut pasti tidak sempurna dalam kasih. Ayat ini justru mengarahkan kita kepada kasih yang secara perlahan membebaskan kita dari ketakutan akan penghukuman, karena kita tahu bahwa kita dikasihi oleh Allah.

Kasih yang sempurna bukan berarti kita tidak akan pernah gemetar.

Kasih yang sempurna berarti bahwa bahkan ketika kita gemetar, kita tetap dapat mempercayai Dia yang mengasihi kita.

Dan mungkin, inilah salah satu hal indah yang dapat kita pelajari dari Getsemani: ketakutan dan kasih dapat hadir di dalam hati yang sama. Namun, kasih yang sempurna mengajarkan kepada kita kepada siapa kita harus percaya di tengah-tengah ketakutan kita.

Amin.


In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit. Amen.

Today, I was scrolling through Threads and came across an interesting discussion.

Someone posted that even Jesus prayed in the Garden of Gethsemane, saying, “If it is possible, let this cup pass from Me.” Then someone else asked:

“So, was Jesus afraid? I’m just an ordinary person. Could someone help explain 1 John 4:16 and 1 John 4:18?

‘We have come to know and to believe the love that God has for us. God is love, and whoever remains in love remains in God and God in him.’

And:

‘There is no fear in love, but perfect love drives out fear, because fear has to do with punishment. Whoever fears is not made perfect in love.’

How do we understand this? If Jesus was afraid, does that mean He was outside of love? And if He was outside of love, does that mean He was not God?”

I found this question very interesting, so I reflected on it and looked into biblical commentaries.

According to Matthew Henry’s Commentary (MHC), Jesus experienced an overwhelming sense of anguish and fear in Gethsemane. However, MHC explains that His agony was not caused by physical wounds or the pain of crucifixion at that moment. No one was physically hurting Him in the garden. Rather, His suffering came from the immense anguish He experienced within Himself as He faced what was before Him.

MHC describes it this way:

“. . . What He experienced is described as a great agony, a profound inner conflict. What He experienced was not physical pain or bodily suffering, for no one was physically hurting Him at that moment. Rather, whatever caused Him distress came from within Himself. . . .”

So, how does this relate to 1 John 4:16 and 1 John 4:18?

MHC explains that the perfect love spoken of in 1 John removes the fearful expectation of God’s judgment and punishment. Those who truly love God and trust in His love do not have to live in terror of the coming judgment. Instead, His love gives them confidence to face it.

MHC describes it this way:

". . . Those who truly love God for His character, His counsels, and His covenant also have a firm confidence in His love. As a result, they are free from any fearful apprehension concerning the power and justice of His judgment, because they are equipped to face it. . . ."


This helped me understand that “perfect love drives out fear” does not mean that a person who loves God will never experience fear, anguish, or emotional suffering.

Rather, it means that perfect love drives out the fear of condemnation and punishment.

There is also a distinction between being afraid of God’s judgment and having reverent fear of God. Holy fear, awe, and reverence toward God are not contrary to love. In fact, Scripture teaches us to honor and revere Him.

Perhaps this is why the agony of Jesus in Gethsemane should not immediately be understood as a sign that He lacked love or that He was somehow outside of God’s love.


He was in anguish precisely as He willingly faced the suffering that lay before Him.

His prayer, “Not My will, but Yours be done,” reveals not a rejection of the Father, but perfect obedience and perfect love.

And perhaps this is also something important for us as ordinary human beings.

Experiencing fear does not automatically mean that our faith is weak. Feeling anxious does not mean that we have stopped loving God. Being overwhelmed by suffering does not mean that God has left us.


Therefore, 1 John 4:18 is not telling us that a person who ever feels afraid is imperfect in every sense. Rather, it points us toward a love that gradually frees us from the fear of condemnation, because we know that we are loved by God.

Perfect love does not necessarily mean that we will never tremble.

It means that even when we tremble, we can still trust the One who loves us.

And perhaps that is one of the most beautiful things we can learn from Gethsemane: fear and love can exist in the same heart, but perfect love teaches us whom to trust in the midst of our fear.

Amen.

Selasa, 08 September 2026

Covered by Grace: A Testimony of Forgiveness

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Halo, teman-teman.

Aku berharap artikel ini menemukanmu dalam keadaan yang baik.
 

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” — Mazmur 32:1

Apakah teman-teman pernah merasa begitu malu terhadap masa lalu sampai berharap tidak seorang pun mengetahuinya?

Aku pernah.

Dan kalau kamu juga pernah merasakannya, mungkin tulisan ini untukmu.

Ketika SMA, aku pernah berelasi dengan seseorang. Sebut saja namanya M. Awalnya, M ingin menjadikanku sebagai kekasihnya. Kebetulan, aku juga menyukainya.

Namun, kisah kami justru mengantarkanku kepada kehidupan yang terasa seperti neraka.

Ketika kami berelasi, M mengancam akan meninggalkanku kalau aku tidak memberikan foto bugilku. Bodohnya, aku mengirimkannya.

Setelah itu, dia mengancam akan menyebarkan foto tersebut kalau aku tidak mengirimkan foto lagi. Karena ketakutan, aku kembali mengirimkannya.

Begitu terus berulang kali sampai akhirnya kami berpisah.

Belakangan aku menyadari bahwa selama ini aku mengira diriku adalah kekasihnya. Ternyata, aku hanya selingkuhannya.

Aku merasa sangat bodoh.

Aku menyesal atas keputusan-keputusan yang pernah kubuat. Aku merasa jijik terhadap perbuatanku sendiri. Namun, di balik semuanya, sebenarnya aku hanya ingin dicintai.

Aku ingin dicintai dan diterima.

Aku juga sangat takut.

Aku takut suatu hari orangtuaku mengetahuinya. Aku takut orang-orang mengetahuinya. Aku bahkan takut suatu hari nanti suamiku mengetahui masa laluku.

Setiap kali ada berita tentang foto atau video intim seseorang yang tersebar dan menjadi viral, hatiku langsung berdebar. Aku takut kalau-kalau itu adalah fotoku.

Tetapi, Puji Tuhan.

Tuhan baik kepadaku.

Sampai hari ini, setiap kali ada foto atau video intim yang viral, itu bukan fotoku. Aku bersyukur kepada Tuhan.

Dulu, aku berpikir bahwa “dosaku ditutupi” berarti tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang pernah kulakukan.

Namun, semakin aku merenungkan Mazmur 32:1, aku belajar bahwa maknanya jauh lebih dalam.

Tuhan tidak menutupi dosaku karena Dia tidak tahu apa yang telah kulakukan.

Tuhan tahu.

Dia mengetahui semuanya.

Dia mengetahui keputusan-keputusan buruk yang pernah kubuat. Dia mengetahui rasa takutku. Dia mengetahui rasa maluku. Dia mengetahui bagian-bagian dari masa laluku yang bahkan sulit untuk kuakui kepada diriku sendiri.

Namun, Dia tetap mengampuniku.

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi.”

Betapa besar kasih karunia Tuhan.

Sampai sekarang pun, aku masih belajar mempercayakan hidupku sepenuhnya kepada-Nya.

Kadang-kadang aku masih berharap HP mantanku rusak supaya foto-fotoku benar-benar musnah. Aku masih takut sesuatu dari masa lalu itu muncul kembali.

Tetapi aku mulai belajar bahwa mempercayakan hidup kepada Tuhan bukan berarti aku tidak pernah merasa takut.

Mempercayakan hidup kepada Tuhan berarti aku tetap datang kepada-Nya bahkan ketika aku takut.

Aku tidak bisa mengendalikan HP orang lain.

Aku tidak bisa mengendalikan masa lalu.

Aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi di masa depan.

Tetapi aku bisa menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

Puji Tuhan, aku sudah bertobat.

Perjalananku juga tidak selalu mulus. Beberapa kali aku gagal. Beberapa kali aku kembali jatuh.

Namun, Tuhan tidak meninggalkanku.

Sedikit demi sedikit, Tuhan membawaku keluar dari kehidupan seksual yang dahulu mengikatku. Hari ini, aku bisa berkata bahwa aku sudah dibebaskan dari kehidupan itu.

Bukan karena aku kuat.

Bukan karena aku lebih baik daripada orang lain.

Tetapi karena kasih karunia Tuhan.

Karena itu, kalau kamu sedang membaca tulisan ini dan kamu juga memiliki masa lalu yang membuatmu malu, aku ingin mengatakan satu hal kepadamu:

Masa lalumu bukanlah seluruh identitasmu.

Apa yang pernah kamu lakukan bukan berarti kamu tidak dapat diampuni.

Dan kalau kamu sudah datang kepada Tuhan dengan hati yang bertobat, jangan terus menghukum dirimu sendiri atas dosa yang sudah kamu serahkan kepada-Nya.

Tuhan tahu semuanya.

Dan Dia tetap mengasihimu.

Hari ini aku masih belajar percaya.

Masih belajar menyerahkan ketakutanku.

Masih belajar menerima bahwa aku sudah diampuni.

Dan mungkin, itulah perjalanan iman: bukan menjadi manusia yang tidak pernah takut, tetapi terus belajar berkata,

“Tuhan, aku tidak mampu mengendalikan semuanya. Karena itu, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu.”

Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya.

Berbahagialah orang yang dosanya ditutupi.

Kiranya kita semua boleh mengalami kasih karunia Tuhan yang sama.

Puji Tuhan.




In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Hello, friends.

I hope this article finds you well.
 

“Blessed is the one whose transgression is forgiven, whose sin is covered.”
 — Psalm 32:1

Have you ever felt so ashamed of your past that you wished no one would ever find out?

