Senin, 05 Januari 2026

Tuhan Menyembuhkan, Bahkan Saat Aku Merasa Jauh (God’s Healing, Even When I Feel Far From Him)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Kadang pemulihan tidak datang lewat mukjizat besar, tapi lewat satu kalimat sederhana dari orang lain:
“Kamu sekarang sudah kelihatan ceria.”

Beberapa bulan lalu, teman-teman kantorku berkata bahwa wajahku murung, kosong, seperti orang linglung. Pada saat itu, aku masih mengonsumsi antidepresan dan antipsikotik atas penyakit skizoafektif tipe depresi dd/ depresi berat dengan ciri psikotik. Yang kurasakan saat itu hanyalah sedih dan bingung. Aku tidak mengerti mengapa ekspresiku dinilai demikian, karena dalam keseharianku aku merasa tidak selelah itu. Aku tidak sadar bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

Dua hari yang lalu, temanku mengatakan bahwa ekspresiku sudah jauh lebih baik—tidak murung dan tidak linglung lagi. Hari ini, salah satu OB di kantorku juga bilang kalau aku sudah terlihat ceria. Puji Tuhan. Aku percaya Tuhan menyembuhkanku. Mungkin juga ini berkaitan dengan proses setelah aku putus obat. Mungkin obat memengaruhi ekspresiku saat itu. Hal ini terlihat sepele, tetapi bagiku menjadi salah satu tanda awal pemulihan.

Dalam proses ini, Abang Sayang dan keluargaku menjadi orang-orang yang Tuhan kirimkan sebagai support system. Perubahan ini terasa datang tiba-tiba, karena teman-teman kantor dan OB baru menyadarinya di waktu-waktu terakhir ini.

Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku sudah kembali pulih—lebih ceria dan tidak murung lagi. Tuhan tetap ada dan hadir menyembuhkanku, bahkan di masa ketika aku merasa jauh dari-Nya.

Jika kamu yang membaca tulisan ini sedang berada di fase murung, kosong, atau bahkan tidak sadar bahwa dirimu sedang lelah, aku ingin bilang: pemulihan itu nyata dan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Jangan menyerah. Tuhan tetap bekerja, bahkan saat kita merasa tidak merasakan apa-apa.

🤍


Greetings in the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Sometimes healing does not come through great miracles, but through a simple sentence spoken by someone else:
“You look cheerful again.”

A few months ago, my coworkers told me that my face looked gloomy, empty, and dazed. At that time, I was still taking antidepressants and antipsychotics for schizoaffective disorder, depressive type / major depressive disorder with psychotic features. What I felt back then was sadness and confusion. I did not understand why my expression was seen that way, because in my daily life I did not feel that exhausted. I did not realize that I was not doing well.

Two days ago, a coworker told me that my expression had improved significantly—not gloomy and not dazed anymore. Today, one of the office cleaning staff also told me that I looked cheerful. Praise be to God. I believe God has healed me. Perhaps this is also related to the process after I stopped taking medication. Perhaps the medication affected my expression at that time. It may seem trivial, but for me, it became one of the early signs of recovery.

In this process, my beloved partner and my family became the people God sent to be my support system. This change felt sudden, because my coworkers and the office staff only noticed it recently.

I am grateful to God that I have returned to a place of recovery—more cheerful and no longer gloomy. God remained present and faithful in healing me, even in times when I felt far from Him.

If you who are reading this are in a phase of gloom, emptiness, or perhaps not even aware that you are exhausted, I want to say this: recovery is real and it can begin with small things. Do not give up. God is still at work, even when we feel nothing at all.

🤍


Kamis, 11 Desember 2025

Belajar Setia di Tengah Takut (Learning to Stay Faithful in the Midst of Fear)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Setelah kupikirkan dan kurenungkan dengan sungguh-sungguh, aku akhirnya menyadari bahwa aku tidak bisa bersama Orang Baru. Ada ketidaknyamanan yang halus tetapi terus-menerus mengetuk hatiku. Tidak ada damai di dalamnya, dan aku merasa bersalah terhadap Abang Sayang. Karena itu, aku memilih untuk tetap setia.

Namun, setelah memilih jalan ini, rasa khawatirku justru semakin terasa. Sampai hari ini aku masih bergumul dengan ketakutan tentang kecukupan finansial. Aku hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran: takut tidak cukup, takut kehilangan, bahkan takut Abang pergi terlebih dahulu mengingat perbedaan usia kami yang cukup jauh.

Dalam pergumulan itu, ayat dari 1 Yohanes 4:18 kembali terngiang:
“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”

Aku merenungkan kembali apa itu kasih yang sempurna. Dalam doaku, aku teringat bahwa kasih yang sempurna itu bukan berasal dari diriku—melainkan dari Allah sendiri. Kasih yang sempurna adalah kasih yang memperkenankan kita menyapa Dia sebagai Bapa. Kasih yang sempurna adalah ketika Kristus mati untuk menebus dosa manusia. Perenungan ini datang saat aku mendengarkan lagu Bapa Yang Kekal, yang mengingatkanku bahwa kasih-Nya tidak berubah sekalipun hatiku goyah.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri:
“Apakah aku sudah menerima kasih yang sempurna itu?”

Aku percaya, ketika aku berani berseru memanggil Allah sebagai Bapa, di situlah kasih-Nya sudah lebih dulu bekerja. Penebusan itu nyata. Penerimaan itu penuh. Namun, jujur kuakui: saat ini aku seperti mati rasa. Aku tahu kebenarannya, tetapi jiwaku masih berjuang mengecapnya.

Meski begitu, aku percaya kasih Tuhan tidak pernah ditentukan oleh apa yang kurasakan hari ini. Ia tetap bekerja dalam diam. Dan mungkin, justru dalam masa mati rasa inilah, Tuhan sedang membentukku—perlahan, lembut, dan pasti.

Pada akhirnya, aku ingin belajar berjalan perlahan bersama Tuhan. Menerima rasa takutku apa adanya, sambil percaya bahwa kasih-Nya jauh lebih besar daripada seluruh ketidakpastianku. Aku tidak tahu masa depan, tetapi aku tahu siapa yang menggandengku di dalamnya. Dan untuk hari ini, itu sudah cukup.

Amin.



In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

After much thought and sincere reflection, I finally realized that I could not be with the New Person. There was a subtle, persistent uneasiness in my heart. There was no peace in it, and I felt guilty toward Abang Sayang. Because of that, I chose to remain faithful.

However, after making that decision, my worries only grew stronger. Until today, I am still struggling with fears about financial security. I live in the shadow of anxiety: afraid of not having enough, afraid of losing him, even afraid that Abang might leave this world before me because of our 14-year age difference.

In the midst of these struggles, the verse from 1 John 4:18 echoes in my mind:
“There is no fear in love; but perfect love casts out fear, for fear has to do with punishment, and whoever fears has not been perfected in love.”

I began to reflect again on what perfect love truly is. In my prayers, I remembered that perfect love does not come from within me—it comes from God Himself. Perfect love is what allows us to call Him Father. Perfect love is Christ who died to redeem the sins of humanity. This reflection came while I was listening to the song Bapa Yang Kekal, which reminded me that His love does not change, even when my heart wavers.

Then I asked myself:
“Have I truly received that perfect love?”

I believe that when I dare to cry out and call God “Father,” His love is already at work within me. Redemption is real. His acceptance is full. Yet I must honestly admit: right now, I feel numb. I know the truth, but my soul is still struggling to feel it.

Even so, I trust that God’s love is never determined by what I feel today. His love continues to work in the quiet. And perhaps, in this season of numbness, God is shaping me—slowly, gently, and surely.

In the end, I want to learn to walk slowly with God. To accept my fears as they are, while trusting that His love is far greater than all my uncertainties. I do not know what the future holds, but I know who is holding my hand in it. And for today, that is enough.

Amen.


Selasa, 04 November 2025

Dilema Antara Cinta dan Masa Depan (Dilemma Between Love and the Future)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Apakah teman-teman pernah merasa dilema?
Bukan karena tidak tahu mana yang baik, tapi karena dua-duanya terasa benar — hanya saja, dalam arah yang berbeda.

Saat ini, aku sedang berada di persimpangan seperti itu.
Aku punya pacar — sebut saja namanya Abang Sayang.
Ia bertanggung jawab, pekerja keras, baik, dan selalu berusaha melindungi keluarganya. Ia bekerja di distributor obat. Kedua orangtuanya sudah tiada. Beberapa hari lalu, ia bercerita: ada apotek yang order melalui dia senilai 24 juta, tapi ternyata gagal bayar. Akibatnya, gajinya dipotong untuk menanggung kerugian perusahaan.
Motornya terpaksa digadaikan 3 juta demi kebutuhan sehari-hari.
Ia tidak punya tabungan, dan baru bisa menabung awal tahun depan.