I have.

And if you have ever felt the same way, perhaps this story is for you.

When I was in high school, I was in a relationship with someone. Let’s call him M. At first, M wanted me to be his girlfriend. As it happened, I liked him too.

But our relationship eventually led me into a life that felt like hell.

While we were together, M threatened to leave me if I did not send him nude photos of myself. Foolishly, I sent them.

After that, he threatened to share the photos if I did not send him more. Because I was afraid, I sent more.

This continued repeatedly until we eventually broke up.

Later, I realized that I had thought I was his girlfriend. In reality, I was only the other woman.

I felt so foolish.

I regretted the decisions I had made. I felt disgusted with myself because of what I had done. But beneath all of it, the truth was that I simply wanted to be loved.

I wanted to be loved and accepted.

I was also terrified.

I was afraid that one day my parents would find out. I was afraid that other people would find out. I was even afraid that someday my future husband would discover my past.

Whenever I heard about someone's intimate photos or videos being leaked and going viral, my heart would race. I was afraid that they might be mine.

But praise God.

God has been good to me.

To this day, whenever intimate photos or videos go viral, they have not been mine. I am grateful to God.

I used to think that having my “sins covered” meant that no one would ever find out what I had done.

But the more I reflect on Psalm 32:1, the more I realize that it means something much deeper.

God does not cover my sins because He does not know what I have done.

He knows.

He knows everything.

He knows the wrong decisions I have made. He knows my fear. He knows my shame. He knows the parts of my past that are even difficult for me to admit to myself.

And yet, He still forgives me.

“Blessed is the one whose transgression is forgiven, whose sin is covered.”

What an incredible grace.

Even now, I am still learning to trust Him with my whole life.

Sometimes I still find myself wishing that my ex-boyfriend's phone would break so that my photos would be completely destroyed. I am still afraid that something from my past might resurface.

But I am learning that trusting God does not mean that I will never be afraid.

Trusting God means that I continue to come to Him even when I am afraid.

I cannot control someone else's phone.

I cannot control the past.

I cannot guarantee what will happen in the future.

But I can surrender everything to God.

Praise God, I have repented.

My journey has not always been smooth. I have failed several times. There were times when I fell back into my old ways.

But God did not abandon me.

Little by little, God has been leading me out of the sexual lifestyle that once held me captive. Today, I can say that I have been set free from that life.

Not because I am strong.

Not because I am better than anyone else.

But because of God's grace.

So, if you are reading this and you also carry a past that fills you with shame, I want to tell you one thing:

Your past does not define your entire identity.

What you have done does not mean that you are beyond forgiveness.

And if you have already come before God with a repentant heart, do not keep punishing yourself for the sins you have already surrendered to Him.

God knows everything.

And He still loves you.

Today, I am still learning to trust.

Still learning to surrender my fears.

Still learning to accept that I have been forgiven.

And perhaps that is what the journey of faith looks like: not becoming a person who is never afraid, but continually learning to say,
 

“God, I cannot control everything. Therefore, I surrender my life to You.”

Blessed is the one whose transgression is forgiven.

Blessed is the one whose sin is covered.

May we all experience the same grace of God.

Praise God.

PS: Threatening to share someone's intimate photos is a form of coercion and exploitation. If you ever experience this, please tell your teacher or your parents and report it. Don't make the same mistake I did.


Minggu, 06 September 2026

Ilahi (the Divine)

Tatkala Ilahi mengenalkanku pada semesta

Tingginya pohon dalam hutan 

Amukan petir menyambar relung

Deburan ombak memecah karang

Kencangnya angin merobek sukma

Tergantung bintang dan bulan menemani sepinya malam

Terselip dalam rendah 

Aku sangatlah kecil 


Bandung, 26 April 2018


When the Divine Introduced Me to the Universe

The towering trees within the forest,

The thunder striking the depths,

The crashing waves breaking against the rocks,

The fierce wind tearing through the soul,

The stars and moon hanging above,
keeping company with the solitude of the night.

Amidst it all, in my smallness,

I realize how very small I am.

Bandung, April 26, 2018

Aku Masih Takut, Aku Masih Berdoa, Tetapi Aku Memilih Percaya (I’m Still Afraid, I’m Still Praying, But I Choose to Trust)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Halo, teman-teman.

Semoga artikel ini menemukan kalian dalam keadaan baik.

Apakah teman-teman pernah merasa sedih karena doa yang kita panjatkan seolah-olah tidak didengarkan?

Aku juga pernah merasakan hal itu.

Setiap hari, aku selalu berdoa agar mama, bapak, abang sayang, dan adikku dilindungi dari sakit penyakit.

Puji Tuhan, mama dan adikku sehat. Bapak juga masih dalam kondisi yang terkontrol, meskipun beliau memiliki pembengkakan jantung dan kadar kreatinin yang tinggi.

Namun, beberapa waktu lalu, Abang Sayang terkena Bell's palsy. Sudah sekitar seminggu Abang harus beristirahat di rumah. Mendengar kabar itu, aku lemas. Aku khawatir. Aku takut. Aku sedih dan bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak mengabulkan doaku?

Awalnya, aku merasa sedih karena aku percaya Tuhan telah berjanji memberikan rancangan damai sejahtera. Lalu aku berpikir, kalau Abang sakit seperti ini, di mana damai sejahtera itu?

Aku tidak tahu kapan Abang akan sembuh. Katanya, Bell's palsy dapat membutuhkan waktu beberapa minggu, bahkan dalam beberapa kasus bisa sampai berbulan-bulan. Aku mulai memikirkan banyak hal. Kalau sampai dua bulan Abang tidak bisa bekerja, bagaimana kalau dia kehilangan pekerjaannya?

Aku juga merasa tidak berdaya. Aku belum bekerja dan tidak punya banyak uang, sehingga aku tidak bisa banyak membantu biaya pengobatannya dan fisioterapinya. Kami juga menjalani hubungan jarak jauh, Rangkasbitung–Cikarang. Aku tidak bisa mendampinginya secara langsung. Aku takut Abang merasa sendirian dalam menghadapi penyakitnya.

Namun, setelah Abang pergi ke dokter, aku bersyukur karena ternyata kondisinya tidak terlalu parah. Dokter meminta Abang untuk tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat dan beristirahat.

Aku juga bersyukur karena Tuhan masih memelihara kami. Abang mengalami Bell's palsy, bukan stroke, kanker, gagal ginjal, atau penyakit berat lainnya yang selama ini sempat menjadi ketakutanku. Tuhan juga menyediakan biaya untuk pengobatannya.

Sebelumnya, aku berpikir bahwa kalau aku sudah berdoa setiap hari supaya keluargaku dilindungi dari sakit penyakit, maka seharusnya mereka tidak sakit.

Tetapi melalui sakitnya Abang, aku belajar bahwa perlindungan Tuhan tidak selalu berarti kita tidak akan mengalami penderitaan.

Aku mulai menyadari bahwa Tuhan yang baik bukan berarti Tuhan selalu memberikan apa yang aku minta. Terkadang, kebaikan Tuhan tetap ada bahkan ketika jawaban-Nya tidak seperti yang kuharapkan.

Aku belajar menyerahkan Abang ke dalam tangan Tuhan.

Aku juga mulai belajar bahwa damai sejahtera tidak selalu berarti tidak adanya masalah. Damai sejahtera juga bisa berarti memiliki Tuhan ketika masalah itu datang.

Aku masih berdoa supaya Abang sembuh. Aku masih berdoa supaya pekerjaannya tetap ada. Aku masih berharap Tuhan memberikan kesembuhan secepatnya.

Tetapi sekarang aku belajar bahwa imanku tidak boleh bergantung pada apakah Tuhan menjawab doaku sesuai dengan keinginanku atau tidak.

Aku mau belajar percaya bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika aku belum mengerti jalan-Nya.

Aku tidak tahu kapan Abang akan sembuh. Aku tidak tahu bagaimana keadaan pekerjaannya nanti. Tetapi aku tahu satu hal: aku tidak berjalan sendirian, dan Abang juga tidak berjalan sendirian.

Aku mau menyerahkan Abang ke dalam tangan Tuhan dan terus mendampinginya, bahkan dari jauh.

Aku masih takut. Aku masih berdoa. Aku belum tahu jawabannya.

Tetapi aku memilih percaya.


In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Hello, friends.

I hope this article finds you well.

Have you ever felt sad because it seemed like your prayers were not being heard?

I have felt that way too.

Every day, I pray that my mother, father, my beloved Abang, and my younger sibling will be protected from sickness and disease.

Praise God, my mother and my younger sibling are healthy. My father is also in a stable condition, although he has an enlarged heart and high creatinine levels.

However, a little while ago, my beloved Abang was diagnosed with Bell's palsy. He has been resting at home for about a week now. When I heard the news, I felt weak. I was worried. I was afraid. I was sad, and I wondered, why didn't God answer my prayer?

At first, I felt sad because I believe that God has promised to give us plans for peace and hope. Then I wondered, if Abang is sick like this, where is that peace?

I don't know when Abang will recover. I heard that Bell's palsy can take several weeks to recover from, and in some cases, it can take several months. I started thinking about many things. If Abang cannot work for two months, what if he loses his job?

I also felt powerless. I am currently unemployed and don't have much money, so I cannot do much to help with his medical and physiotherapy expenses. We are also in a long-distance relationship, living in Rangkasbitung and Cikarang. I cannot be there physically to accompany him. I was afraid that Abang would feel alone while facing his illness.

However, after Abang went to the doctor, I was grateful to learn that his condition was not too severe. The doctor advised him to avoid strenuous activities and get plenty of rest.

I was also grateful because God was still taking care of us. Abang had Bell's palsy—not a stroke, cancer, kidney failure, or another serious illness that I had feared. God also provided for his medical expenses.

Before this happened, I thought that if I prayed every day for my family to be protected from sickness, then they should not get sick.

But through Abang's illness, I am learning that God's protection does not always mean that we will never experience suffering.

I am beginning to understand that a good God does not necessarily mean that God will always give me what I ask for. Sometimes, God's goodness remains present even when His answer is not what I hoped for.

I am learning to place Abang in God's hands.

I am also learning that peace does not always mean the absence of problems. Sometimes, peace means having God with us when the problems come.

I am still praying for Abang to recover. I am still praying that he will keep his job. I am still hoping that God will heal him as soon as possible.

But now I am learning that my faith cannot depend on whether God answers my prayers according to what I want.

I want to learn to trust that God is still good, even when I do not understand His ways.

I don't know when Abang will recover. I don't know what will happen to his job. But I know one thing: I am not walking through this alone, and neither is Abang.

I want to place Abang in God's hands and continue to accompany him, even from afar.

I am still afraid. I am still praying. I still don't know the answer.

But I choose to trust.



Minggu, 16 Agustus 2026

Ketika Tuhan Menjawab Doaku dan Menjaga Orang yang Kukasihi (When God Answered My Prayer and Kept My Loved One Safe)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Dua minggu yang lalu, Abang Sayang mengabariku bahwa dia akan touring ke Bogor bersama klub motornya dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia pada tanggal 16–17 Agustus 2026.

Abang mengatakan bahwa mereka akan berangkat pada pukul 11 malam tanggal 16 Agustus 2026. Kemudian, pada tanggal 17 Agustus 2026, mereka akan mengikuti upacara di Bogor.

Aku tidak melarang Abang untuk pergi. Aku hanya berkata kepadanya, “Jangan ngebut-ngebut.”

Namun, Abang menjawab, “Ya, Abang lihat teman-teman Abang. Kalau mereka pada ngebut, ya Abang ngebut. Nanti kalau lama, Abang ketinggalan.”

Mendengar jawaban itu, aku langsung merasa takut.

Selama dua minggu berikutnya, aku merasa cemas. Aku takut Abang mengalami kecelakaan karena ngebut di perjalanan. Karena itu, aku membawa kekhawatiranku dalam doa kepada Tuhan.

Aku berdoa,

“ Tuhan, gagalkanlah rencana Abang ke Bogor. Kalau doa sederhana ini saja tidak dikabulkan, bagaimana aku dapat percaya bahwa doa-doa besarku akan Engkau kabulkan?”

Aku terus mendoakan hal tersebut selama dua minggu.

Kemudian, pada sore hari tanggal 16 Agustus, aku bertanya kepada Abang, “Bagaimana persiapannya menuju Bogor?”

Abang menjawab, “Abang nggak jadi berangkat. Abang kecapean.”

Aku langsung bersyukur dan bersukacita. Aku merasa Tuhan telah menjawab doaku. Aku bisa bernapas lega karena Abang tidak jadi berangkat touring ke Bogor.

Mungkin bagi orang lain, batalnya sebuah perjalanan karena kelelahan adalah hal yang biasa. Namun, bagiku, perkataan sederhana Abang, “Abang nggak jadi berangkat. Abang kecapean,” menjadi jawaban atas doa yang selama dua minggu kubawa kepada Tuhan.

Aku kembali diingatkan bahwa terkadang jawaban Tuhan datang melalui hal-hal yang sangat sederhana dan biasa.

Aku tidak tahu bagaimana Tuhan bekerja di balik semua kejadian ini. Namun, pada hari itu, aku hanya bisa mengucap syukur karena Tuhan memberikan ketenangan atas kekhawatiran yang selama dua minggu memenuhi hatiku.

Puji Tuhan. Tuhan mendengar doaku. ❤️



In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Two weeks ago, my boyfriend, whom I lovingly call “Abang Sayang,” told me that he was going on a motorcycle tour to Bogor with his motorcycle club to celebrate the 81st anniversary of the Independence of the Republic of Indonesia on August 16–17, 2026.

He told me that they would leave at 11 p.m. on August 16, 2026. Then, on August 17, they would attend a flag-raising ceremony in Bogor.

I did not forbid Abang from going. I only told him, “Please don’t speed.”

However, he replied, “I’ll see what my friends are doing. If they’re speeding, then I’ll speed too. Otherwise, I’ll be left behind.”

I immediately became afraid.

For the next two weeks, I felt anxious. I was afraid that Abang might get into an accident because of speeding on the way to Bogor. So I brought my worries to God in prayer.

I prayed,

“God, please prevent Abang from going to Bogor. If You cannot even answer this simple prayer, how can I trust You with the bigger prayers in my life?”

I continued praying about this for two weeks.

Then, on the afternoon of August 16, I asked Abang, “How are your preparations for going to Bogor?”

He replied, “I’m not going anymore. I’m too tired.”

I immediately felt grateful and joyful. I felt that God had answered my prayer. I could finally breathe a sigh of relief because Abang was not going on the motorcycle tour to Bogor.

Perhaps for other people, canceling a trip because of exhaustion might seem like an ordinary thing. But to me, Abang’s simple words, “I’m not going anymore. I’m too tired,” became an answer to the prayer I had been bringing to God for two weeks.

Once again, I was reminded that sometimes God’s answers come through very simple and ordinary things.

I do not know how God was working behind all of these circumstances. But that day, all I could do was give thanks because God brought peace to my heart after two weeks of worry.

Praise God. God heard my prayer. ❤️


Ketika Tuhan Menjawab Doaku, Bahkan Lewat Teri Medan (When God Answered My Prayer, Even Through Medan Anchovies)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Selama beberapa bulan terakhir ini, aku sangat ingin makan teri Medan dengan sambal buatan Mama. Namun, aku tidak pernah mengatakan keinginanku itu kepada Mama. Selain itu, aku juga tidak tahu harus membeli teri Medan yang enak di mana.

Suatu hari, aku melihat namboruku mengirimkan sebuah paket dari Medan. Aku penasaran dengan isinya. Ternyata, isinya adalah ikan teri Medan.

Aku bersyukur dan bahagia sekali karena namboruku mengirimiku teri Medan. Aku berterima kasih kepada Tuhan karena Tuhan mengabulkan keinginanku yang sederhana ini.

Aku pun langsung membantu Mama memasak ikan teri Medan tersebut dengan sambal. Rasanya mungkin sederhana, tetapi momen itu terasa begitu istimewa bagiku. Aku mendapatkan sesuatu yang selama berbulan-bulan kuinginkan, bahkan tanpa pernah meminta atau menceritakannya kepada Mama.

Dari kejadian sederhana ini, aku kembali diingatkan bahwa Tuhan mengetahui kerinduan-kerinduan kecil yang ada di dalam hati kita. Kadang-kadang, jawaban doa tidak datang dalam bentuk sesuatu yang besar atau spektakuler. Terkadang, Tuhan menjawabnya melalui sebuah paket yang tiba-tiba datang dari Medan, melalui orang yang bahkan tidak tahu bahwa kita sedang menginginkan sesuatu.

Hari itu aku hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, “Tuhan, ternyata Engkau tahu aku ingin makan teri Medan.”

Puji Tuhan untuk jawaban doa yang sederhana ini. ❤️

 

In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

For the past few months, I had been craving Medan anchovies with sambal made by my mother. However, I never told my mother about this craving. I also didn't know where to buy good-quality Medan anchovies.

One day, I saw my aunt sending me a package from Medan. I was curious about what was inside. It turned out to be Medan anchovies.

I was so grateful and happy that my aunt had sent me Medan anchovies. I thanked God because He had answered this simple desire of mine.

I immediately helped my mother cook the Medan anchovies with sambal.

It may seem like such a simple thing, but to me, it was a beautiful reminder that God knows even the little desires in our hearts.

Praise God for answering this simple prayer of mine. ❤️


Kamis, 13 Agustus 2026

Dari Kebencian kepada Pengampunan: Kesaksian tentang KDRT dan Kasih Karunia Tuhan (From Hatred to Forgiveness: A Testimony of Domestic Violence and God's Grace)



Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Aku tumbuh besar di lingkungan Batak yang sangat patriarkis. Meskipun Ibu juga bekerja, Ibu tetap mengurus urusan domestik dalam rumah tangga tanpa bantuan Bapak sama sekali.

Selain itu, Bapak memiliki temperamen yang buruk. Setiap kali marah, ia sering menggunakan kekerasan. Bapak memukul, menendang, dan menginjak Ibu, serta membanting barang-barang. Aku ingat suatu kali Bapak pernah mencekik Ibu hingga pingsan. Aku dan adikku menangis sambil memanggil Ibu. Puji Tuhan, Ibu selamat.

Ketika mereka bertengkar, aku sering menangis di bawah selimut karena ketakutan. Aku tumbuh menjadi seseorang yang membenci Bapak. Aku bahkan pernah berkata dalam hati bahwa aku akan membunuh Bapak.

Kebencian itu membuatku tidak pernah memandang Bapak sebagai pahlawanku. Aku tidak pernah curhat kepada Bapak, dan nasihatnya pun tidak pernah benar-benar kudengarkan.

KDRT yang terjadi di rumah sangat memengaruhiku ketika kecil. Aku tidak merasa aman berada di sekitar Bapak. Aku menjadi takut ketika mendengar suara orang yang keras atau sedang marah-marah.