Lalu, di sisi lain, datang seseorang yang baru.
Sebut saja dia Orang Baru — lulusan Manajemen Logistik Trisakti, bekerja sebagai admin, tinggal dengan orangtua, dan sudah memiliki tabungan. Hidupnya stabil, tenang, dan masa depannya tampak lebih pasti.

Secara logika, tentu pilihan itu mudah. Tapi hati manusia tidak sesederhana hitungan tabungan atau slip gaji. Aku menyayangi Abang Sayang. Aku tidak ingin meninggalkannya saat dia sedang jatuh. Namun, aku juga takut bila aku bertahan hanya karena kasihan, bukan cinta.

Kini, aku bergulat dengan dua pertanyaan:

  1. Jika Abang Sayang bangkit secara finansial, apakah aku masih ingin bersamanya karena pribadinya, bukan karena rasa kasihan?

  2. Jika aku bersama Orang Baru yang lebih stabil, apakah hatiku akan benar-benar damai, atau justru masih menoleh ke masa lalu dengan rasa bersalah?

Kadang aku merasa, dilema seperti ini bukan sekadar soal cinta, tapi juga tentang siapa diriku dan apa yang sebenarnya aku cari dalam hidup ini — keamanan, cinta, atau keduanya?


Refleksi untukmu yang membaca ini:
Pernahkah kamu berada di titik di mana cinta dan logika saling tarik menarik?
Apakah kamu lebih memilih hati yang tenang, atau masa depan yang pasti?
Bagikan ceritamu atau refleksimu di kolom komentar — mungkin kita bisa saling menguatkan di tengah dilema yang tak selalu punya jawaban mudah.



In the Name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt torn in a dilemma?
Not because you don’t know which one is right, but because both choices feel right — just in different directions.

Right now, I’m standing at such a crossroads.
I have a boyfriend — let’s call him My Dear One.
He’s responsible, hardworking, kind, and always tries to protect his family. He works at a pharmaceutical distributor. Both of his parents have passed away. A few days ago, he told me that one of the pharmacies ordered through him for 24 million rupiahs, but the payment fell through. As a result, his salary is being deducted to cover the company’s loss.
He had to pawn his motorcycle for 3 million just to meet daily needs.
He has no savings and can only start saving again early next year.

Then, on the other side, someone new appeared.
Let’s call him The New One — a graduate in Logistics Management from Trisakti University, working as an admin, living with his parents, and already having some savings. His life seems stable, calm, and his future looks more certain.

Logically, the choice should be easy. But the human heart isn’t as simple as numbers on a payslip or the amount in a savings account. I care about My Dear One. I don’t want to leave him when he’s down. Yet, I’m also afraid that I might be staying only out of pity, not love.

Now, I wrestle with two questions:

If My Dear One rises again financially, would I still want to be with him because of who he is, not because I feel sorry for him?

If I choose The New One who’s more stable, would my heart truly be at peace — or would I still glance back at the past with guilt?

Sometimes I feel that this dilemma isn’t just about love,
but also about who I am, and what I truly seek in life —
security, love, or both?

A reflection for you who are reading this:
Have you ever stood at the point where love and logic pull you in opposite directions?
Would you rather choose a peaceful heart, or a certain future?
Share your story or reflection in the comments — perhaps we can strengthen one another amidst dilemmas that don’t always have easy answers.


Minggu, 26 Oktober 2025

Ketika Kekosongan Itu Sirna (When the Emptiness Faded Away)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Teman-teman, pernahkah kalian merasa kosong?
Bukan sekadar lelah, tapi benar-benar hampa — seolah hidup berjalan tanpa warna dan dada terasa berat setiap kali mencoba bernapas. Aku pun pernah ada di titik itu. Di masa itu, aku meragukan penyertaan dan kehadiran Tuhan dalam hidupku. Rasanya sepi sekali.

Namun hari ini, aku ingin bersaksi: rasa kosong itu telah sirna.
Sekarang, aku merasa hidup. Dalam doa, aku mulai rutin mengucap syukur — untuk keluargaku yang masih sehat, untuk Abang Sayang yang masih ada, untuk pekerjaanku, dan untuk kesehatanku sendiri. Saat aku belajar bersyukur, aku sadar bahwa Tuhan tidak pernah pergi. Ia tetap hadir dan menyertaiku.

Relasiku dengan Tuhan mungkin belum pulih sepenuhnya. Aku masih jarang membaca renungan untuk mendengar suara-Nya. Mungkin karena luka setahun lalu — ketika ekspektasiku tentang perkawinan dengan Tuan tidak sesuai kenyataan. Dulu, aku begitu rajin membaca firman, tapi setelah kegagalan kesaksian di tahun 2023, semangat itu perlahan luntur.

Namun kini, aku memahami satu pelajaran rohani yang berharga:

Bahkan ketika kita tak menyadari kehadiran Tuhan, saat kita belajar mensyukuri berkat-Nya, di sanalah kita akan menemukan Dia.

Jika aku bisa berbicara pada diriku yang dulu, aku akan berkata:
“Tenang saja. Tuhan hadir dan menyertai langkah kakimu.”

Dan mungkin, untukmu yang membaca ini dan sedang merasa kosong —
berhentilah sejenak. Lihatlah sekelilingmu.
Ada napas, ada kasih, ada berkat kecil yang diam-diam sedang membisikkan:

“Aku di sini, anak-Ku.” 🌿



In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Friends, have you ever felt empty?
Not just tired — but truly hollow, as if life has lost its color and every breath feels heavy. I once found myself in that place. During that time, I doubted God’s presence and guidance in my life. It was a very lonely season.

But today, I want to testify that the emptiness has vanished.
Now, I feel alive again. In my prayers, I’ve begun to give thanks — for my family who are still healthy, for my beloved one who is still here, for my work, and for my own health. As I learned to give thanks, I realized that God had never left. He was always here, walking beside me.

My relationship with God is not yet perfect. I still rarely read devotionals or listen to His voice through Scripture. Perhaps it’s the lingering wound from a year ago — when my expectations about marriage with someone dear didn’t match reality. I used to love reading God’s Word, but after that disappointment in 2023, my devotion slowly faded.

Yet now, I understand a precious spiritual truth:

Even when we fail to sense God’s presence, when we begin to recognize His abundant blessings, we will find Him there.

If I could speak to the version of myself who once felt empty, I would say:
“Be still. God is here, and He is guiding your every step.”

And perhaps, to you who are reading this and still feel empty —
pause for a moment. Look around you.
There is breath, there is love, there are small blessings quietly whispering:

“I am here, My child.” 🌿


Minggu, 19 Oktober 2025

🌿 Ketika Aku Tidak Bisa Tertawa Selama Satu Tahun (🌿 When I Couldn’t Laugh for a Year)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu membayangkan hidup tanpa tawa?
Aku dulu tidak pernah terpikir bahwa kehilangan kemampuan untuk tertawa bisa menjadi bentuk penderitaan yang begitu sunyi. Namun, itulah yang kualami. Selama hampir satu tahun, aku tidak bisa tertawa.

Hal pertama yang membuatku sadar adalah ketika aku menonton video lucu — hal yang biasanya mudah memancing tawa. Kali itu, aku hanya menatap layar datar. Tidak ada reaksi. Tidak ada geli. Tidak ada tawa. Hanya hening yang terasa berat.

Awalnya aku menganggap itu hal sepele. Tapi lama-kelamaan aku sadar, ada sesuatu yang hilang dari hidupku. Aku mulai merindukan suara tawaku sendiri — yang dulu lepas, hangat, dan penuh hidup. Rasanya aneh sekali menyadari bahwa ketawa, sesuatu yang tampak sederhana, ternyata adalah karunia yang patut disyukuri.

Rasa tawaku hilang setelah aku dighosting oleh seseorang yang sangat berarti bagiku — Tuan. Sejak itu, seolah seluruh cahaya dari dalam diriku meredup. Aku masih mencoba berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain, tapi di dalam, aku merasa kosong. Tak ada seorang pun yang benar-benar menyadari bahwa aku bahkan sudah lupa rasanya tertawa.

Di masa itu, aku sering berdoa. Hampir setiap hari aku memohon kepada Roh Kudus,

“Tolong aku… mampukan aku untuk tertawa lagi.”

Awalnya doaku hanya berpantul di dinding kamar — sepi. Tapi perlahan, Ia menjawab. Bukan lewat mujizat besar, melainkan lewat hal-hal kecil: video lucu yang tiba-tiba terasa sedikit menggelitik, percakapan ringan yang membuatku tersenyum tipis, momen kecil yang membuat dadaku sedikit hangat.

Tawa itu memang tidak datang seketika. Tapi sedikit demi sedikit, aku mulai bisa tertawa lagi. Tidak sekeras dulu, tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa Tuhan masih bekerja dalam hidupku. Bahwa Roh Kudus benar-benar hadir — bahkan di dalam proses sekecil mengembalikan tawa yang hilang.

Pernah aku kecewa kepada Tuhan. Aku sempat marah karena merasa ditinggalkan. Tapi kini aku tahu, bahkan dalam diam-Nya, Ia sedang memulihkan sesuatu yang rusak dalam diriku.

Kalau aku bisa berbicara kepada diriku yang dulu — yang kehilangan tawa — aku akan berkata:

“Bertahan, ya. Sabar, sebentar lagi kau pasti akan ketawa. Mintalah bantuan Roh Kudus. Ia tidak akan menolak permintaan sekecil itu.”

Dan benar, Ia tidak pernah menolak.


Refleksi untukmu yang membaca ini:
Mungkin kamu juga sedang berada di masa di mana sukacita terasa jauh, di mana tawa tak lagi mudah muncul.
Jika iya, izinkan Roh Kudus menyentuh hatimu perlahan.
Mintalah Ia memulihkan apa pun yang hilang — bahkan hal sekecil tawa — sebab bagi Tuhan, tidak ada yang terlalu sepele untuk dipulihkan.

Karena di hadirat-Nya ada sukacita berlimpah-limpah.
(Mazmur 16:11)




In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

Have you ever imagined living without laughter?
I never thought that losing the ability to laugh could become such a quiet kind of suffering.
But that’s what happened to me. For almost a year, I couldn’t laugh.

The first thing that made me realize it was when I watched a funny video — something that would usually make me laugh easily. But that time, I just stared at the screen blankly. No reaction. No amusement. No laughter. Only a heavy silence.

At first, I thought it was nothing. But over time, I realized something had gone missing from my life.
I started to miss the sound of my own laughter — the one that used to be free, warm, and full of life.
It felt strange to realize that laughter, something so simple, is actually a gift to be thankful for.

My laughter disappeared after I was ghosted by someone who once meant a lot to me — Tuan.
Since then, it felt as if all the light inside me dimmed.
I tried to act fine around others, but deep down, I felt empty.
No one really noticed that I had forgotten what it felt like to laugh.

During that time, I often prayed. Almost every day I asked the Holy Spirit,

“Please… help me laugh again.”

At first, my prayers only echoed against the walls of my room — silent.
But slowly, He answered.
Not through grand miracles, but through small things: a funny video that suddenly felt a little amusing, a light conversation that made me smile faintly, tiny moments that warmed my heart.

The laughter didn’t return all at once. But little by little, I began to laugh again.
Not as loudly as before, but enough to let me know that God was still working in my life.
That the Holy Spirit was truly present — even in something as small as restoring a lost laugh.

There was a time when I felt disappointed in God.
I was angry, thinking He had left me.
But now I know — even in His silence, He was healing something broken within me.

If I could speak to my past self — the one who had forgotten how to laugh — I would say:

“Hold on. Be patient. You’ll laugh again soon. Ask the Holy Spirit for help. He never rejects even the smallest prayer.”

And truly, He never does.


A reflection for you who are reading this:
Maybe you’re also in a season where joy feels distant, where laughter doesn’t come easily.
If so, let the Holy Spirit touch your heart gently.
Ask Him to restore whatever has been lost — even something as small as laughter — for to God, nothing is too small to be healed.

For in His presence there is fullness of joy.
(Psalm 16:11)


Minggu, 12 Oktober 2025

Ketika Aku Mengira Tuhan Menipuku (When I Thought God Deceived Me)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu merasa kecewa begitu dalam kepada Tuhan —
sampai rasanya imanmu yang dulu teguh kini seperti retak tanpa suara?

Jika iya, mungkin kisah ini bisa menemanimu sejenak.


Awalnya, aku sudah menyerah terhadap urusan cinta dan pernikahan. Terlalu sering patah hati membuatku lelah berharap.
Namun, suatu hari aku mendengar khotbah dari pendeta yang berkata:

“Kalau suatu saat kamu bertemu seseorang dan ada dugdugdugnya, itulah jodohmu.”

Aku sempat tertawa kecil dalam hati. Masa iya jodoh bisa sesederhana itu?
Tapi tetap, aku merespons. Entah bagaimana, kata-kata itu melekat di benak dan diingat oleh hatiku.

Beberapa waktu kemudian, aku bertemu Tuan.
Dan benar saja — ada dugdugdugnya.
Aku teringat khotbah itu dan mulai menafsirkan sukacita yang kurasakan sebagai tanda dari Tuhan.
Rasanya indah, hangat, dan penuh harapan.

Tapi keindahan itu cepat memudar.
Hubungan kami dipenuhi ujian —
hatiku masih menoleh ke masa lalu, pada seseorang yang dulu hanya “FWB” tapi menyisakan bayangan.
Sementara di sisi lain, aku juga berbuat salah dalam relasi ini.
Aku memancing amarah Tuan, dan akhirnya, dia menghilang.

Di titik itu, dunia seakan menatapku sambil berkata,

“Katanya jodoh dari Tuhan. Tapi mana buktinya?”

Aku terdiam.
Semua keyakinan yang dulu kubangun atas nama “firman Tuhan” runtuh begitu saja.
Aku merasa Tuhan mempermainkanku. Aku merasa ditipu oleh-Nya.
Dan untuk waktu yang lama, aku tak tahu harus menaruh imanku di mana.

Namun perlahan aku sadar:
mungkin Tuhan tidak menipu.
Mungkin akulah yang terlalu cepat menafsir, terlalu cepat memberi makna pada sesuatu yang belum tentu dimaksudkan begitu.
Mungkin Ia sedang mengajariku membedakan antara perasaan yang indah dan panggilan yang benar.

Aku juga lupa akan kesalahanku kepada Tuan.

Sekarang, aku masih percaya kepada-Nya —
bukan karena aku mengerti segalanya, tapi karena aku memilih untuk percaya melampaui perasaanku,
melampaui pandanganku yang dulu memandang-Nya sebagai penipu.

Dan kalau kamu juga pernah kecewa pada Tuhan,
izinkan aku berkata dengan lembut:

Kadang, kegagalan bukan karena Tuhan menipu,
tapi karena kita sendiri yang lupa akan dosa sendiri.


Refleksi kecil untukmu
Pernahkah kamu salah menafsir tanda dari Tuhan?
Bagaimana pengalaman itu membentuk caramu percaya sekarang?

Tuliskan kisahmu. Kadang, di balik luka yang kita ceritakan,
ada Tuhan yang sedang memulihkan cara kita mencintai — dan percaya.




In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt so deeply disappointed in God —
to the point where your once-steadfast faith now feels quietly fractured?

If so, perhaps this story might keep you company for a while.

At first, I had already given up on love and marriage.
Too many heartbreaks had left me tired of hoping.
Then one day, I heard a sermon from a pastor who said:

“When you meet someone and your heart goes dug-dug-dug, that’s your soulmate.”

I chuckled quietly to myself. Could it really be that simple?
Still, I responded somehow. Those words stuck with me — remembered not just by my mind, but by my heart.

Some time later, I met the Man.
And indeed — there was that dug-dug-dug.
I recalled the sermon and began to interpret the joy I felt as a sign from God.
It was beautiful, warm, and full of hope.

But that beauty faded quickly.
Our relationship was full of trials —
my heart kept turning back to someone from the past, someone who used to be just an “FWB,” yet left a lingering shadow.
And on my side, I also made mistakes.
I provoked his anger, and eventually, he disappeared.

At that moment, the world seemed to look at me and whisper,

“You said he was God’s choice for you. Where’s the proof?”

I fell silent.
All the certainty I had built in the name of “God’s word” crumbled.
I felt as though God was toying with me — deceiving me.
And for a long time, I didn’t know where to place my faith anymore.

But slowly, I began to realize:
perhaps God didn’t deceive me.
Perhaps I was the one who interpreted too quickly — giving meaning to something that was never meant that way.
Maybe He was teaching me to distinguish between what feels beautiful and what is truly a calling.

I also forgot to see my own fault in how I treated him.

Now, I still believe in God —
not because I understand everything,
but because I choose to believe beyond my feelings,
beyond my own view that once saw Him as a deceiver.

And if you, too, have ever felt disappointed in God,
allow me to gently say:

Sometimes, failure doesn’t happen because God deceived us,
but because we ourselves have forgotten our own sins.


A Small Reflection for You
Have you ever misinterpreted a sign from God?
How has that experience shaped the way you believe now?

Write your story.
Sometimes, behind the wounds we share,
there is a God quietly healing the way we love — and believe.

Minggu, 05 Oktober 2025

🕊️ Saat Amarah Itu Mencekik, dan Aku Hanya Bisa Berteriak: “Tuhan, Selamatkan Aku!” (When Anger Feels Like It’s Choking You)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Teman-teman, pernahkah kalian merasa marah sampai rasanya mencekik leher?
Aku pernah. Dan itu menjadi salah satu pengalaman paling jujur tentang rapuhnya diriku di hadapan Tuhan.