Setelah aku kuliah, aku akhirnya bisa merasakan kebebasan dari KDRT di rumah. Namun, kemarahan dan luka akibat KDRT itu ternyata masih tersimpan jauh di dalam diriku. Aku pernah bermimpi bahwa Bapak menyiksa adikku. Aku terbangun dengan tubuh berkeringat sambil berteriak, "Anjing!"

Hingga akhirnya, aku menonton khotbah Rm. Eko Wahyu, OSC. Beliau mengajak kami untuk membayangkan bagaimana perasaan kita jika suatu hari bapak kita meninggal. Jika kita tidak menangis, mungkin ada sesuatu di dalam hati kita yang masih perlu diperbaiki.

Dan aku tidak menangis.

Lebih lanjut, Rm. Eko Wahyu, OSC mengajak kami untuk memeluk bapak kami ketika bertemu dengannya.

Saat itu, aku mulai mencoba untuk mengampuni Bapak.

Suatu hari, aku bermimpi Bapak menyiksaku, tetapi aku tidak bereaksi apa-apa. Aku kemudian bertanya kepada psikologku, "Apakah aku sudah mengampuni Bapak?"

Psikologku menjawab, "Itu mengampuni atau numb?"

Aku tidak tahu.

Namun, ada satu tekad dalam hatiku: aku ingin bertemu Bapak dan memeluknya.

Akhirnya, aku pulang ke rumah. Aku bertemu Bapak.

Aku masih ingat ketika akhirnya berhadapan dengan orang yang dahulu begitu kutakuti. Orang yang pernah membuatku bersembunyi di balik selimut sambil menangis.

Dan sekarang, aku justru berdiri di hadapannya dan memeluknya.

Saat itu, aku tidak merasakan kebencian seperti dahulu. Yang kurasakan justru damai.

Aku belajar bahwa mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kekerasan yang dilakukan Bapak adalah benar. KDRT tetaplah sesuatu yang salah. Mengampuni juga bukan berarti aku harus melupakan apa yang terjadi atau membiarkan kekerasan terjadi kembali.

Bagiku, pengampunan berarti melepaskan kebencian dan keinginan untuk membalas, lalu menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.

Aku tidak tahu apakah luka itu akan pernah benar-benar hilang seluruhnya. Tetapi aku tahu bahwa Tuhan membawaku pada sebuah titik di mana aku tidak lagi ingin hidup dikuasai oleh kebencian kepada Bapak.

Aku yang dahulu bahkan pernah berharap Bapak mati, kini justru bisa memeluknya.

Bagiku, itulah salah satu bentuk kasih karunia Tuhan.

Bagi teman-teman yang pernah mengalami kekerasan dalam keluarga, aku ingin mengatakan:

Pengalaman itu bukan salahmu.

Mengampuni tidak berarti membenarkan kekerasan. Mencari pertolongan juga bukan berarti kurang beriman.

Tuhan dapat memulihkan hati yang terluka, meskipun prosesnya tidak selalu singkat.
 

Notes:

Puji Tuhan, kini bapak sudah bertobat dan tidak kasar lagi. Dan Ibu tetap mempertahankan rumah tangganya




In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

I grew up in a very patriarchal Batak environment. Although my mother also worked, she was still responsible for all the household chores without any help from my father.

My father also had a very bad temper. Whenever he became angry, he often resorted to violence. He would hit, kick, and stomp on my mother, and he would throw and smash things around the house. I remember one time when my father choked my mother until she lost consciousness. My younger sibling and I cried out for our mother. Praise God, she survived.

Whenever my parents fought, I would often hide under my blanket and cry because I was terrified. I grew up hating my father. I even once told myself that I would kill him.

Because of that hatred, I never saw my father as my hero. I never opened up to him, and I never really listened to his advice.

The domestic violence I witnessed had a profound impact on me as a child. I did not feel safe around my father. I became afraid whenever I heard someone speaking loudly or angrily.

After I went to college, I finally experienced freedom from the domestic violence at home. However, the anger and wounds caused by the violence remained buried deep within me.

One night, I dreamed that my father was hurting my younger sibling. I woke up sweating and screaming, "You bastard!"

Eventually, I watched a sermon by Fr. Eko Wahyu, OSC. He encouraged us to imagine how we would feel if our father died someday. If we would not cry, perhaps there was something in our hearts that still needed to be healed.

And I did not cry.

Fr. Eko Wahyu, OSC also encouraged us to embrace our fathers when we met them.

At that moment, I began trying to forgive my father.

One day, I dreamed that my father was hurting me, but I did not react at all. I then asked my psychologist, "Have I forgiven my father?"

My psychologist replied, "Is that forgiveness, or are you numb?"

I didn't know.

But I had one determination in my heart: I wanted to meet my father and embrace him.

Eventually, I went home. I met my father.

I still remember standing face to face with the man I had once been so afraid of. The man who had once made me hide under my blanket and cry.

And now, I was standing in front of him and embracing him.

At that moment, I no longer felt the hatred I had felt before. Instead, I felt peace.

I learned that forgiveness does not mean saying that the violence my father committed was right. Domestic violence is still wrong. Forgiveness also does not mean that I have to forget what happened or allow the violence to happen again.

For me, forgiveness means letting go of hatred and the desire for revenge, and entrusting judgment to God.

I do not know whether the wounds will ever completely disappear. But I know that God brought me to a place where I no longer wanted my life to be controlled by hatred toward my father.

I once even wished that my father would die. Now, I am able to embrace him.

To me, that is one of the ways God's grace has worked in my life.

To anyone who has experienced violence within their family, I want to say this:

What happened to you was not your fault.

Forgiving does not mean justifying violence. Seeking help does not mean that you lack faith.

God can heal a wounded heart, even though the process may not always be quick.


Notes:

Praise God, my father has now repented and is no longer abusive. My mother has also chosen to stay in the marriage.

Rabu, 12 Agustus 2026

Belajar Tidak Bersandar pada Pengertian Sendiri ( Learning Not to Lean on My Own Understanding)



Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Adakah teman-teman yang pernah merasa ceroboh dalam mengambil keputusan? Kalau iya, kamu tidak sendiri. Aku pun pernah mengalaminya.

Awalnya, aku bekerja sebagai Tenaga Ahli Hukum dengan penghasilan sebesar Rp92.000.000 untuk proyek yang kukerjakan selama delapan bulan. Aku sangat bersyukur atas pekerjaanku. Melalui pekerjaan ini, aku bahkan mendapat kesempatan melakukan perjalanan dinas ke Sulawesi dan Kalimantan.

Biasanya, kontrak kami dapat langsung diperpanjang setiap tahun. Namun, untuk kontrak tahun 2026, aku harus mengikuti proses lamaran kembali dan ada kemungkinan aku tidak diterima.

Dalam menghadapi ketidakpastian itu, aku mulai bersandar pada pengertianku sendiri. Aku mulai memikirkan pekerjaan cadangan sebagai lawyer di kantor hukum milik temanku.

Awalnya, aku ingin menunggu terlebih dahulu proses pelamaran di tempat kerjaku. Namun, karena temanku terus menanyakan kepastian apakah aku akan bekerja di kantornya, akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku.

Ternyata, bekerja sebagai lawyer bukanlah hal yang mudah bagiku saat itu. Aku harus melakukan pekerjaan yang bukan kebiasaanku, mencari klien, dan menghadapi tuntutan public speaking, sementara aku sedang berada dalam kondisi yang tidak baik. Aku kesulitan berkonsentrasi, banyak hal yang dulu kukuasai terasa sulit kuingat, dan aku merasa sangat tidak percaya diri. Akibatnya, aku kesulitan menjalankan pekerjaanku sebagai lawyer.

Aku hanya bertahan selama dua minggu di kantor temanku. Karena merasa tidak mampu menjalankan pekerjaan tersebut, aku akhirnya mengundurkan diri lagi dan memilih untuk menganggur.

Kemudian datang sebuah hal yang semakin membuatku menyesal. Ternyata, semua rekan kerjaku yang sebelumnya juga bekerja sebagai Tenaga Ahli mendapatkan perpanjangan kontrak.

Saat itu aku berpikir, “Seandainya aku tidak resign, mungkin aku masih memiliki pekerjaan.”

Aku merasa sangat ceroboh.

Namun, setelah melalui proses pergumulan, aku mulai melihat kejadian ini dengan cara yang berbeda.

Aku menyadari bahwa dalam mengambil keputusan tersebut, aku lebih banyak bersandar pada perhitunganku sendiri daripada membawa ketakutanku kepada Tuhan. Aku tidak tahu apakah kehilangan pekerjaan itu merupakan akibat langsung dari ketidakpercayaanku kepada Tuhan. Aku juga tidak ingin mengklaim bahwa aku mengetahui alasan Tuhan mengizinkan semua ini terjadi.

Tetapi melalui peristiwa ini, Tuhan menyadarkanku tentang kecenderunganku untuk mengandalkan pengertianku sendiri.

Firman Tuhan berkata:
 

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” — Amsal 3:5-6 (TB)

Awalnya, aku sangat menyesal karena telah mengundurkan diri dari pekerjaanku yang lama. Namun, perlahan-lahan Tuhan menuntunku untuk berdamai dengan keadaan.

Kini aku belajar melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan yang kuambil. Bukan supaya hidupku tidak pernah mengalami kesalahan atau penyesalan lagi, tetapi supaya dalam setiap keputusan, aku belajar mempercayai Tuhan dan tidak hanya mengandalkan pengertianku sendiri.