Awalnya, aku sedang mencoba sebuah eksperimen rohani kecil — aku ingin belajar mengampuni orang-orang yang pernah bersalah padaku.
Aku pikir, untuk bisa sungguh-sungguh mengampuni, aku harus berani mengingat kembali luka-luka yang dulu kubiarkan terkubur.

Maka aku mulai membuka satu per satu kenangan yang menyakitkan itu:
KDRT.
Pelecehan seksual.
Ketika usahaku tidak dihargai.
Ketika hubungan yang kubangun dengan sungguh-sungguh justru hancur.

Semua itu muncul seperti badai yang tak bisa kuhentikan. Dan di tengah badai itu, Tuhan seperti diam saja. Aku tidak bisa berdoa, tidak bisa menangis dengan tenang. Hanya marah, dan tubuhku bergetar menahan semuanya.

Sampai suatu hari, aku sedang bersaksi  — dan ia tidak suka dengan kesaksianku.
Pertengkaran kecil kami tiba-tiba menjadi bensin bagi semua luka yang belum sembuh itu.
Kemarahan yang selama ini kutahan akhirnya meledak.
Aku berteriak, menangis, dan tubuhku seolah dicekik oleh amarahku sendiri.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain satu kalimat yang keluar dari dasar jiwaku:

“Tuhan, selamatkan aku!”

Entah bagaimana, sesudah itu aku mulai sedikit tenang.
Temanku mengirim voice note, dan di situ ia berkata dengan lirih bahwa aku sering merendahkan dia.
Kata-kata itu seperti menamparku. Aku tersadar — mungkin Tuhan sedang menegurku lewat suara yang tidak ingin kudengar.

Kemarahan itu perlahan surut.
Bukan karena aku tiba-tiba menjadi suci atau kuat, tapi karena di tengah kekacauan itu, aku sadar: Tuhan tetap ada.
Ia tidak meninggalkanku, bahkan ketika aku berteriak dan kehilangan kendali.

Mungkin, pengampunan tidak selalu dimulai dengan doa yang tenang.
Kadang, ia dimulai dari teriakan minta tolong di tengah amarah.
Dan di sanalah kasih Tuhan bekerja — lembut, tapi pasti. 🌿



In the Name of the Father, the Son, and the Holy Spirit

Friends, have you ever felt so angry that it felt like your throat was tightening? I have.

It began when I was trying to experiment with forgiveness — I wanted to forgive the people who had hurt me by remembering what they did.

I remembered the moments of domestic violence.
I remembered the moments of sexual harassment.
I remembered the times when my efforts went unappreciated.
I remembered the broken relationships I had to face.

One day, I was sharing my testimony, and my friend didn’t like what I said. The argument that followed became like fuel poured onto a fire.

I couldn’t pray. But I screamed, “Lord, save me!”

Somehow, my anger began to subside after my friend sent me a voice note saying that I had always made her feel small.

Rabu, 01 Oktober 2025

Kesaksian: Bertahan 5 Menit Demi 5 Menit (Testimony: Surviving Five Minutes at a Time)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu merasa hidupmu terlalu kotor untuk disentuh Tuhan? Aku pernah ada di titik itu. Sebelum mengenal-Nya lebih dekat, hidupku dipenuhi dengan seks bebas, pornografi, kebiasaan “main sendiri,” rokok, dan mabuk.

Dari semua itu, yang paling sulit kuubah adalah pornografi dan seks main sendiri. Rasa penyesalan selalu datang setelahnya, tapi lama-kelamaan penyesalan itu tumpul, digantikan dengan rasa lelah yang menggerogoti. Aku bahkan tak menyangka suatu hari bisa berkata “tidak” pada laki-laki yang mengajakku jatuh lagi.

Namun, anugerah Tuhan bekerja jauh melampaui pengertianku. Sejak 2018, aku berhasil lepas dari rokok dan mabok. Lalu antara tahun 2022–2024, tanpa aku sadari sepenuhnya, Tuhan membebaskanku dari seks bebas, pornografi, dan seks main sendiri. Aku ingat, seringkali hanya dengan mengepalkan tanganku kuat-kuat setiap kali ada godaan. Aku tidak tahu bagaimana tepatnya semua itu terjadi, tapi aku bisa bersaksi hari ini: Puji Tuhan, aku keluar dari sana.

Namun, perjalanan imanku tidak berhenti di situ. Tahun 2024, aku didiagnosa skizoafektif tipe depresi (dd/ depresi berat dengan ciri psikotik). Berbeda dengan kebiasaan buruk yang bisa aku lawan dengan keputusan sadar, depresi ini menembus sampai ke alam bawah sadar, ke dalam pikiranku yang paling gelap.

Kadang terlintas pikiran di kepalaku: “Setelah semua masa-masa indah bersama Tuhan, apakah aku akhirnya akan kalah karena depresi?”

Yang paling berat adalah saat aku tidak tahan mendengar tangisanku sendiri — terutama ketika tangisan itu datang bersama perasaan gelap dan berat di dada.

Tetapi bahkan di titik terendah itu, aku masih bisa merasakan tangan Tuhan memelihara. Ia tidak mengambil keluargaku — mereka sehat. Ia tidak membiarkan pekerjaanku hilang — aku masih bisa bekerja. Ia tidak membiarkan doaku kosong — Ia masih menjawabnya.

Lewat semua ini aku belajar: Tuhan itu Maha Pemelihara. Tugas utamaku hanyalah menyerahkan hidup ini sepenuhnya pada tangan belas kasih-Nya.

Bagi kamu yang mungkin sedang berada dalam gelapnya depresi, aku ingin berkata: aku tahu, kadang hidup tidak terasa seperti anugerah. Kadang sakit itu begitu menindih hingga kita hanya ingin berhenti. Tapi, bertahanlah. Lima menit demi lima menit.

Karena lima menit itu bisa menjadi jembatan menuju harapan.


✨ Kalau kamu sedang berjuang, jangan diam sendiri. Ceritakan pada seseorang yang bisa kamu percaya. Boleh juga tinggalkan komentar atau pesan kalau kamu butuh teman seperjalanan. Kamu tidak sendirian.





In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt like your life was too dirty to be touched by God? I have. Before I truly knew Him, my life was filled with casual sex, pornography, masturbation, smoking, and drinking.

Of all these, pornography and masturbation were the hardest to let go of. I would feel guilty afterward, but over time the guilt became dull, replaced by a deep exhaustion. I never imagined I could one day say “no” to men who invited me to fall again.

Yet God’s grace worked far beyond my understanding. Since 2018, I have been free from smoking and drinking. And between 2022–2024, without fully realizing how, God set me free from casual sex, pornography, and masturbation. I remember clenching my fists tightly whenever temptation came. I still don’t fully understand how it happened, but today I can testify: Praise God, I came out of it.

But my journey didn’t stop there. In 2024, I was diagnosed with schizoaffective disorder, depressive type (dd/ major depression with psychotic features). Unlike bad habits that I could resist with conscious decisions, depression pierced into my subconscious, into the darkest parts of my mind.

Sometimes a thought crosses my mind: “After all those seasons of walking with God, will I end up defeated by depression?”

The hardest part is not being able to bear my own crying — especially when it comes with that heavy, dark feeling in my chest.

Yet even in my lowest moments, I can still feel God’s hand sustaining me. My family is still healthy. I still have my job. He still answers my prayers.

Through it all I’ve learned: God is the Great Provider. My main task is simply to entrust my life completely into His merciful hands.

To anyone who might be walking through the same darkness, I want to say this: I know sometimes life doesn’t feel like a gift. Sometimes the pain presses so hard that you just want to stop. But hold on. Five minutes at a time.

Because those five minutes can become a bridge to hope.


✨ If you’re struggling, don’t stay silent. Tell someone you trust. You can also leave a comment or a message if you need a companion on the journey. You are not alone.

Selasa, 30 September 2025

Ketika Khawatir Menyergap, Aku Belajar Bersandar (When Worry Strikes, I Learn to Rely on God)

✝️ Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus

Ada masa-masa dalam hidup di mana godaan Iblis datang dalam bentuk halus: rasa khawatir.
Bukan sekadar pikiran sepele, melainkan angin kekhawatiran yang menusuk hati. Aku sering diliputi ketakutan akan masa depan—apakah aku akan menghadapi penderitaan seorang diri? Apakah aku harus menanggung beban yang terlalu berat, bahkan mungkin anak-anak dengan disabilitas? Rasa takut itu pernah membuatku menangis.

Namun, puji Tuhan, kekhawatiran ini tidak sepenuhnya menguasai hidupku. Aku masih bisa bekerja, beraktivitas, dan menjalani hari-hari.

Apa yang Aku Lakukan Saat Khawatir?

Ketika rasa khawatir itu datang, aku belajar datang kepada Tuhan. Dalam doa, aku pernah berkata, “Tuhan, kalau masa depanku memang seburuk yang aku takutkan, ambil saja nyawaku.”
Aku juga berbagi beban kepada ibuku—menyuarakan kekhawatiran itu ternyata membantu sedikit meredakan rasa sesak.

Namun di tengah itu semua, aku menyadari: aku sering lupa bahwa Allah adalah sumber rancangan damai sejahtera, sebagaimana firman-Nya:

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
(Yeremia 29:11)

Aku juga gagal meyakini sepenuhnya bahwa Allah akan memelihara hidupku. Padahal Yesus sudah berkata:

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”
(Matius 6:25–27)

Ayat ini menjadi penolongku. Saat aku kembali membacanya, hatiku perlahan menjadi lebih tenang.

Masih Belajar Memahami

Aku jujur: aku belum mengerti apa yang Tuhan sedang ajarkan lewat gelombang kekhawatiran ini. Aku pun masih sulit melihat dengan jelas bagaimana Tuhan menjagaku di saat aku benar-benar takut. Tetapi aku percaya, di balik segala rasa cemas, Dia tetap hadir.

Pesan untuk Kamu yang Sedang Khawatir

Jika hari ini kamu juga sedang diliputi rasa khawatir, ingatlah: Tuhan sudah menjanjikan masa depan yang penuh damai sejahtera. Kita memang tidak tahu hari esok, tapi kita tahu siapa yang memegang hari esok itu.

✝️ Tuhan Yesus memberkati.


✨ Call to Action (CTA)

Kalau kamu sedang mengalami pergumulan serupa, jangan pendam sendiri. Bagikan di kolom komentar atau tulis doa singkatmu—mari kita saling menguatkan dalam Kristus. 🙏



✝️ In the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit

There are seasons in life when the devil’s temptation comes in subtle form: worry.
Not just fleeting thoughts, but a heavy wind of anxiety that pierces the heart. I often find myself afraid of the future—will I face suffering all alone? Will I have to bear unbearable burdens, perhaps even raising children with disabilities? Such fears have brought me to tears.

Yet, praise God, these worries do not completely rule my life. I can still work, move, and go about my daily activities.

What Do I Do When Worry Comes?

When anxiety hits, I turn to God in prayer. At one point, I even prayed, “Lord, if my future will be as dreadful as I fear, then please just take my life.”
I also share my burden with my mother—voicing the worry helps lighten the weight a little.

But in those moments, I often forget that God is the One who holds plans of peace, just as He promised:

“For I know the plans I have for you,” declares the LORD, “plans to prosper you and not to harm you, plans to give you hope and a future.”
(Jeremiah 29:11)

I also fail to fully trust that God will sustain me, even though Jesus has already said:

“Therefore I tell you, do not worry about your life, what you will eat or drink; or about your body, what you will wear. Is not life more than food, and the body more than clothes? Look at the birds of the air; they do not sow or reap or store away in barns, and yet your heavenly Father feeds them. Are you not much more valuable than they? Can any one of you by worrying add a single hour to your life?”
(Matthew 6:25–27)

This verse comforts me. Every time I come back to it, my heart slowly finds peace.

Still Learning to Understand

Honestly, I don’t yet know what God wants to teach me through these waves of worry. I still struggle to see clearly how He is guarding me when fear overwhelms me. But I choose to believe that even in my anxiety, His presence remains.

A Message for You Who Are Anxious

If today you are also weighed down by worry, remember this: God has promised us a future filled with peace and hope. We may not know what tomorrow holds, but we know the One who holds tomorrow.

✝️ May the Lord Jesus bless you.


✨ Call to Action (CTA)

If you are walking through a similar struggle, don’t carry it alone. Share your thoughts in the comments or write a short prayer—let’s encourage one another in Christ. 🙏


Kamis, 25 September 2025

Cukupkah Kasih Karunia-Nya di Tengah Depresi? (Is His Grace Enough in the Midst of Depression? ✨)

Salam dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.

Ada satu pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul dalam hatiku: “Haruskah aku bermegah dalam kelemahanku? Haruskah aku bersaksi tentang kuasa Tuhan, bahkan di tengah depresiku?”

Sudah banyak malam pertobatan yang kulalui bersama Kristus. Aku sudah lepas dari rokok. Aku sudah lepas dari alkohol. Aku sudah lepas dari seks bebas. Aku sedang dalam proses pelepasan dari pornografi. Aku sedang dalam proses pelepasan dari masturbasi. Akhir-akhir ini, aku bersih dari dosa-dosa yang dulu begitu mengikatku.

Namun, kenyataan lain hadir: aku didiagnosa skizoafektif tipe depresi, atau depresi berat dengan ciri psikotik. Aku bergumul dengan kondisi ini sambil merenungkan perikop Paulus dalam 2 Korintus 12:1–10, tentang penglihatan dan duri dalam daging.

Aku pun bertanya dalam doa: “Apakah jangan-jangan aku diizinkan mengalami depresi agar tidak meninggikan diri atas perjalanan pertobatan ini? Bagaimana jika Tuhan berkata: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna?’”

Apa yang aku pelajari dari pergumulan ini

  1. Depresi menjadi ruang pengingat.
    Lewat depresi, aku belajar untuk tidak mengandalkan diriku sendiri. Hanya kasih karunia-Nya yang mampu menopangku.

  2. Aku bisa berani jujur.
    Aku tidak perlu menutupi depresiku. Justru, di tengah kerentanan ini, aku bisa tetap bersaksi bahwa kasih setia Tuhan nyata menopangku.

  3. Kesetiaan kecil adalah saksi besar.
    Kuasa Tuhan mungkin tidak selalu hadir lewat mujizat instan. Ia hadir lewat kesetiaan untuk tetap berdoa meski hati hampa, lewat keberanian datang ke psikiater, dan lewat komitmen meninggalkan kebiasaan lama. Semua ini adalah bukti bahwa kasih karunia bekerja.

Jadi, bagaimana caranya bermegah di tengah depresi?

Bukan dengan menolak kenyataan. Bukan juga dengan memamerkan luka. Tapi dengan mengizinkan orang lain melihat bagaimana kasih karunia Kristus menolongku bertahan dan tetap berjalan, meski langkah terasa berat.

“Sebab ketika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Korintus 12:10)

Jujur, aku berharap bisa sembuh. Karena, aku mau menikah. Aku mau punya anak yang bersih dari penyakit jiwa.  


Refleksi untukmu yang membaca:
Pernahkah engkau merasa rapuh, tapi justru di sanalah engkau melihat tangan Tuhan menopangmu? Bagaimana kalau hari ini kita belajar bermegah bukan karena kita kuat, tetapi karena kasih karunia Kristus cukup?

Kalau kamu sedang bergumul juga, aku ingin mengajakmu untuk berani jujur pada Tuhan—dan mungkin juga pada orang terdekat—tentang kelemahanmu. Percayalah, kuasa-Nya nyata dalam kerentananmu.




In the Name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.

There’s a question that has been echoing in my heart lately: “Should I boast in my weakness? Should I testify to God’s power, even in the midst of my depression?”

I have walked through many nights of repentance with Christ. I have been freed from cigarettes. I have been freed from alcohol. I have been freed from promiscuity. I am in the process of being freed from pornography. I am in the process of being freed from masturbation. Recently, I have been living clean from the sins that once tightly bound me.

Yet another reality remains: I have been diagnosed with schizoaffective disorder, depressive type—or major depressive disorder with psychotic features. I wrestle with this condition while reflecting on Paul’s words in 2 Corinthians 12:1–10, about visions and the thorn in the flesh.

I ask in prayer: “Could it be that I was allowed to experience depression so that I would not exalt myself because of this journey of repentance? What if God is saying to me: ‘My grace is sufficient for you, for My power is made perfect in weakness’?”

What I have learned from this struggle

Depression is a space of reminder.
Through depression, I learn not to rely on myself. Only His grace sustains me.

I can dare to be honest.
I don’t have to hide my depression. Instead, in this vulnerability, I can testify that God’s faithful love truly sustains me.

Small acts of faithfulness are a great witness.
God’s power does not always appear through instant miracles. It is present in the faithfulness to keep praying even when my heart feels empty, in the courage to see a psychiatrist, and in the commitment to leave behind old habits. All of these are proof that His grace is at work.

So, how do I boast in the midst of depression?

Not by denying reality. Not by showcasing my wounds. But by allowing others to see how the grace of Christ helps me endure and keep walking, even when the steps feel heavy.

“For when I am weak, then I am strong.” (2 Corinthians 12:10)

Honestly, I do hope to be healed. Because I want to get married. I want to have children who are free from mental illness.

A reflection for you who are reading this:
Have you ever felt fragile, yet in that very place, you saw the hand of God upholding you? What if today we learn to boast—not because we are strong, but because Christ’s grace is enough?

If you are also struggling, I invite you to be honest with God—and perhaps with someone close to you—about your weakness. Believe that His power is revealed in your vulnerability.