Sampai kesaksian ini kubagikan, aku masih menunggu Tuhan membuka jalan untuk pekerjaanku. Aku belum tahu bagaimana Tuhan akan membawa masa depanku. Tetapi kali ini, aku ingin belajar untuk tidak mendahului Tuhan karena ketakutanku.

Aku mau membawa keputusan-keputusanku kepada-Nya, melakukan bagianku dengan sungguh-sungguh, dan belajar percaya bahwa pengertianku tidak lebih luas daripada pengertian Tuhan.

Aku tidak tahu seperti apa akhir dari masa penantianku ini. Tetapi aku percaya, Tuhan tetap bekerja bahkan ketika aku belum dapat melihat jalan-Nya.

Kiranya kesaksianku dapat menguatkan teman-teman yang juga pernah merasa salah mengambil keputusan, menyesal, atau sedang berada dalam masa penantian. Kita mungkin tidak selalu memahami jalan yang sedang Tuhan izinkan kita lalui, tetapi kita dapat belajar untuk tetap mempercayai-Nya.

Tuhan memberkati.




Greetings in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt careless because of a decision you made? If you have, you are not alone. I have experienced that too.

I used to work as a Legal Expert, earning IDR 92,000,000 for an eight-month project. I was very grateful for my job. Through that work, I even had the opportunity to travel to Sulawesi and Kalimantan for business trips.

Usually, our contracts could be extended directly each year. However, for the 2026 contract, I had to apply again, and there was a possibility that my application would not be accepted.

Faced with that uncertainty, I began leaning on my own understanding. I started thinking about a backup plan: working as a lawyer at my friend's law firm.

At first, I wanted to wait for the application process at my previous workplace. However, my friend kept asking me whether I was certain that I would work at his firm. Eventually, I decided to resign from my job.

But working as a lawyer turned out to be difficult for me at that time. I had to do things that were outside my usual routine, find clients, and deal with the demands of public speaking, while I was already struggling personally. I had difficulty concentrating, many things I used to know well became difficult to remember, and I felt extremely insecure. As a result, I struggled to perform my duties as a lawyer.

I only lasted two weeks at my friend's law firm. Because I felt unable to do the job properly, I resigned again and chose to remain unemployed.

Then came something that made me regret my decision even more.

It turned out that all of my former colleagues who had also worked as Legal Experts had their contracts extended.

I thought, “If only I had not resigned, perhaps I would still have a job.”

I felt so careless.

But after going through a period of struggle, I began to see the situation differently.

I realized that when I made that decision, I was relying more on my own calculations than bringing my fears before God. I do not know whether losing my job was a direct consequence of my lack of trust in God. I also do not want to claim that I know why God allowed these things to happen.

But through this experience, God showed me my tendency to rely on my own understanding.

The Word of God says:
 

“Trust in the LORD with all your heart and lean not on your own understanding; in all your ways acknowledge Him, and He will make your paths straight.” — Proverbs 3:5-6

At first, I deeply regretted resigning from my previous job. But little by little, God led me toward making peace with what had happened.

Now I am learning to involve God in every decision I make. Not so that I will never make mistakes or experience regret again, but so that in every decision, I can learn to trust God rather than relying only on my own understanding.

As I share this testimony, I am still waiting for God to open a door for my career. I do not yet know how God will lead me into my future. But this time, I want to learn not to run ahead of God because of my fear.

I want to bring my decisions before Him, do my part faithfully, and learn to trust that my understanding is not greater than His.

I do not know how this season of waiting will end. But I believe that God is still working, even when I cannot yet see the way forward.

I hope my testimony can encourage those who have also made decisions they regret, those who feel they have made a mistake, or those who are currently waiting for a new chapter in their lives. We may not always understand the path God allows us to walk, but we can learn to keep trusting Him.

God bless you.

Senin, 05 Januari 2026

Tuhan Menyembuhkan, Bahkan Saat Aku Merasa Jauh (God’s Healing, Even When I Feel Far From Him)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Kadang pemulihan tidak datang lewat mukjizat besar, tapi lewat satu kalimat sederhana dari orang lain:
“Kamu sekarang sudah kelihatan ceria.”

Beberapa bulan lalu, teman-teman kantorku berkata bahwa wajahku murung, kosong, seperti orang linglung. Pada saat itu, aku masih mengonsumsi antidepresan dan antipsikotik atas penyakit skizoafektif tipe depresi dd/ depresi berat dengan ciri psikotik. Yang kurasakan saat itu hanyalah sedih dan bingung. Aku tidak mengerti mengapa ekspresiku dinilai demikian, karena dalam keseharianku aku merasa tidak selelah itu. Aku tidak sadar bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

Dua hari yang lalu, temanku mengatakan bahwa ekspresiku sudah jauh lebih baik—tidak murung dan tidak linglung lagi. Hari ini, salah satu OB di kantorku juga bilang kalau aku sudah terlihat ceria. Puji Tuhan. Aku percaya Tuhan menyembuhkanku. Mungkin juga ini berkaitan dengan proses setelah aku putus obat. Mungkin obat memengaruhi ekspresiku saat itu. Hal ini terlihat sepele, tetapi bagiku menjadi salah satu tanda awal pemulihan.

Dalam proses ini, Abang Sayang dan keluargaku menjadi orang-orang yang Tuhan kirimkan sebagai support system. Perubahan ini terasa datang tiba-tiba, karena teman-teman kantor dan OB baru menyadarinya di waktu-waktu terakhir ini.

Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku sudah kembali pulih—lebih ceria dan tidak murung lagi. Tuhan tetap ada dan hadir menyembuhkanku, bahkan di masa ketika aku merasa jauh dari-Nya.

Jika kamu yang membaca tulisan ini sedang berada di fase murung, kosong, atau bahkan tidak sadar bahwa dirimu sedang lelah, aku ingin bilang: pemulihan itu nyata dan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Jangan menyerah. Tuhan tetap bekerja, bahkan saat kita merasa tidak merasakan apa-apa.

🤍


Greetings in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Sometimes healing does not come through great miracles, but through a simple sentence spoken by someone else:
“You look cheerful again.”

A few months ago, my coworkers told me that my face looked gloomy, empty, and dazed. At that time, I was still taking antidepressants and antipsychotics for schizoaffective disorder, depressive type / major depressive disorder with psychotic features. What I felt back then was sadness and confusion. I did not understand why my expression was seen that way, because in my daily life I did not feel that exhausted. I did not realize that I was not doing well.

Two days ago, a coworker told me that my expression had improved significantly—not gloomy and not dazed anymore. Today, one of the office cleaning staff also told me that I looked cheerful. Praise be to God. I believe God has healed me. Perhaps this is also related to the process after I stopped taking medication. Perhaps the medication affected my expression at that time. It may seem trivial, but for me, it became one of the early signs of recovery.

In this process, my beloved partner and my family became the people God sent to be my support system. This change felt sudden, because my coworkers and the office staff only noticed it recently.

I am grateful to God that I have returned to a place of recovery—more cheerful and no longer gloomy. God remained present and faithful in healing me, even in times when I felt far from Him.

If you who are reading this are in a phase of gloom, emptiness, or perhaps not even aware that you are exhausted, I want to say this: recovery is real and it can begin with small things. Do not give up. God is still at work, even when we feel nothing at all.

🤍


Kamis, 11 Desember 2025

Belajar Setia di Tengah Takut (Learning to Stay Faithful in the Midst of Fear)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Setelah kupikirkan dan kurenungkan dengan sungguh-sungguh, aku akhirnya menyadari bahwa aku tidak bisa bersama Orang Baru. Ada ketidaknyamanan yang halus tetapi terus-menerus mengetuk hatiku. Tidak ada damai di dalamnya, dan aku merasa bersalah terhadap Abang Sayang. Karena itu, aku memilih untuk tetap setia.

Namun, setelah memilih jalan ini, rasa khawatirku justru semakin terasa. Sampai hari ini aku masih bergumul dengan ketakutan tentang kecukupan finansial. Aku hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran: takut tidak cukup, takut kehilangan, bahkan takut Abang pergi terlebih dahulu mengingat perbedaan usia kami yang cukup jauh.

Dalam pergumulan itu, ayat dari 1 Yohanes 4:18 kembali terngiang:
“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”

Aku merenungkan kembali apa itu kasih yang sempurna. Dalam doaku, aku teringat bahwa kasih yang sempurna itu bukan berasal dari diriku—melainkan dari Allah sendiri. Kasih yang sempurna adalah kasih yang memperkenankan kita menyapa Dia sebagai Bapa. Kasih yang sempurna adalah ketika Kristus mati untuk menebus dosa manusia. Perenungan ini datang saat aku mendengarkan lagu Bapa Yang Kekal, yang mengingatkanku bahwa kasih-Nya tidak berubah sekalipun hatiku goyah.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri:
“Apakah aku sudah menerima kasih yang sempurna itu?”

Aku percaya, ketika aku berani berseru memanggil Allah sebagai Bapa, di situlah kasih-Nya sudah lebih dulu bekerja. Penebusan itu nyata. Penerimaan itu penuh. Namun, jujur kuakui: saat ini aku seperti mati rasa. Aku tahu kebenarannya, tetapi jiwaku masih berjuang mengecapnya.

Meski begitu, aku percaya kasih Tuhan tidak pernah ditentukan oleh apa yang kurasakan hari ini. Ia tetap bekerja dalam diam. Dan mungkin, justru dalam masa mati rasa inilah, Tuhan sedang membentukku—perlahan, lembut, dan pasti.

Pada akhirnya, aku ingin belajar berjalan perlahan bersama Tuhan. Menerima rasa takutku apa adanya, sambil percaya bahwa kasih-Nya jauh lebih besar daripada seluruh ketidakpastianku. Aku tidak tahu masa depan, tetapi aku tahu siapa yang menggandengku di dalamnya. Dan untuk hari ini, itu sudah cukup.

Amin.



In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

After much thought and sincere reflection, I finally realized that I could not be with the New Person. There was a subtle, persistent uneasiness in my heart. There was no peace in it, and I felt guilty toward Abang Sayang. Because of that, I chose to remain faithful.

However, after making that decision, my worries only grew stronger. Until today, I am still struggling with fears about financial security. I live in the shadow of anxiety: afraid of not having enough, afraid of losing him, even afraid that Abang might leave this world before me because of our 14-year age difference.

In the midst of these struggles, the verse from 1 John 4:18 echoes in my mind:
“There is no fear in love; but perfect love casts out fear, for fear has to do with punishment, and whoever fears has not been perfected in love.”

I began to reflect again on what perfect love truly is. In my prayers, I remembered that perfect love does not come from within me—it comes from God Himself. Perfect love is what allows us to call Him Father. Perfect love is Christ who died to redeem the sins of humanity. This reflection came while I was listening to the song Bapa Yang Kekal, which reminded me that His love does not change, even when my heart wavers.

Then I asked myself:
“Have I truly received that perfect love?”

I believe that when I dare to cry out and call God “Father,” His love is already at work within me. Redemption is real. His acceptance is full. Yet I must honestly admit: right now, I feel numb. I know the truth, but my soul is still struggling to feel it.

Even so, I trust that God’s love is never determined by what I feel today. His love continues to work in the quiet. And perhaps, in this season of numbness, God is shaping me—slowly, gently, and surely.

In the end, I want to learn to walk slowly with God. To accept my fears as they are, while trusting that His love is far greater than all my uncertainties. I do not know what the future holds, but I know who is holding my hand in it. And for today, that is enough.

Amen.


Selasa, 04 November 2025

Dilema Antara Cinta dan Masa Depan (Dilemma Between Love and the Future)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Apakah teman-teman pernah merasa dilema?
Bukan karena tidak tahu mana yang baik, tapi karena dua-duanya terasa benar — hanya saja, dalam arah yang berbeda.

Saat ini, aku sedang berada di persimpangan seperti itu.
Aku punya pacar — sebut saja namanya Abang Sayang.
Ia bertanggung jawab, pekerja keras, baik, dan selalu berusaha melindungi keluarganya. Ia bekerja di distributor obat. Kedua orangtuanya sudah tiada. Beberapa hari lalu, ia bercerita: ada apotek yang order melalui dia senilai 24 juta, tapi ternyata gagal bayar. Akibatnya, gajinya dipotong untuk menanggung kerugian perusahaan.
Motornya terpaksa digadaikan 3 juta demi kebutuhan sehari-hari.
Ia tidak punya tabungan, dan baru bisa menabung awal tahun depan.

Lalu, di sisi lain, datang seseorang yang baru.
Sebut saja dia Orang Baru — lulusan Manajemen Logistik Trisakti, bekerja sebagai admin, tinggal dengan orangtua, dan sudah memiliki tabungan. Hidupnya stabil, tenang, dan masa depannya tampak lebih pasti.

Secara logika, tentu pilihan itu mudah. Tapi hati manusia tidak sesederhana hitungan tabungan atau slip gaji. Aku menyayangi Abang Sayang. Aku tidak ingin meninggalkannya saat dia sedang jatuh. Namun, aku juga takut bila aku bertahan hanya karena kasihan, bukan cinta.

Kini, aku bergulat dengan dua pertanyaan:

  1. Jika Abang Sayang bangkit secara finansial, apakah aku masih ingin bersamanya karena pribadinya, bukan karena rasa kasihan?

  2. Jika aku bersama Orang Baru yang lebih stabil, apakah hatiku akan benar-benar damai, atau justru masih menoleh ke masa lalu dengan rasa bersalah?

Kadang aku merasa, dilema seperti ini bukan sekadar soal cinta, tapi juga tentang siapa diriku dan apa yang sebenarnya aku cari dalam hidup ini — keamanan, cinta, atau keduanya?


Refleksi untukmu yang membaca ini:
Pernahkah kamu berada di titik di mana cinta dan logika saling tarik menarik?
Apakah kamu lebih memilih hati yang tenang, atau masa depan yang pasti?
Bagikan ceritamu atau refleksimu di kolom komentar — mungkin kita bisa saling menguatkan di tengah dilema yang tak selalu punya jawaban mudah.



In the Name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt torn in a dilemma?
Not because you don’t know which one is right, but because both choices feel right — just in different directions.

Right now, I’m standing at such a crossroads.
I have a boyfriend — let’s call him My Dear One.
He’s responsible, hardworking, kind, and always tries to protect his family. He works at a pharmaceutical distributor. Both of his parents have passed away. A few days ago, he told me that one of the pharmacies ordered through him for 24 million rupiahs, but the payment fell through. As a result, his salary is being deducted to cover the company’s loss.
He had to pawn his motorcycle for 3 million just to meet daily needs.
He has no savings and can only start saving again early next year.

Then, on the other side, someone new appeared.
Let’s call him The New One — a graduate in Logistics Management from Trisakti University, working as an admin, living with his parents, and already having some savings. His life seems stable, calm, and his future looks more certain.

Logically, the choice should be easy. But the human heart isn’t as simple as numbers on a payslip or the amount in a savings account. I care about My Dear One. I don’t want to leave him when he’s down. Yet, I’m also afraid that I might be staying only out of pity, not love.

Now, I wrestle with two questions:

If My Dear One rises again financially, would I still want to be with him because of who he is, not because I feel sorry for him?

If I choose The New One who’s more stable, would my heart truly be at peace — or would I still glance back at the past with guilt?

Sometimes I feel that this dilemma isn’t just about love,
but also about who I am, and what I truly seek in life —
security, love, or both?

A reflection for you who are reading this:
Have you ever stood at the point where love and logic pull you in opposite directions?
Would you rather choose a peaceful heart, or a certain future?
Share your story or reflection in the comments — perhaps we can strengthen one another amidst dilemmas that don’t always have easy answers.


Minggu, 26 Oktober 2025

Ketika Kekosongan Itu Sirna (When the Emptiness Faded Away)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Teman-teman, pernahkah kalian merasa kosong?
Bukan sekadar lelah, tapi benar-benar hampa — seolah hidup berjalan tanpa warna dan dada terasa berat setiap kali mencoba bernapas. Aku pun pernah ada di titik itu. Di masa itu, aku meragukan penyertaan dan kehadiran Tuhan dalam hidupku. Rasanya sepi sekali.

Namun hari ini, aku ingin bersaksi: rasa kosong itu telah sirna.
Sekarang, aku merasa hidup. Dalam doa, aku mulai rutin mengucap syukur — untuk keluargaku yang masih sehat, untuk Abang Sayang yang masih ada, untuk pekerjaanku, dan untuk kesehatanku sendiri. Saat aku belajar bersyukur, aku sadar bahwa Tuhan tidak pernah pergi. Ia tetap hadir dan menyertaiku.

Relasiku dengan Tuhan mungkin belum pulih sepenuhnya. Aku masih jarang membaca renungan untuk mendengar suara-Nya. Mungkin karena luka setahun lalu — ketika ekspektasiku tentang perkawinan dengan Tuan tidak sesuai kenyataan. Dulu, aku begitu rajin membaca firman, tapi setelah kegagalan kesaksian di tahun 2023, semangat itu perlahan luntur.

Namun kini, aku memahami satu pelajaran rohani yang berharga:

Bahkan ketika kita tak menyadari kehadiran Tuhan, saat kita belajar mensyukuri berkat-Nya, di sanalah kita akan menemukan Dia.

Jika aku bisa berbicara pada diriku yang dulu, aku akan berkata:
“Tenang saja. Tuhan hadir dan menyertai langkah kakimu.”

Dan mungkin, untukmu yang membaca ini dan sedang merasa kosong —
berhentilah sejenak. Lihatlah sekelilingmu.
Ada napas, ada kasih, ada berkat kecil yang diam-diam sedang membisikkan:

“Aku di sini, anak-Ku.” 🌿



In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Friends, have you ever felt empty?
Not just tired — but truly hollow, as if life has lost its color and every breath feels heavy. I once found myself in that place. During that time, I doubted God’s presence and guidance in my life. It was a very lonely season.

But today, I want to testify that the emptiness has vanished.
Now, I feel alive again. In my prayers, I’ve begun to give thanks — for my family who are still healthy, for my beloved one who is still here, for my work, and for my own health. As I learned to give thanks, I realized that God had never left. He was always here, walking beside me.

My relationship with God is not yet perfect. I still rarely read devotionals or listen to His voice through Scripture. Perhaps it’s the lingering wound from a year ago — when my expectations about marriage with someone dear didn’t match reality. I used to love reading God’s Word, but after that disappointment in 2023, my devotion slowly faded.

Yet now, I understand a precious spiritual truth:

Even when we fail to sense God’s presence, when we begin to recognize His abundant blessings, we will find Him there.

If I could speak to the version of myself who once felt empty, I would say:
“Be still. God is here, and He is guiding your every step.”