Ketika Aku Bodoh, Tuhan Tetap Baik (When I Was Foolish, God Remained Good)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu merasa bodoh sekali di hadapan Tuhan?
Aku pernah. Dan aku ingin jujur bercerita di sini—bukan untuk mengangkat diriku, tapi untuk menunjukkan betapa baiknya Tuhan kita.

Awal dari Kebodohan Itu

Suatu hari, aku menyimpan benci kepada seseorang—sebut saja Tuan. Semua berawal karena aku merasa kesaksianku di Instagram tidak diterima. Ia tidak pernah berkata langsung, tapi aku merasa tersindir lewat postingan temannya.

Padahal, aku bersaksi dengan maksud untuk kemuliaan Tuhan, terinspirasi dari renungan harian. Tapi aku memang menyeret kisah tentang Tuan, sehingga akhirnya kesaksianku bercampur dengan perasaanku sendiri.

Dari sana, aku memilih benci. Aku berkata kepada Tuhan bahwa aku ingin “bertengkar” dengan-Nya. Aku menolak mengambil Perjamuan Kudus. Aku sengaja tidak mau mengampuni Tuan—dengan harapan Tuhan juga tidak mengampuni aku, supaya aku bisa masuk neraka. Bayangkan, sebodoh itu aku!

Puncaknya: Waham dan Pengakuan di Publik

Aku baru sadar bahwa kesaksianku keliru setelah aku menyadari bahwa kesaksianku itu dibawah waham. Aku punya waham bahwa sosok “X” adalah lambang setan. Suatu malam, aku bermimpi X akan mengadukan seluruh dosaku kepada keluarga. Karena takut, aku pun mengaku dosa di hadapan publik lewat kesaksian. 

Tapi justru setelah sadar, aku semakin merasa berdosa. Kesaksian yang lahir dari waham itu ditolak Tuan, dan dari sanalah kebencianku mulai luntur.

Titik Sadar

Saat aku merasa kesepian dan seolah ditinggalkan Tuhan, aku menangis hebat. Dan justru di situlah aku sadar: bagaimana mungkin aku pernah memilih neraka dan jauh dari Tuhan, padahal kesepian kecil saja sudah begitu menghancurkan aku?

Tuhan tetap baik. Keluargaku masih sehat. Aku masih bisa bekerja dan menerima gaji. Bahkan doaku dikabulkan—aku berdoa ingin bisa curhat dengan Romo, dan Tuhan memberikannya.

Aku Menangis, Tuhan Menyambut

Akhirnya aku hanya bisa menangis, memohon ampun, meminta Tuhan kembali. Karena sungguh, aku tidak tahan sendirian dan ditinggalkan-Nya.

Dan aku belajar: kebodohan manusia tidak pernah bisa mengalahkan kasih Tuhan.


💡 Refleksi untuk kita semua
Mungkin kamu juga pernah merasa bodoh, salah langkah, bahkan memberontak terhadap Tuhan. Jika iya, ingatlah: kamu tidak sendirian. Tuhan tidak berubah setia, bahkan saat kita jatuh ke dalam kebodohan kita sendiri.

👉 Mari kita kembali pada-Nya, memohon ampun, dan bersandar hanya kepada kasih-Nya. Karena hanya di dalam Dia, kita menemukan damai sejati.

Damai Kristus besertamu. ✝️




In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever felt utterly foolish before God?
I have. And I want to honestly share this here — not to lift myself up, but to show how good our God truly is.

The Beginning of That Foolishness

One day, I harbored hatred toward someone — let’s call him Mr. T. It all started because I felt my testimony on Instagram was not accepted. He never said it directly, but I felt hurt by a post from one of his friends.

The truth is, I testified with the intention of glorifying God, inspired by my daily devotion. But I dragged Mr. T’s story into it, and my testimony became mixed with my personal feelings.

From there, I chose hatred. I told God that I wanted to “quarrel” with Him. I refused to take Holy Communion. I deliberately wouldn’t forgive Mr. T — hoping that God would refuse to forgive me too, so I could end up in hell. Imagine how foolish I was!

The Peak: Delusion and Public Confession

I only realized my testimony was wrong after I understood it had come from a delusion. I had a delusion that the figure “X” was a symbol of Satan. One night I dreamed X would report all my sins to my family. Out of fear, I confessed my sins publicly through that testimony.

But when I came to my senses, I felt even more guilty. The testimony born of delusion was rejected by Mr. T, and from there my hatred began to fade.

The Moment of Awakening

When I felt lonely and seemingly abandoned by God, I wept bitterly. And in that breaking, I realized: how could I ever choose hell and separation from Him, when even a small taste of loneliness was already tearing me apart?

God remained good. My family is still healthy. I can still work and receive a salary. Even my prayer was answered — I prayed for someone I could confide in, a priest, and God gave me that.

I Wept, and God Welcomed Me

In the end, all I could do was cry, ask forgiveness, and beg God to come back to me. Truly, I cannot bear being alone and abandoned by Him.

And I learned: human foolishness can never overcome God’s love.

💡 Reflection for all of us
Maybe you have felt foolish, taken a wrong turn, or even rebelled against God. If so, remember: you are not alone. God’s faithfulness does not change, even when we fall into our own foolishness.

👉 Let us return to Him, ask for forgiveness, and lean wholly on His love. For only in Him do we find true peace.

May the peace of Christ be with you. ✝️


Selasa, 23 September 2025

Diterima Apa Adanya: Pergumulan tentang Pasangan Hidup dan Kesehatan Mental (Accepted As I Am: A Struggle About Love and Mental Health)

✝️ Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernahkah kamu bertanya dalam hati: “Kalau aku tidak sempurna, masih adakah yang mau menerimaku?”

Pertanyaan ini belakangan sering menghantui aku, terutama soal pasangan hidup. Dua bulan terakhir, aku berkali-kali bertanya dalam doa: Apakah ada pria yang bisa menerima aku, meski aku harus bolak-balik kontrol psikiater?

Sampai akhirnya, aku memberanikan diri bertanya di sebuah grup mencari jodoh, Batak Hasian. Pertanyaanku sederhana, tapi penuh beban:

“Apakah mau menerima perempuan yang bolak balik kontrol psikiater?”

Jawaban yang masuk ternyata beragam.
Ada yang berkata, “Tidak. Sembuh dulu. Ada rasa kebanggaan kalau bisa sembuh sendiri. Realistis aja mencari cinta yang setara.”
Tapi ada juga yang berkata, “Kenapa tidak? Kan harus disupport.”

Membaca jawaban pertama, jujur aku gugup, khawatir, cemas, bahkan takut. Pikiran itu berbisik, “Apakah aku akan menjomblo di sisa hidupku?”
Namun membaca jawaban kedua, hatiku sedikit tenang. Setidaknya, ada harapan—masih ada laki-laki di luar sana yang bisa menerima aku apa adanya.

🌿 Kerinduan terdalamku sederhana: pasangan yang mencintaiku tanpa syarat, menerima masa laluku, menerima kondisi kesehatan mentalku. Aku berharap ia bertanggung jawab, tidak kasar, setia, minimal berpendidikan, dan yang paling penting: rajin beribadah.

Sejujurnya, aku masih kesulitan melihat penyertaan Tuhan di tengah kerinduanku ini. Kadang rasanya gelap dan berat. Tapi aku percaya satu hal: Tuhan tidak pernah meninggalkan aku di tengah perjalanan hidup ini.

Untuk teman-teman yang mungkin juga takut ditolak karena sakit—baik fisik maupun mental—aku ingin berkata: kamu tidak sendirian. Andalkan Tuhan, bawa semua ketakutan itu ke hadapan-Nya. Aku tidak bisa menjamin apa pun, tapi aku tahu dengan pasti: Tuhan kita adalah Allah yang Maha Mendengar dan Pengabul doa.

🌸 Harapanku: semoga kita semua, dengan segala kelemahan kita, boleh menemukan pasangan yang tepat dan membangun rumah tangga yang diberkati. Amin.


✨ Kalau kamu merasa tulisan ini menyentuh hatimu, jangan simpan sendiri. Bagikan pada teman yang sedang khawatir soal masa depan dan pasangan hidupnya. Siapa tahu, sedikit penguatan ini bisa jadi jawaban doa mereka.





✝️ In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

Have you ever asked yourself: “If I’m not perfect, would anyone still accept me?”

This question has been haunting me lately, especially when it comes to marriage. For the past two months, I’ve been praying and wondering: Is there a man who could accept me, even though I need to see a psychiatrist regularly?

Eventually, I gathered the courage to ask this in a matchmaking group called Batak Hasian. My question was simple, yet heavy with meaning:

“Would you accept a woman who regularly visits a psychiatrist?”

The answers varied.
Some said: “No. Get better first. There’s pride in being able to heal on your own. Be realistic—find someone on your level.”
But others replied: “Why not? She needs to be supported.”