And perhaps, to you who are reading this and still feel empty —
pause for a moment. Look around you.
There is breath, there is love, there are small blessings quietly whispering:

“I am here, My child.” 🌿


Minggu, 19 Oktober 2025

🌿 Ketika Aku Tidak Bisa Tertawa Selama Satu Tahun (🌿 When I Couldn’t Laugh for a Year)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu membayangkan hidup tanpa tawa?
Aku dulu tidak pernah terpikir bahwa kehilangan kemampuan untuk tertawa bisa menjadi bentuk penderitaan yang begitu sunyi. Namun, itulah yang kualami. Selama hampir satu tahun, aku tidak bisa tertawa.

Hal pertama yang membuatku sadar adalah ketika aku menonton video lucu — hal yang biasanya mudah memancing tawa. Kali itu, aku hanya menatap layar datar. Tidak ada reaksi. Tidak ada geli. Tidak ada tawa. Hanya hening yang terasa berat.

Awalnya aku menganggap itu hal sepele. Tapi lama-kelamaan aku sadar, ada sesuatu yang hilang dari hidupku. Aku mulai merindukan suara tawaku sendiri — yang dulu lepas, hangat, dan penuh hidup. Rasanya aneh sekali menyadari bahwa ketawa, sesuatu yang tampak sederhana, ternyata adalah karunia yang patut disyukuri.

Rasa tawaku hilang setelah aku dighosting oleh seseorang yang sangat berarti bagiku — Tuan. Sejak itu, seolah seluruh cahaya dari dalam diriku meredup. Aku masih mencoba berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain, tapi di dalam, aku merasa kosong. Tak ada seorang pun yang benar-benar menyadari bahwa aku bahkan sudah lupa rasanya tertawa.

Di masa itu, aku sering berdoa. Hampir setiap hari aku memohon kepada Roh Kudus,

“Tolong aku… mampukan aku untuk tertawa lagi.”

Awalnya doaku hanya berpantul di dinding kamar — sepi. Tapi perlahan, Ia menjawab. Bukan lewat mujizat besar, melainkan lewat hal-hal kecil: video lucu yang tiba-tiba terasa sedikit menggelitik, percakapan ringan yang membuatku tersenyum tipis, momen kecil yang membuat dadaku sedikit hangat.

Tawa itu memang tidak datang seketika. Tapi sedikit demi sedikit, aku mulai bisa tertawa lagi. Tidak sekeras dulu, tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa Tuhan masih bekerja dalam hidupku. Bahwa Roh Kudus benar-benar hadir — bahkan di dalam proses sekecil mengembalikan tawa yang hilang.

Pernah aku kecewa kepada Tuhan. Aku sempat marah karena merasa ditinggalkan. Tapi kini aku tahu, bahkan dalam diam-Nya, Ia sedang memulihkan sesuatu yang rusak dalam diriku.

Kalau aku bisa berbicara kepada diriku yang dulu — yang kehilangan tawa — aku akan berkata:

“Bertahan, ya. Sabar, sebentar lagi kau pasti akan ketawa. Mintalah bantuan Roh Kudus. Ia tidak akan menolak permintaan sekecil itu.”

Dan benar, Ia tidak pernah menolak.


Refleksi untukmu yang membaca ini:
Mungkin kamu juga sedang berada di masa di mana sukacita terasa jauh, di mana tawa tak lagi mudah muncul.
Jika iya, izinkan Roh Kudus menyentuh hatimu perlahan.
Mintalah Ia memulihkan apa pun yang hilang — bahkan hal sekecil tawa — sebab bagi Tuhan, tidak ada yang terlalu sepele untuk dipulihkan.

Karena di hadirat-Nya ada sukacita berlimpah-limpah.
(Mazmur 16:11)




In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Have you ever imagined living without laughter?
I never thought that losing the ability to laugh could become such a quiet kind of suffering.
But that’s what happened to me. For almost a year, I couldn’t laugh.

The first thing that made me realize it was when I watched a funny video — something that would usually make me laugh easily. But that time, I just stared at the screen blankly. No reaction. No amusement. No laughter. Only a heavy silence.

At first, I thought it was nothing. But over time, I realized something had gone missing from my life.
I started to miss the sound of my own laughter — the one that used to be free, warm, and full of life.
It felt strange to realize that laughter, something so simple, is actually a gift to be thankful for.

My laughter disappeared after I was ghosted by someone who once meant a lot to me — Tuan.
Since then, it felt as if all the light inside me dimmed.
I tried to act fine around others, but deep down, I felt empty.
No one really noticed that I had forgotten what it felt like to laugh.

During that time, I often prayed. Almost every day I asked the Holy Spirit,

“Please… help me laugh again.”

At first, my prayers only echoed against the walls of my room — silent.
But slowly, He answered.
Not through grand miracles, but through small things: a funny video that suddenly felt a little amusing, a light conversation that made me smile faintly, tiny moments that warmed my heart.

The laughter didn’t return all at once. But little by little, I began to laugh again.
Not as loudly as before, but enough to let me know that God was still working in my life.
That the Holy Spirit was truly present — even in something as small as restoring a lost laugh.

There was a time when I felt disappointed in God.
I was angry, thinking He had left me.
But now I know — even in His silence, He was healing something broken within me.

If I could speak to my past self — the one who had forgotten how to laugh — I would say:

“Hold on. Be patient. You’ll laugh again soon. Ask the Holy Spirit for help. He never rejects even the smallest prayer.”

And truly, He never does.


A reflection for you who are reading this:
Maybe you’re also in a season where joy feels distant, where laughter doesn’t come easily.
If so, let the Holy Spirit touch your heart gently.
Ask Him to restore whatever has been lost — even something as small as laughter — for to God, nothing is too small to be healed.

For in His presence there is fullness of joy.
(Psalm 16:11)


Minggu, 12 Oktober 2025

Ketika Aku Mengira Tuhan Menipuku (When I Thought God Deceived Me)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu merasa kecewa begitu dalam kepada Tuhan —
sampai rasanya imanmu yang dulu teguh kini seperti retak tanpa suara?

Jika iya, mungkin kisah ini bisa menemanimu sejenak.


Awalnya, aku sudah menyerah terhadap urusan cinta dan pernikahan. Terlalu sering patah hati membuatku lelah berharap.
Namun, suatu hari aku mendengar khotbah dari pendeta yang berkata:

“Kalau suatu saat kamu bertemu seseorang dan ada dugdugdugnya, itulah jodohmu.”

Aku sempat tertawa kecil dalam hati. Masa iya jodoh bisa sesederhana itu?
Tapi tetap, aku merespons. Entah bagaimana, kata-kata itu melekat di benak dan diingat oleh hatiku.

Beberapa waktu kemudian, aku bertemu Tuan.
Dan benar saja — ada dugdugdugnya.
Aku teringat khotbah itu dan mulai menafsirkan sukacita yang kurasakan sebagai tanda dari Tuhan.
Rasanya indah, hangat, dan penuh harapan.

Tapi keindahan itu cepat memudar.
Hubungan kami dipenuhi ujian —
hatiku masih menoleh ke masa lalu, pada seseorang yang dulu hanya “FWB” tapi menyisakan bayangan.
Sementara di sisi lain, aku juga berbuat salah dalam relasi ini.
Aku memancing amarah Tuan, dan akhirnya, dia menghilang.

Di titik itu, dunia seakan menatapku sambil berkata,

“Katanya jodoh dari Tuhan. Tapi mana buktinya?”

Aku terdiam.
Semua keyakinan yang dulu kubangun atas nama “firman Tuhan” runtuh begitu saja.
Aku merasa Tuhan mempermainkanku. Aku merasa ditipu oleh-Nya.
Dan untuk waktu yang lama, aku tak tahu harus menaruh imanku di mana.

Namun perlahan aku sadar:
mungkin Tuhan tidak menipu.
Mungkin akulah yang terlalu cepat menafsir, terlalu cepat memberi makna pada sesuatu yang belum tentu dimaksudkan begitu.
Mungkin Ia sedang mengajariku membedakan antara perasaan yang indah dan panggilan yang benar.

Aku juga lupa akan kesalahanku kepada Tuan.

Sekarang, aku masih percaya kepada-Nya —
bukan karena aku mengerti segalanya, tapi karena aku memilih untuk percaya melampaui perasaanku,
melampaui pandanganku yang dulu memandang-Nya sebagai penipu.

Dan kalau kamu juga pernah kecewa pada Tuhan,
izinkan aku berkata dengan lembut:

Kadang, kegagalan bukan karena Tuhan menipu,
tapi karena kita sendiri yang lupa akan dosa sendiri.


Refleksi kecil untukmu
Pernahkah kamu salah menafsir tanda dari Tuhan?
Bagaimana pengalaman itu membentuk caramu percaya sekarang?

Tuliskan kisahmu. Kadang, di balik luka yang kita ceritakan,
ada Tuhan yang sedang memulihkan cara kita mencintai — dan percaya.




In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt so deeply disappointed in God —
to the point where your once-steadfast faith now feels quietly fractured?

If so, perhaps this story might keep you company for a while.

At first, I had already given up on love and marriage.
Too many heartbreaks had left me tired of hoping.
Then one day, I heard a sermon from a pastor who said:

“When you meet someone and your heart goes dug-dug-dug, that’s your soulmate.”

I chuckled quietly to myself. Could it really be that simple?
Still, I responded somehow. Those words stuck with me — remembered not just by my mind, but by my heart.

Some time later, I met the Man.
And indeed — there was that dug-dug-dug.
I recalled the sermon and began to interpret the joy I felt as a sign from God.
It was beautiful, warm, and full of hope.

But that beauty faded quickly.
Our relationship was full of trials —
my heart kept turning back to someone from the past, someone who used to be just an “FWB,” yet left a lingering shadow.
And on my side, I also made mistakes.
I provoked his anger, and eventually, he disappeared.

At that moment, the world seemed to look at me and whisper,

“You said he was God’s choice for you. Where’s the proof?”

I fell silent.
All the certainty I had built in the name of “God’s word” crumbled.
I felt as though God was toying with me — deceiving me.
And for a long time, I didn’t know where to place my faith anymore.

But slowly, I began to realize:
perhaps God didn’t deceive me.
Perhaps I was the one who interpreted too quickly — giving meaning to something that was never meant that way.
Maybe He was teaching me to distinguish between what feels beautiful and what is truly a calling.

I also forgot to see my own fault in how I treated him.

Now, I still believe in God —
not because I understand everything,
but because I choose to believe beyond my feelings,
beyond my own view that once saw Him as a deceiver.

And if you, too, have ever felt disappointed in God,
allow me to gently say:

Sometimes, failure doesn’t happen because God deceived us,
but because we ourselves have forgotten our own sins.


A Small Reflection for You
Have you ever misinterpreted a sign from God?
How has that experience shaped the way you believe now?

Write your story.
Sometimes, behind the wounds we share,
there is a God quietly healing the way we love — and believe.

Minggu, 05 Oktober 2025

🕊️ Saat Amarah Itu Mencekik, dan Aku Hanya Bisa Berteriak: “Tuhan, Selamatkan Aku!” (When Anger Feels Like It’s Choking You)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Teman-teman, pernahkah kalian merasa marah sampai rasanya mencekik leher?
Aku pernah. Dan itu menjadi salah satu pengalaman paling jujur tentang rapuhnya diriku di hadapan Tuhan.

Awalnya, aku sedang mencoba sebuah eksperimen rohani kecil — aku ingin belajar mengampuni orang-orang yang pernah bersalah padaku.
Aku pikir, untuk bisa sungguh-sungguh mengampuni, aku harus berani mengingat kembali luka-luka yang dulu kubiarkan terkubur.

Maka aku mulai membuka satu per satu kenangan yang menyakitkan itu:
KDRT.
Pelecehan seksual.
Ketika usahaku tidak dihargai.
Ketika hubungan yang kubangun dengan sungguh-sungguh justru hancur.

Semua itu muncul seperti badai yang tak bisa kuhentikan. Dan di tengah badai itu, Tuhan seperti diam saja. Aku tidak bisa berdoa, tidak bisa menangis dengan tenang. Hanya marah, dan tubuhku bergetar menahan semuanya.

Sampai suatu hari, aku sedang bersaksi  — dan ia tidak suka dengan kesaksianku.
Pertengkaran kecil kami tiba-tiba menjadi bensin bagi semua luka yang belum sembuh itu.
Kemarahan yang selama ini kutahan akhirnya meledak.
Aku berteriak, menangis, dan tubuhku seolah dicekik oleh amarahku sendiri.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain satu kalimat yang keluar dari dasar jiwaku:

“Tuhan, selamatkan aku!”

Entah bagaimana, sesudah itu aku mulai sedikit tenang.
Temanku mengirim voice note, dan di situ ia berkata dengan lirih bahwa aku sering merendahkan dia.
Kata-kata itu seperti menamparku. Aku tersadar — mungkin Tuhan sedang menegurku lewat suara yang tidak ingin kudengar.

Kemarahan itu perlahan surut.
Bukan karena aku tiba-tiba menjadi suci atau kuat, tapi karena di tengah kekacauan itu, aku sadar: Tuhan tetap ada.
Ia tidak meninggalkanku, bahkan ketika aku berteriak dan kehilangan kendali.

Mungkin, pengampunan tidak selalu dimulai dengan doa yang tenang.
Kadang, ia dimulai dari teriakan minta tolong di tengah amarah.
Dan di sanalah kasih Tuhan bekerja — lembut, tapi pasti. 🌿



In the Name of the Father, the Son, and the Holy Spirit

Friends, have you ever felt so angry that it felt like your throat was tightening? I have.

It began when I was trying to experiment with forgiveness — I wanted to forgive the people who had hurt me by remembering what they did.

I remembered the moments of domestic violence.
I remembered the moments of sexual harassment.
I remembered the times when my efforts went unappreciated.
I remembered the broken relationships I had to face.

One day, I was sharing my testimony, and my friend didn’t like what I said. The argument that followed became like fuel poured onto a fire.

I couldn’t pray. But I screamed, “Lord, save me!”

Somehow, my anger began to subside after my friend sent me a voice note saying that I had always made her feel small.

Rabu, 01 Oktober 2025

Kesaksian: Bertahan 5 Menit Demi 5 Menit (Testimony: Surviving Five Minutes at a Time)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu merasa hidupmu terlalu kotor untuk disentuh Tuhan? Aku pernah ada di titik itu. Sebelum mengenal-Nya lebih dekat, hidupku dipenuhi dengan seks bebas, pornografi, kebiasaan “main sendiri,” rokok, dan mabuk.

Dari semua itu, yang paling sulit kuubah adalah pornografi dan seks main sendiri. Rasa penyesalan selalu datang setelahnya, tapi lama-kelamaan penyesalan itu tumpul, digantikan dengan rasa lelah yang menggerogoti. Aku bahkan tak menyangka suatu hari bisa berkata “tidak” pada laki-laki yang mengajakku jatuh lagi.

Namun, anugerah Tuhan bekerja jauh melampaui pengertianku. Sejak 2018, aku berhasil lepas dari rokok dan mabok. Lalu antara tahun 2022–2024, tanpa aku sadari sepenuhnya, Tuhan membebaskanku dari seks bebas, pornografi, dan seks main sendiri. Aku ingat, seringkali hanya dengan mengepalkan tanganku kuat-kuat setiap kali ada godaan. Aku tidak tahu bagaimana tepatnya semua itu terjadi, tapi aku bisa bersaksi hari ini: Puji Tuhan, aku keluar dari sana.

Namun, perjalanan imanku tidak berhenti di situ. Tahun 2024, aku didiagnosa skizoafektif tipe depresi (dd/ depresi berat dengan ciri psikotik). Berbeda dengan kebiasaan buruk yang bisa aku lawan dengan keputusan sadar, depresi ini menembus sampai ke alam bawah sadar, ke dalam pikiranku yang paling gelap.

Kadang terlintas pikiran di kepalaku: “Setelah semua masa-masa indah bersama Tuhan, apakah aku akhirnya akan kalah karena depresi?”

Yang paling berat adalah saat aku tidak tahan mendengar tangisanku sendiri — terutama ketika tangisan itu datang bersama perasaan gelap dan berat di dada.

Tetapi bahkan di titik terendah itu, aku masih bisa merasakan tangan Tuhan memelihara. Ia tidak mengambil keluargaku — mereka sehat. Ia tidak membiarkan pekerjaanku hilang — aku masih bisa bekerja. Ia tidak membiarkan doaku kosong — Ia masih menjawabnya.

Lewat semua ini aku belajar: Tuhan itu Maha Pemelihara. Tugas utamaku hanyalah menyerahkan hidup ini sepenuhnya pada tangan belas kasih-Nya.

Bagi kamu yang mungkin sedang berada dalam gelapnya depresi, aku ingin berkata: aku tahu, kadang hidup tidak terasa seperti anugerah. Kadang sakit itu begitu menindih hingga kita hanya ingin berhenti. Tapi, bertahanlah. Lima menit demi lima menit.

Karena lima menit itu bisa menjadi jembatan menuju harapan.


✨ Kalau kamu sedang berjuang, jangan diam sendiri. Ceritakan pada seseorang yang bisa kamu percaya. Boleh juga tinggalkan komentar atau pesan kalau kamu butuh teman seperjalanan. Kamu tidak sendirian.





In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt like your life was too dirty to be touched by God? I have. Before I truly knew Him, my life was filled with casual sex, pornography, masturbation, smoking, and drinking.

Of all these, pornography and masturbation were the hardest to let go of. I would feel guilty afterward, but over time the guilt became dull, replaced by a deep exhaustion. I never imagined I could one day say “no” to men who invited me to fall again.

Yet God’s grace worked far beyond my understanding. Since 2018, I have been free from smoking and drinking. And between 2022–2024, without fully realizing how, God set me free from casual sex, pornography, and masturbation. I remember clenching my fists tightly whenever temptation came. I still don’t fully understand how it happened, but today I can testify: Praise God, I came out of it.

But my journey didn’t stop there. In 2024, I was diagnosed with schizoaffective disorder, depressive type (dd/ major depression with psychotic features). Unlike bad habits that I could resist with conscious decisions, depression pierced into my subconscious, into the darkest parts of my mind.

Sometimes a thought crosses my mind: “After all those seasons of walking with God, will I end up defeated by depression?”

The hardest part is not being able to bear my own crying — especially when it comes with that heavy, dark feeling in my chest.

Yet even in my lowest moments, I can still feel God’s hand sustaining me. My family is still healthy. I still have my job. He still answers my prayers.

Through it all I’ve learned: God is the Great Provider. My main task is simply to entrust my life completely into His merciful hands.

To anyone who might be walking through the same darkness, I want to say this: I know sometimes life doesn’t feel like a gift. Sometimes the pain presses so hard that you just want to stop. But hold on. Five minutes at a time.

Because those five minutes can become a bridge to hope.


✨ If you’re struggling, don’t stay silent. Tell someone you trust. You can also leave a comment or a message if you need a companion on the journey. You are not alone.

Perfect Love and the Agony of Gethsemane

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Hari ini, saya sedang scroll Threads dan menemukan sebuah diskusi yang menarik. Ada sebuah post...