Reading the first answer, I honestly felt nervous, anxious, worried—even afraid. A thought whispered: “Will I end up single for the rest of my life?”
But when I read the second answer, I felt some peace. At least there is hope—that somewhere out there, there are men willing to accept me just as I am.

🌿 My deepest longing is simple: a partner who loves me unconditionally, who accepts my past, and my mental health condition. I hope he is responsible, gentle, faithful, educated, and—most importantly—devoted to his faith.

Truthfully, I still struggle to see God’s guidance in the middle of this longing. Sometimes it feels dark and heavy. But one thing I know for sure: God has not abandoned me on this journey.

To anyone who fears rejection because of illness—whether physical or mental—I want to tell you this: you are not alone. Rely on God, bring all your fears before Him. I can’t promise outcomes, but I know for certain: our God is a God who hears and answers prayers.

🌸 My hope: that all of us, with our weaknesses, may find the right partner and build a family that is blessed. Amen.


✨ If this writing speaks to your heart, don’t keep it to yourself. Share it with a friend who’s worried about their future and relationships. Who knows—these words of encouragement might just be the answer to their prayer.


Rabu, 17 September 2025

Kesaksian: Menemukan Tuhan dalam Lagu Lonely (Testimony: Finding God in the Song Lonely)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

What if you had it all
But nobody to call?
Maybe then you'd know me
'Cause I've had everything
But no one's listening
And that's just lonely…

Setiap kali mendengar lagu Lonely dari Justin Bieber, hatiku seperti ditelanjangi. Ada bagian dari diriku yang tercermin begitu nyata dalam lirik itu—bahkan mungkin lebih parah dari yang dinyanyikan.

Aku sadar, kasih karunia Tuhan begitu melimpah dalam hidupku. Aku masih punya orangtua dan adik yang selalu siap mendengarkan ceritaku. Tapi anehnya, meski ada mereka, kesepian tetap saja menghantui. Ada ruang hampa yang tak mudah diisi.

Tidak Dilihat Apa Adanya

Dalam perjalanan hidupku, sering aku merasa tidak benar-benar terlihat. Keluargaku tidak mengenalku sepenuhnya. Teman-teman hanya tahu sebagian kisahku: bahwa aku pernah menjadi perokok, pemabok, dan mencari cinta di jalan yang salah sampai kehilangan kegadisan.

Tapi mereka tidak tahu sisi lainku: seorang aku yang diam-diam sering menyakiti diri sendiri saat sendirian. Inilah wajah kesepianku yang tak terlihat orang lain.

Hampa, Tapi Tidak Sendiri

Lagu ini membuatku merasa hampa sekaligus terluka. Namun, aku juga menemukan penghiburan: bahwa aku tidak sendirian dalam kesepian. Ada orang lain yang pernah menjerit dengan rasa sepi yang sama.

Kalau aku bisa menulis surat kepada “diriku yang kesepian”, aku ingin bertanya:

“Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kamu sudah terlalu lelah? Apakah lukamu sudah sembuh? Apakah kamu sudah bisa merelakan dia yang pergi meninggalkanmu?”

Bertahan dengan Cara yang Baru

Di masa sepi ini, aku belajar bertahan dengan cara yang lebih sehat: menulis, mendengarkan lagu, dan chatting dengan keluargaku. Aku percaya, pengalaman ini adalah sarana pertobatan.

Waktu kuliah dulu, ketika kesepian datang, aku memilih pelarian yang salah—rokok dan minuman keras. Kini, Tuhan memberi kesempatan kedua: untuk memilih jalan yang lebih baik.

Pesan untuk Kamu yang Membaca

Aku ingin berbagi satu hal: setiap orang punya masa sepinya masing-masing.
Kalau kamu sedang berada di titik itu, percayalah—kamu tidak sendirian dalam perjalanan ini.

💌 Jika kamu juga sedang merasa hampa dan kesepian, jangan biarkan dirimu berjalan sendirian. Carilah seseorang untuk berbicara. Menulislah. Dengarkan lagu yang bisa menenangkanmu. Dan yang terpenting, datanglah pada Tuhan.

Sebab, di tengah kesepian terdalam, Dia tetap melihatmu apa adanya.




In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

What if you had it all
But nobody to call?
Maybe then you'd know me
'Cause I've had everything
But no one's listening
And that's just lonely…

Every time I listen to Justin Bieber’s Lonely, my heart feels exposed. There’s a part of me that resonates so deeply with those lyrics—perhaps even worse than what the song describes.

I realize that God’s grace overflows in my life. I still have my parents and my sibling, who are always willing to listen to my stories. Yet strangely, even with them around, loneliness still lingers. There’s an emptiness inside me that isn’t easy to fill.

Not Truly Seen

Throughout my life, I often felt unseen. My family didn’t really know me as I truly was. My friends only knew part of my story: that I used to smoke, drink, and seek love in the wrong places until I lost my purity.

But they never knew the other side of me—the one who often hurt herself in silence when no one was watching. This is the face of my loneliness that remained invisible to others.

Empty, Yet Not Alone

This song leaves me feeling empty and wounded, yet it also brings comfort: I’m not the only one walking through this kind of loneliness. Someone else once cried out with the same pain.

If I could write a letter to my “lonely self,” I would ask:

“How are you today? Are you already too tired? Have your wounds begun to heal? Have you been able to let go of the one who left you?”

Learning to Endure in New Ways

In this season of loneliness, I’ve learned to endure in healthier ways: by writing, listening to music, and chatting with my family. I believe this experience has become a path of repentance.

Back in college, when loneliness came, I chose the wrong escapes—smoking and drinking. But now, God has given me a second chance: to choose what is better.

A Message for You Who Are Reading

I want to share this truth: everyone has their own season of loneliness.
If you’re going through that right now, please believe this—you are not walking alone.

💌 If you are feeling empty and lonely, don’t let yourself carry it all by yourself. Find someone you can talk to. Write it down. Listen to music that soothes your soul. And most importantly, draw near to God.

Because in the deepest loneliness, He still sees you—just as you are.

Berdiri di Tengah Badai: Kesaksian dari Hati yang Sepi (Standing in the Midst of the Storm: A Testimony from a Lonely Heart)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Ada kalanya hidup terasa seperti badai. Kita tahu harus bertahan, tapi tubuh, hati, dan jiwa seolah sudah lelah. Lagu yang akhir-akhir ini menemani saya berbunyi:

Ku kan berdiri di tengah badai
Dengan kekuatan yang Kau berikan
Sampai kapan pun
Ku kan bertahan karna Yesus selalu menopang

Ku kan bertahan dalam tekanan
Dengan kekuatan yang Kau berikan
Sampai kapanpun tak tergoyahkan
Karna Yesus selalu menopang hidupku

Badai yang Saya Hadapi

“Badai” apa yang paling terasa dalam hidupmu saat ini?
Kalau saya, badai itu bernama kesepian.

Kesepian ini sering menggoda saya untuk pulang lebih cepat dari jadwal Tuhan. Ada hampa, kekosongan, dan senyum yang jarang sekali muncul—padahal dulu saya sering tertawa lepas.

Saya sadar, saya tidak cukup kuat dengan kekuatan saya sendiri. Tapi jujur, kadang saya merasa Tuhan begitu jauh. Saya tahu Kristus masih mendengar doa saya, bahkan menjawabnya, tetapi setelah itu… keheningan kembali menghampiri.

Di titik ini, saya bahkan tidak yakin bisa bertahan. Namun, ketika mengingat keluarga saya—betapa mereka akan sedih jika saya pulang sendirian—itu membuat saya tetap berpijak.

Antara Keyakinan dan Keraguan

Lirik lagu ini seharusnya menguatkan. Tetapi saya tidak menutup-nutupi, sering kali saya masih merasa tidak yakin dengan penyertaan Tuhan. Hati saya sedih sekali.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang tetap saya pegang: saya masih mau menyembah-Nya. Sekalipun iman ini rapuh, saya tetap ingin memuji Dia.

Untuk Kamu yang Membaca

Jika ada teman-teman yang saat ini berada di badai yang sama—merasa sepi, merasa Tuhan jauh, merasa goyah—kamu tidak sendiri. Saya juga ada di titik ini.

Mari kita tetap bertahan, meski dengan iman sekecil biji sesawi. Kiranya Kristus segera memulihkan kita.

Amin.
Damai Kristus besertamu.


Call-to-Action (CTA):
Kalau kamu juga pernah atau sedang merasa di tengah badai, tuliskan di kolom komentar apa yang menguatkanmu. Siapa tahu kesaksianmu bisa jadi penghiburan bagi orang lain yang sedang berjuang.










In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.

There are moments in life that feel like a storm. We know we have to stand strong, but our body, heart, and soul feel exhausted. A song that has been accompanying me lately says:

I will stand in the midst of the storm
With the strength You have given
Forever I will endure
For Jesus always sustains me

I will endure under pressure
With the strength You have given
Forever unshaken
For Jesus always sustains my life

The Storm I Face

What “storm” do you feel in your life right now?
For me, the storm is called loneliness.

This loneliness often tempts me to go home earlier than God has scheduled. I feel empty, hollow, and laughter has become rare—while I used to laugh so freely.

I realize I am not strong enough on my own. Yet honestly, at times I feel God is so distant. I know Christ still listens to my prayers, even answers them, but after that… silence returns.

At this point, I am not even sure I can endure. But when I remember my family—how sad they would be if I went home alone—that gives me reason to keep standing.

Between Faith and Doubt

This song’s lyrics should strengthen me. But I won’t hide it—many times I still feel uncertain about God’s presence. My heart feels so heavy and sad.

Yet even in the midst of it all, there is one thing I hold on to: I still want to worship Him. Even if my faith feels fragile, I still want to praise Him.

To You Who Are Reading

If you, dear friends, are in the same storm—feeling lonely, feeling God is far, feeling shaken—you are not alone. I am right here too.

Let us continue to endure, even with faith as small as a mustard seed. May Christ bring restoration to us soon.

Amen.
The peace of Christ be with you.


Call-to-Action (CTA):
If you’ve ever felt or are currently in the midst of a storm, share in the comments what has strengthened you. Your testimony might become the very encouragement someone else needs.

Minggu, 14 September 2025

Kesaksian dari Bangsal Psikiatri: Di Mana Aku Belajar Bersyukur dan Bersandar pada Tuhan (A Testimony from the Psychiatric Ward: Where I Learned to Be Grateful and Lean on God)

“Bagaimana rasanya dirawat di bangsal psikiatri?”
Mungkin itu pertanyaan yang jarang kita dengar, bahkan tabu untuk ditanyakan. Tapi aku ingin jujur—karena siapa tahu kisah ini bisa menemani seseorang yang sedang berada di titik paling gelap dalam hidupnya.

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Semoga tulisan ini dapat menemanimu, terutama bagi yang saat ini sedang berjuang dari balik pintu bangsal psikiatri.


Pengalaman Dirawat di Bangsal

Pada tanggal 30 Agustus – 09 September 2025, aku dirawat inap di bangsal psikiatri karena dorongan mengakhiri hidup yang begitu kuat. Aku merasa malu ketika menyadari bahwa aku membutuhkan perawatan ini. Namun, justru dari tempat itulah aku belajar banyak hal.

Setiap pasien membawa ceritanya sendiri. Ada yang sedang berjuang dengan kanker, ada yang kehilangan kedua orangtuanya, ada yang konflik rumah tangga, bahkan ada yang mengalami overdosis. Ada juga seorang ibu hamil yang harus dirawat di sana. Melihat mereka, aku tersadar—mereka menghadapi beban yang jauh lebih berat, tetapi tetap berjuang untuk hidup.


Ketakutan dan Kesunyian

Hal yang paling kutakuti selama dirawat adalah konflik antar pasien. Setiap kali ada yang marah-marah, aku langsung terpicu dengan ingatan KDRT yang dulu kualami di rumah. Itu membuatku semakin sulit merasa aman.

Selain itu, aku tidak bisa dikunjungi, tidak bisa bertemu siapapun, tidak boleh menggunakan ponsel, bahkan tidak ada banyak kegiatan untuk mengalihkan pikiran. Hari-hari terasa begitu jenuh dan panjang.


Titik Syukur Kecil

Namun, di tengah keterbatasan itu, aku justru belajar bersyukur untuk hal-hal kecil.
Aku bersyukur masih punya ponsel, punya sandal, bisa makan dengan garpu, tubuhku masih sehat, dan memiliki orangtua yang selalu mendukungku.

Syukur kecil inilah yang perlahan-lahan menumbuhkan kembali harapan dalam diriku.


Harapan yang Membuatku Bertahan

Selama perawatan, aku mulai menemukan kembali stabilitas. Aku sadar masih punya mimpi yang ingin kucapai—aku ingin punya rumah dengan halaman luas, tempat aku bisa memelihara burung kakatua, macaw, cockatiel, ayam pheasant, merak, dan juga kolam koi.

Selain itu, keluargaku adalah alasan terbesarku bertahan. Aku tidak bisa membayangkan harus berjalan tanpa mereka.


Tuhan Mengisi Jiwaku yang Kering

Di bangsal itu, aku sempat membaca buku Kuasa Doa Seorang Wanita. Dari buku itu aku disadarkan bahwa jiwaku kering, dan hanya Yesus yang bisa memulihkannya.

Aku juga sadar bahwa semangatku sudah pudar. Dan semangat yang pudar hanya bisa dipulihkan dengan memuji Tuhan. Aku sering lupa bersuka cita, padahal sukacita sejati hanya datang ketika aku menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.


Penutup: Harapan dari Bangsal

Aku sungguh berharap pengalaman ini menjadi yang pertama sekaligus terakhir bagiku untuk dirawat inap di bangsal psikiatri. Tapi jika pun ada yang harus melalui jalan ini lagi, aku ingin mengatakan:

Kamu tidak sendirian. Tuhan tidak pernah meninggalkanmu. Ada harapan, ada masa depan, bahkan dari balik jeruji bangsal yang tampak menyesakkan.


Call to Action

Kalau kamu sedang membaca ini dan merasa hidupmu berat, aku ingin mengajakmu:

  • Beranilah mencari pertolongan, itu bukan aib.

  • Hargailah hal-hal kecil di sekitarmu—sebab syukur bisa menjadi jembatan menuju harapan.

  • Dan yang paling penting, serahkan dirimu pada Tuhan, karena hanya Dia sumber sukacita sejati.

🙏 Semoga kisah ini bisa menemanimu, menguatkanmu, atau menjadi pengingat bahwa hidup, betapapun beratnya, tetap layak diperjuangkan.




“What does it feel like to be admitted to a psychiatric ward?”
It’s a question rarely asked, maybe even considered taboo. But I want to share honestly—because perhaps this story can accompany someone who is walking through the darkest season of their life.

In the name of the Father, the Son, and the Holy Spirit.
May this writing be a companion to you, especially if you are currently struggling behind the doors of a psychiatric ward.


My Days in the Ward

From August 30 – September 9, 2025, I was admitted to the psychiatric ward due to strong suicidal urges. I felt ashamed when I realized I needed this kind of treatment. Yet, it was there that I learned many things.

Every patient had their own story. Some were battling cancer. Some had lost both parents. Others were facing marital conflict or had overdosed in an attempt to end their lives. There was even a pregnant woman being treated in the ward. Seeing them, I realized—they were carrying burdens far heavier than mine, yet they kept fighting to live.


Fear and Loneliness

My biggest fear during treatment was conflicts among patients. Every time someone got angry, it triggered me deeply, reminding me of the domestic violence I had witnessed in my family when I was younger. It was hard to feel safe.

On top of that, I wasn’t allowed to have visitors, couldn’t meet anyone, couldn’t use my phone, and had very limited activities to pass the time. The days felt long and suffocating.


The Gift of Small Gratitudes

And yet, in the middle of those restrictions, I learned to be grateful for the smallest things.
I was grateful to still have a phone.
Grateful for a pair of sandals.
Grateful for a fork to eat with.
Grateful that my body was still healthy.
Grateful for parents who remained supportive and responsive to my needs.

These small gratitudes slowly rekindled hope within me.


The Dreams that Kept Me Alive

During treatment, I began to find stability again. I realized I still had dreams to pursue—I longed to own a house with a wide yard, where I could care for parrots, macaws, cockatiels, pheasants, peacocks, and a koi pond.

Above all, my family was my greatest reason to stay alive. I couldn’t imagine walking this road without them.


When God Restored My Dry Soul

In the ward, I came across a book titled The Power of a Praying Woman. Through it, I realized that my soul was dry, and only Jesus could restore it.

I also realized that my spirit had faded. And a faded spirit can only be renewed through praising God. I had forgotten how to rejoice, when in fact, true joy only comes when I surrender myself fully to Him.


Closing: A Hope from the Ward

I deeply hope that this will be my first and last experience of being admitted to a psychiatric ward. But even if someone else has to walk this path, I want to say:

You are not alone. God has never left you. There is hope, there is a future—even from behind the locked doors of a ward that feels suffocating.


Call to Action

If you are reading this and life feels unbearably heavy, I want to invite you to:

  • Be brave enough to seek help—it is not shameful.

  • Cherish the small things around you—gratitude can be a bridge to hope.

  • And most importantly, surrender yourself to God, for He alone is the source of true joy.

🙏 May this story be a companion to you, a source of strength, or a reminder that life, no matter how heavy it feels, is still worth fighting for.

Tuhan Menyembuhkan, Bahkan Saat Aku Merasa Jauh (God’s Healing, Even When I Feel Far From Him)

Salam dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kadang pemulihan tidak datang lewat mukjizat besar, tapi lewat satu kalimat sederhana dari oran...